HAIBUNDA SQUAD
Berdamai Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus, Menerima & Menanggapi Lingkungan Sekitar
Asri Ediyati | HaiBunda
Sabtu, 27 Mar 2021 12:47 WIBPada 21 Maret lalu, dunia merayakan Hari Down Syndrome Sedunia. Bicara soal anak berkebutuhan khusus, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang mendampinginya.
Kali ini, acara HaiBunda Squad membahas tentang Hidup Bersama Anak Berkebutuhan Khusus yang diadakan pada Sabtu, 27 Maret 2021. Bunda dari anak berkebutuhan khusus Rahayu Saraswati bersama Dra.Anisa Cahya Ningrum, Psikolog, selaku founder Cahya Communication dan Tim Khusus IC4RD, berbicara tentang cara menerima dan menanggapi lingkungan sekitar.
Sara, panggilan akrabnya, menceritakan bagaimana ia mendapat pemberitahuan dari dokter ketika ia bakal dikaruniai anak down syndrome. Setelah mendapat kabar tersebut, ia menangis selama dua jam karena khawatir bagaimana lingkungan sekitar bisa menerima kondisi anaknya.
"Banyak yang berasumsi, saya sedih mendapatkan anak seperti itu. Saya punya keponakan autisme jadi terbiasa. Saya sedihnya itu hanya satu, dengan segala hal. Saya memikirkan dunia siap enggak sih menerima dia. Dia bisa enggak ya, dia bahagia enggak ya," kata Sara.
Beruntung, Sara memiliki values yang sama dengan suaminya. Ia bersyukur saat itu, suaminya mau berjuang bersama untuk merawat anak bungsunya yang spesial itu.
"Puji Tuhan saya sama suami saya, punya values yang sama. Saya bersyukur sekali dia mau. Saya ingat hanya satu kalimat saja (yang dikatakan), 'Selama anak kita mau berjuang, kita akan berjuang.'" ucap Sara.
Seiring waktu, Sara justru memberikan dukungan pada para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Ia pun kali ini memberikan tips untuk bisa menerima diri sendiri, berkomunikasi dengan pasangan, dan cara menanggapi lingkungan sekitarnya.
"Nomor satu saran saya jangan dibanding-bandingkan. Waktu melahirkan dia, saya lihat perkembangannya dia sendiri. Yang penting dia sehat. Bagaimana dia menerima dia apa adanya. Itu mempengaruhi anak itu, merasa safety, aman," ucap Sarah.
Selain itu, yang tak kalah penting adalah doa. Doa begitu penting ketika pasangan tidak satu frekuensi dalam menerima anak berkebutuhan khusus. "Itu penting sekali. Kita hanya meminta, kita enggak bisa memaksa orang berubah. Kita bisa berdoa untuk dia (pasangan) bisa membuka hatinya," kata Sarah.
Bagaimana dari sisi psikologi? Anisa mengatakan, pastinya banyak variasi perasaan yang muncul. "Maksudnya apa? Enggak apa-apa kamu enggak sendiri," kata Anisa.
"Ada yang denial (menyangkal), banyak ibu marah-marah pada diri sendiri, Tuhan. Enggak pingin bahas topik itu. Muncul perasaan salah, nangis berkepanjangan. It's okay, itu tahapan wajar yang dilalui, sampai fase acceptance (penerimaan)," ucapnya.
Nah, berbagai tahapan perasaan yang dilalui itu hanya merupakan satu dari sekian tantangan yang bakal dihadapi orang tua. Ada tantangan lainnya seperti stigma dari keluarga dan sosial, fluktuasi relasi suami istri. Lalu, ada proses panjang perawatan anak, dan penanganan anak yang lain.
Sambil terus fokus mengasuh Si Kecil yang berkebutuhan khusus, Anisa selalu menyarankan untuk mengoptimalkan terapi terlebih dahulu. Barulah, memberikan edukasi di media sosial tentang anak berkebutuhan khusus.
"Sebenarnya cukup jawab 'iya' saja sudah cukup membuat orang sekitar tidak menggali-gali lagi. Tidak perlu saling menyindir," saran Anisa untuk Bunda yang menghadapi stigma dari sosial.
Yang terpenting, menurut Anisa dan Sara, adalah believe system. Memiliki pemahaman itu penting, Bunda. Kenapa?
"Itu artinya kami diberikan amanah, tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak istimewa. Tuhan pasti memberikan tantangan berat kepada pejuang-pejuangnya yang istimewa. Karena tidak mungkin melebihi kapasitas kemampuannya," ucap Sara.
Simak video di bawah ini, Bun:
Cerita Joanna Alexandra Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Rerun! HaiBunda Squad Online Bersama Anak Berkebutuhan Khusus
Join Sekarang! Serunya HaiBunda Squad Bersama Anak Berkebutuhan Khusus
Please, Jangan Ucapkan 15 Kalimat Ini pada Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus
Hidup Bersama Anak Berkebutuhan Khusus, Jangan Lupa Bahagia Bunda
TERPOPULER
Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi
7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja
5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama
Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat
200 Pertanyaan Lomba Cerdas Cermat seputar Kemerdekaan 17 Agustus 2026, Soal Tingkat SD-SMP
REKOMENDASI PRODUK
5 Wajan & Panci untuk Kompor Listrik Induksi, Awet & Anti Lengket
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Susu UHT untuk Ibu Hamil
Amrikh PalupiREKOMENDASI PRODUK
7 Aksesori Anak untuk Karnaval Kemerdekaan 17 Agustus, Bikin Makin Gemas
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci MPASI yang Bagus & Aman untuk Bayi
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Antena TV Digital Terbaik untuk Daerah Susah Sinyal, Mulai dari Rp80 Ribuan!
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi
Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat
5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama
7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja
5 Kebiasaan Ini Bisa Melatih Kecerdasan EQ di Tempat Kerja
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Cabin Hotel di Pulau Payung Kepulauan Seribu, Tawarkan Aktrasi Wisata Seru
-
Beautynesia
4 Tanda Kalau Otak Butuh Istirahat
-
Female Daily
Boleh Nggak Pakai Retinol Saat Sedang Jerawatan? Ini Jawabannya!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Meghan Markle Pakai Anting Putri Diana Saat Momen Langka dengan Pangeran Harry
-
Mommies Daily
10 Kreasi dari Sedotan untuk Anak SD, Murah, Seru, dan Edukatif