kehamilan

Cerita Ibu Hamil yang Terancam Keguguran Jika Traveling

Melly Febrida Selasa, 26 Dec 2017 16:00 WIB
Cerita Ibu Hamil yang Terancam Keguguran Jika Traveling
Nairobi, Kenya - Ini adalah cerita seorang ibu hamil yang punya risiko besar keguguran jika melakukan traveling. Hmm, apa yang membuat ibu ini punya risiko keguguran ya?

Ibu hamil tersebut bernama Karen Barasa. Selama ini dia tinggal di Kigali, dan saat musim liburan ini, dia ingin sekali bisa menghabiskannya di daerah asalnya, Kenya. Tapi, ketika periksa ke dokter kandungan, Karen malah disarankan untuk nggak melakukan perjalanan jauh karena bisa membahayakan kehamilannya.

Usur punya usut, Karen sudah bertahun-tahun berusaha hamil, tapi fibroid membuatnya sulit hamil. Fibroid adalah tumor jinak dari jaringan otot dan fibrosa yang berkembang di dinding rahim. Fibroid memang bisa bikin seorang perempuan sulit hamil, dan kalaupun hamil pun risiko keguguran bisa meningkat.


Alasan riwayat fibroid pada Karena inilah yang membuat dokter memberikan peringatan untuk Karen untuk tidak melakukan traveling.

"Saya di trimester pertama, jadi saya pikir melakukan perjalanan tidak akan berpengaruh pada kehamilan saya. Tapi, dokter menyarankan saya untuk membatalkan rencana itu karena berisiko tinggi keguguran jika saya melakukan perjalanan jarak jauh. Dia menjelaskan kepada saya bahwa kondisi fibroid saya adalah risikonya," kata Karen seperti dilansir Newtime.



Menjelang Natal dan Tahun Baru ini memang banyak yang berencana liburan ke luar negeri bersama orang tercinta ataupun keluarga ya Bun. Tapi, pakar kesehatan memperingatkan ibu hamil yang ingin melakukan perjalanan. Tindakan pencegahan harus dilakukan jika ibu hamil harus melakukan perjalanan jauh, bahkan meski kehamilannya normal dan tidak memiliki riwayat komplikasi.

dr Iba Mayele, seorang ginekolog menjelaskan meskipun ibu hamil aman untuk bepergian jauh, disarankan untuk menggunakan cara tertentu. "Tidak ada alasan untuk tidak bepergian saat Anda hamil. Tapi jika Anda berencana bepergian lebih dari sepuluh jam, mungkin lebih baik melakukan perjalanan lewat udara," saran dr Mayele.

Kalau duduk di kendaraan dalam jangka waktu cukup lama, kaki dan pergelangan kaki ibu hamil juga akan rentan mengalami pembengkakan.

dr Mayele juga merekomendasikan agar ibu hamil merencanakan perjalanan terlebih dahulu dan memesan tempat duduk yang nyaman untuk kondisinya. Kalau ibu hamil ingin menyetir alias berada di belakang kemudi, dr Mayele menyarankan untuk beristirahat setidaknya setiap 90 menit.



"Saat kehamilan semakin tua dan perut semakin besar, ibu hamil mungkin lebih suka membiarkan orang lain yang mengemudi. Soalnya perut yang membesar bisa bikin nggak nyaman saat harus duduk di belakang kemudi," tambah dr Mayele.

Usia Kehamilan yang Aman untuk Bepergian

dr Kenneth Ruzindana seorang konsultan ginekolog dan dokter kandungan di rumah sakit Kibagabaga mengatakan bepergian saat hamil sebenarnya aman, terutama jika kehamilannya normal atau sehat. Namun, ia menganjurkan ibu hamil berkonsultasi terlebih dahulu dengan petugas medis sebelum melakukan perjalanan jarak jauh.

"Anda perlu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum melakukan perjalanan karena ada beberapa kejadian di tempat yang tidak aman untuk jalani," kata dr Ruzindana.

Ia mencontohkan kehamilan yang berisiko tinggi itu misalnya ketika seseorang memiliki placenta previa atau memiliki komplikasi seperti preeklampsia dan hipertensi saat hamil. Kesemua kondisi itu mensyaratkan konsultasi ke dokter sebelum bepergian,

Menurut dr Ruzindana, trimester pertama, yaitu dari usia kehamilan 0-14 minggu lebih aman melakukan perjalanan. Kecuali kalau ada keluhan ringan seperti morning sickness dan kelelahan, maka nggak nyaman bagi ibu hamil di trimester pertama untuk melakukan perjalanan.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Obstetri & Ginekologi (The Center for Obstetrics & Gynecology/COG), Rhode Island USA, menggarisbawahi ibu hamil biasanya aman untuk melakukan perjalanan selama delapan bulan pertama kehamilan.

"Umumnya, waktu teraman untuk melakukan perjalanan selama kehamilan adalah trimester kedua (13 sampai 28 minggu). Pada saat ini, Anda mungkin merasa lebih nyaman dan risiko keguguran atau persalinan prematur juga berkurang. Hindari bepergian dalam jarak jauh selama dua atau tiga minggu terakhir sebelum hari perkiraan lahir," saran penelitian tersebut.

Penelitian ini juga memperingatkan agar tidak menggunakan obat-obatan, termasuk obat-obatan tanpa resep, tanpa izin dari petugas kesehatan.

Selain itu, Bun, makanan mungkin tidak dapat diprediksi saat bepergian. Jadi sebaiknya membawa makanan ringan yang sehat. Saat traveling, ibu hamil juga dianjurkan banyak minum air. Jangan lupa untuk membawa buku catatan prenatal juga ya, Bun,

"ika harus duduk untuk waktu yang lama, seringlah menaikkan kaki Anda. Berjalan dan menggerakkan lengan Anda akan meningkatkan aliran darah ke dalam tubuh. Ini bisa mencegah bekuan darah yang terbentuk di kaki dan panggul.

Untuk bunda yang sedang hamil tua, dr Alfiben, SpOG dari RS Permata Depok, mengatajan, ibu sebenarnya tidak apa-apa melakukan perjalanan jauh. Yang penting Bunda tidak kecapaian selama perjalanan.

"Bagi ibu hamil yang hendak berpergian dengan pesawat sudah ada peraturan maksimal 34 minggu, namun lebih baik 32 minggu, karena berisiko terjadi kelahiran di pesawat atau risiko lainnya," terang dr Alfiben. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi