Sign Up search


kehamilan

Cara Menghitung Kalender Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan

Dwi Indah Nurcahyani Jumat, 19 Jul 2019 17:32 WIB
Cara Menghitung Kalender Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan
Jakarta - Tak sedikit Bunda yang enggan menggunakan kontrasepsi hormonal karena berbagai alasan. Berbagai kekhawatiran menjadi pertimbangan untuk menggunakan KB alami.

Salah satunya menggunakan hitungan kalender, dengan mencatat masa subur. Lalu, seberapa efektif metode ini bekerja mencegah kehamilan?

"Metode kalender merupakan metode mengontrol kehamilan yang bekerja dengan melacak siklus menstruasi wanita sehingga mereka tahu kapan masa subur atau ketika seorang wanita berovulasi yakni sekitar 14 hari dari siklus bulanan wanita. Metode ini pun dapat digunakan untuk mencegah kehamilan," ujar Emma McGowan, seorang sex educator, dikutip dari Bustle.


Untuk mengetahui siklus bulanan, sebelumnya perlu Bunda ketahui bahwa setiap wanita memiliki siklus mentruasi yang berbeda-beda. Namun normalnya, rata-rata terjadi antara 28-30 hari. Penting juga Bunda ketahui bahwa dalam siklus bulanan tersebut kemungkinan kehamilan pun bisa saja terjadi.

Cara Menghitung Kalender Masa Subur untuk Mencegah KehamilanMetode kalender/Foto: iStock

Misalnya saja ketika Bunda melakukan hubungan intim menjelang akhir haid dan terjadi ovulasi dini. Dalam kondisi ini, peluang hamil bisa saja terjadi. Kehamilan juga bisa terjadi setelah Bunda menstruasi lho. Hal ini terjadi jika Bunda bercinta menjelang akhir siklus dan mendekati masa subur Bunda.

Melacak masa subur merupakan salah satu cara untuk menentukan waktu optimal seseorang untuk hamil. Selain itu, cara ini juga dapat membantu mencegah kehamilan jika Bunda belum ingin hamil, seperti dikutip dari laman Healthline.

Untuk menerapkan metode pengendalian kehamilan ini, diperlukan waktu beberapa bulan untuk mencatat siklus bulanan. Sehingga jelas diketahui masa subur setiap wanita. Bunda dapat mencatat periode menstruasi dan menghitung jumlah hari dalam siklus tersebut.

Penting diperhatikan ya, Bun, bahwa hari pertama menstruasi adalah waktu pertama dalam siklus bulanan Bunda. Kemudian, tulis jumlah hari terpanjang dan terpendek dari pelacakan siklus bulanan Bunda, selama beberapa bulan. Kemudian, cari tahu hari pertama masa subur dengan mengurangi 18 hari dari lamanya siklus terpendek Bunda.

Misalnya, jika siklus terpendek Bunda 27 hari, maka 27 dapat dikurangi 18 dan tuliskan 9. Lalu, cari tahu hari terakhir dari masa subur Bunda dengan mengurangi 11 dari siklus terpanjang Bunda. Misalnya, jika sudah 30 hari maka Bunda akan mendapatkan hari ke-19.

Sehingga, waktu antara hari terpendek dan terpanjang merupakan periode subur Bunda. Seperti contoh di atas, maka masa subur antara hari ke-9 dan ke-19. Untuk itu, jika Bunda mencoba mencegah kehamilan, Bunda dapat menghindari melakukan hubungan intim tanpa kontrasepsi selama hari-hari itu. Sebab, ovulasi dapat terjadi di suatu hari selama masa subur Bunda. Dan telur yang dilepaskan dapat bertahan selama 12-24 jam.

Nah, berbicara soal efektivitas dari metode ini, Planned Parenthood merilis bahwa sekitar 76-88 persen terbilang efektif. Artinya dari 12 hingga 24 dari 100 pasangan yang hanya menggunakan metode ini untuk kontrasepsi akan hamil dalam satu tahun. Karenanya, bentuk metode ini lebih efektif jika dikombinasikan dengan bentuk kontrasepsi lainnya, Bun.

Selamat mencoba.

Simak juga yuk, mitos bayi tabung dalam video berikut!

[Gambas:Video Haibunda]

(rap/rap)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi