sign up SIGN UP search


kehamilan

Hamil Kosong di Trimester Awal, Ketahui Tanda dan Penyebabnya

Annisa Afani Rabu, 10 Jun 2020 06:00 WIB
ilustrasi keguguran caption
Jakarta -

Salah satu masalah atau gangguan yang dapat dialami ibu hamil ialah blighted ovum atau anembryonic gestation. Ini merupakan kehamilan yang tidak mengandung embrio meski terjadi pembuahan, atau yang lebih sering kita kenal sebagai hamil kosong, Bunda.

Hamil kosong terjadi saat sel telur berhasil dibuahi oleh sperma di dalam rahim, namun ia tidak berkembang menjadi embrio. Pada fase ini, embrio yang terbentuk berhenti tumbuh, dan akan diserap lagi oleh tubuh Bunda.

Kondisi ini menjadi penyebab utama kegagalan kehamilan dini atau keguguran. Seringkali, kehamilan ini terjadi di fase awal mengandung, sehingga ibu hamil biasanya tidak menyadari dirinya tengah hamil.


Apa penyebab hamil kosong?

Dikutip dari Web MD, mengenai penyebab pasti hamil kosong tidak diketahui, Bunda. Namun hamil kosong seringkali disebabkan karena masalah pada kromosom, yakni struktur yang membawa gen. Ini mungkin berasal dari sperma atau telur dengan kualitas rendah, atau juga dapat terjadi karena pembelahan sel yang tidak normal.

Namun dalam buku yang diterbitkan National center for Biotechnology Information disebutkan bahwa genetik menjadi penyebab umum terjadinya kehamilan kosong. Kemungkinan lainnya bisa disebabkan oleh kerusakan DNA sperma, obesitas, infeksi saluran reproduksi, obat dan vaksin, hormon, gangguan endokrin hingga mengonsumsi alkohol.

Ketika mengenali kelainan ini, tubuh akan menghentikan kehamilan alias keguguran. Bunda juga hampir tak bisa mencegah keguguran yang terjadi. Bagi kebanyakan wanita, risiko mengalami hal ini hanya terjadi satu kali.

Tanda-tanda hamil kosong

Untuk kehamilan kosong, Bunda mungkin akan mengalami tanda-tanda seperti kehamilan normal. Misalnya, hasil testpack yang positif karena embrio awal mengeluarkan hormon kehamilan atau human chorionic gonadotropin (hCG), periode menstruasi yang terlewat, payudara bengkak, mual, hingga muntah.

Namun ketika embrio berhenti berkembang dan hormon kehamilan menurun, tanda-tanda kehamilan yang pernah dirasakan akan menghilang. Pada tahap ini, Bunda akan mengalami mengalami beberapa hal berikut:

- Kram perut
- Bercak atau pendarahan vagina
- Masa menstruasi yang terasa lebih berat dari biasanya

Jika mengalami tanda atau gejala ini, ada kemungkinan tengah mengalami keguguran, Bunda. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua perdarahan pada trimester awal atau trimester pertama berakhir dengan keguguran. Jadi pastikan langsung dengan menemui dokter, jika mengalami tanda-tanda tersebut.

Shot of unhealthy young woman with stomachache leaning on the bed at home.Ilustrasi kram perut/ Foto: iStock

Jika mengalami tanda atau gejala ini, ada kemungkinan Bunda tengah mengalami keguguran. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua perdarahan pada trimester pertama berakhir dengan keguguran. Jadi pastikan langsung dengan menemui dokter, jika mengalami tanda-tanda tersebut ya Bunda.

Mendiagnosis kehamilan kosong

Banyak ibu hamil yang merasakan kehamilan ini dengan normal, Bunda. Sebagian menganggap begitu karena kadar hormon kehamilan mereka yang meningkat. Padahal, plasenta yang terbentuklah yang menghasilkan hormon ini. Dengan kehamilan kosong tersebut, hCG akan dapat terus meningkat karena plasenta yang tumbuh dengan cepat meski tidak ada embrio di dalam rahim.

Untuk alasan ini, maka tes ultrasonik diperlukan untuk mendiagnosisnya dan memastikan bahwa kantong kehamilan atau ketuban benar-benar kosong.

Apa yang terjadi setelah keguguran?

Jika hasil tes benar-benar menyatakan bahwa itu memang hamil kosong, maka lakukan konsultasi bersama dokter untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan selanjutnya, ya Bunda. Biasanya ibu hamil dihadapkan pada dua pilihan, yakni:

1. Dilatasi dan kuretase (D&C) atau kuret

Ini adalah prosedur dengan melakukan pembedahan dengan melibatkan pelebaran serviks dan pengangkatan isi rahim. Prosedur ini juga mampu mengangkat seluruh jaringan yang tersisa dalam rahim setelah melewati masa keguguran, sehingga dapat mencegah dari adanya infeksi.

2. Menggunakan obat

Dengan obat-obatan seperti misoprostol, Bunda perlu melakukan rawat jalan agar kondisinya dapat dikontrol oleh dokter. Obat ini akan membantu tubuh Bunda mengeluarkan seluruh jaringan yang tersisa dari kehamilan kosong, sehingga ada kemungkinan akan mengalami banyak perdarahan dan efek samping lainnya.

Dengan kedua pilihan tersebut, pasien mungkin mengalami sakit atau kram yang dapat diobati. Kebanyakan ibu yang mengalami kondisi ini, biasanya memilih menggunakan obat, Bunda. Meski begitu, keputusan tersebut harus menjadi hasil dari persetujuan dokter.

Nah, setelah keguguran, dokter mungkin menyarankan Anda menunggu setidaknya satu hingga tiga siklus menstruasi sebelum mencoba untuk hamil lagi.

Bunda, simak juga faktor yang dapat memicu keguguran dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi