sign up SIGN UP search


kehamilan

Luka Caesar Merah hingga Bernanah, Apa yang Harus Dilakukan?

Annisa Afani Kamis, 18 Jun 2020 05:20 WIB
Surgeons preparing patient for C-Section surgical procedure in hospital caption
Jakarta -

Sama dengan operasi besar lainnya, melahirkan lewat operasi caesar kadang memiliki risiko infeksi. Diperkirakan 3-15 persen wanita mengalami infeksi pada luka caesar.

Infeksi terjadi ketika bakteri memasuki luka. Staphylococcus aureus atau bakteri staph adalah penyebab paling umum dari infeksi luka pasca-caesar, yang menyebabkan sekitar 15 - 20 persen kasus infeksi.

Bakteri staph secara alami hidup di rambut dan kulit manusia. Ketika mereka berkembang biak dan memasuki luka, mereka dapat menyebabkan beberapa jenis infeksi.


Dikutip dari Medical News Today, berikut ini beberapa jenis infeksi tersebut:

1. Impetigo

Infeksi ini dapat menyebabkan timbulnya lepuh berisi cairan yang pecah dan meninggalkan kerak berwarna madu serta menimbulkan rasa sakit dan gatal.

2. Abses

Abses adalah luka yang dilapisi oleh kulit mati dan nanah. Infeksi ini berkembang di bawah kulit dan memberikan sensasi rasa panas atau hangat dan menyakitkan.

3. Selulitis

Selulitis merupakan infeksi kulit dan jaringan di bawahnya. Gejalanya dapat dengan cepat menyebar dari lokasi sayatan dan biasanya terasa sakit, merah, dan hangat saat disentuh.

Infeksi luka biasanya timbul setelah 4-7 hari. Namun, jika gejala terjadi dalam waktu 28 jam, maka hal tersebut disebabkan oleh bakteri streptococcus. Infeksi dari streptococcus dapat menyebabkan erisipelas. Ini adalah jenis selulitis yang juga melibatkan sistem getah bening.

Beberapa jenis bakteri lainnya yang dapat menyebabkan infeksi pada luka caesar, meliputi ureaplasma urealyticum, staphylococcus epidermidis, enterococcus faecalis, escherichia coli, dan proteus mirabilis.

Faktor risiko

Ada banyak faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang seseorang terkena infeksi luka pasca-operasi caesar. Beberapa faktor tersebut, yakni:

1. Mengalami hematoma
2. Mengalami infeksi bakteri dalam cairan ketuban atau korioamnionitis
3. Merokok selama kehamilan
4. Memiliki ukuran sayatan yang lebih besar, atau sayatan lebih dari 16,6 centimeter (cm)
5. Tidak mendapat perawatan prenatal yang cukup
6. Mengalami obesitas
7. Mengonsumsi obat kortikosteroid
8. Penderita diabetes atau diabetes gestasional
9. Memiliki anak kembar
10. Memiliki riwayat operasi yang sama sebelumnya
11. Mengalami epidural
12. Mengalami pecah rahim
13. Pernah menjalani transfusi darah
14. Menjalani operasi yang panjang, atau yang membutuhkan waktu lebih dari 38 menit
15. Menjalani operasi darurat

Gejala

Ibu yang telah menjalani operasi caesar harus memeriksa luka setiap hari untuk melihat adanya tanda-tanda infeksi. Hal ini perlu dilakukan, karena banyak jenis infeksi tidak menimbulkan gejala sampai 4 - 7 hari setelah operasi, dan baru muncul ketika sudah pulang dari rumah sakit.

SakitIlustrasi ibu demam/ Foto: Thinkstock

Gejala-gejala infeksi luka pasca-operasi caesar dapat muncul dengan berbagai variasi tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya, dimulai dari rasa ketidaknyamanan ringan hingga rasa sakit yang ekstrem tergantung pada jenis dan tingkat keparahan infeksi.

Beberapa gejala infeksi yang paling umum ditemukan dari luka pasca-caesar, meliputi demam, kemerahan, bengkak di sepanjang atau di dekat lokasi sayatan, nyeri, keluar nanah, dan pengerasan pada kulit.

Dalam beberapa kasus, Bunda mengalami keluar nanah dari bekas luka operasi, maka kemungkinan terjadi infeksi sekunder dari bakteri. Infeksi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti yang disebutkan di atas.

Pengobatan

Jika ada gejala infeksi luka pasca-caesar seperti keluarnya nanah, maka harus segera mencari pertolongan medis dengan menghubungi dokter. Biasanya, dokter akan memberikan jenis antibiotik tertentu tergantung pada jenis bakteri yang menjadi penyebab infeksi. Infeksi yang kurang parah atau superfisial, seperti selulitis, cenderung sembuh dengan satu atau dua pengulangan konsumsi antibiotik.

Jika keluar cairan dari luka, atau jika luka terpisah alih-alih menutup, dokter dapat merekomendasikan operasi kecil untuk menghilangkan abses dan cairan yang terinfeksi. Sementara jika dokter menemukan jaringan yang telah mati di luka, maka jaringan tersebut akan mengelupas dan diangkat hingga menemukan jaringan sehat yang ada di bawahnya.

Setelah operasi, dokter akan menempatkan antiseptik di area tersebut dan menutupinya dengan kain kasa. Beberapa jenis kain kasa memiliki sifat antimikroba yang membunuh bakteri dan mencegah infeksi lebih lanjut. Petugas medis akan memantau luka-luka mereka untuk melihat tanda-tanda infeksi atau perubahan dengan gejala apa pun.

Komplikasi

Infeksi bakteri staph biasanya tetap berada di permukaan kulit, meskipun mereka juga dapat menuju ke aliran darah dan memengaruhi organ lain. Kemungkinan komplikasi lainnya yang terkait dengan infeksi Staph dapat meliputi endokarditis (infeksi pada katup jantung), osteomielitis (infeksi pada tulang), bakteremia (infeksi pada aliran darah).

Bakteri staph juga dapat menyebabkan nekrolisis epidermal toksik, Bunda. Ini yang merupakan infeksi serius yang menyebabkan bercak besar pada kulit mengelupas. Dalam kasus yang jarang terjadi, sejenis bakteri strep dapat menyebabkan infeksi parah dan berpotensi fatal yang disebut necrotizing fasciitis, di mana infeksi ini bisa menghancurkan kulit dan jaringan di bawahnya.

Gejala yang disebabkan oleh fasciitis ini, yakni demam dan nyeri ekstrem yang meningkat dengan cepat dari waktu ke waktu. Bagi beberapa wanita yang mengalaminya, kulit serta jaringan lain akan berubah mengeras dan berwarna merah.

Bunda, simak juga tips agar cepat hamil ala dr.Reisa Broto Asmoro, dalam video Intimate Interview berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi