sign up SIGN UP search


kehamilan

Kebiasaan Ibu Hamil yang Berisiko Lahirkan Anak Stunting

Asri Ediyati Sabtu, 01 Aug 2020 08:01 WIB
Young pregnant woman with headache sitting on sofa. Pregnancy symptoms, expectation, parenthood concept, copy space Kebiasaan Ibu Hamil yang Berisiko Lahirkan Anak Stunting/ Foto: iStock
Jakarta -

Bunda, perlu dipahami bahwa stunting bukan sekadar anak tumbuh pendek ya. Stunting adalah efek jangka panjang bukan efek yang terjadi secara langsung. Menurut Dr.Rita Ramayulis, DCN, M.Kes., pengertian stunting adalah kekurangan gizi kronis yang menyebabkan terjadinya gagal tumbuh dan gagal kembang.

Perjalanan terjadinya stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan semuanya dimulai dari ibu sebelum hamil.

"Jangan lupa kondisi ibu hamil tidak dipengaruhi saat hamil, tapi dari remaja. Keadaan gizi pada remaja masih ada yang anemia. Ditambah sekarang sering konsumsi makanan cepat saji dan pola hidup sedentary yang dipengaruhi teknologi," kata Rita Ramayulis di acara Tanoto Foundation "Peran Komunikasi Perubahan Perilaku Dalam Pencegahan Stunting", Rabu (29/7/2020).


Sayangnya, angka stunting di Indonesia masih lumayan tinggi nih yaitu sekitar 27,7 persen (Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019). Hal itu disebabkan salah satunya karena perilaku gizi buruk. Perilaku gizi buruk ini bahkan secara tak sadar dilakukan oleh ibu hamil, Bunda.

"Saya temukan ini di lapangan. Ada ibu hamil yang tidak memahami tentang stunting, tidak meyakini bahwa stunting bisa terjadi ketika ibu hamil tidak melakukan pengaturan gizi. Yang ibu hamil pahami adalah gara-gara dia makan yang salah," ujarnya.

Having breakfast at homeilustrasi ibu hamil makan/ Foto: iStock

Jika seperti itu, implikasinya ibu hamil tidak melakukan upaya pencegahan stunting. Selain itu, ibu hamil yang ditemui Rita di lapangan kebanyakan mempunya persepsi bahwa ketika hamil akan makan untuk dua orang. Padahal bukan seperti itu.

"Punya keyakinan hamil makan untuk dua orang, malah menambahkan jumlah nasi saja pada makanannya," kata Rita.

Lalu, banyak ibu hamil yang punya persepsi kondisi hamil adalah hal biasa dan berat badan akan naik seiring dengan besarnya janin, implikasinya mereka tidak melakukan pengaturan gizi khusus.

Padahal diingatkan Rita sebelumnya, pencapaian kenaikan berat badan 0,5 kg per bulan di trimster 1, lalu 0,5 kg per minggu di trimester 2 dan 3.

"Banyak yang termakan mitos, makan daging merah, kacang-kacangan karena dikaitkan dengan komplikasi kehamilan," papar Rita.

Perilaku gizi ibu hamil yang buruk lainnya yaitu tidak mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran dokter karena tidak memahami dan meyakini kegunaan dari tablet tambah darah.

"Kalau ketemu ibu hamil, selalu diingatkan setelah melahirkan untuk IMD (inisiasi menyusu dini), karena banyak ibu tidak memberikan kesempatan pada bayi untuk melakukan IMD, implikasinya keberhasilan menyusui bayi selanjutnya akan rendah," tutur Rita Ramayulis.

Simak juga tips agar kulit tak kering saat hamil:

[Gambas:Video Haibunda]



(aci/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi