sign up SIGN UP search


kehamilan

Keputihan saat Hamil Tua Makin Banyak, Apakah Normal?

Annisa Afani Senin, 07 Sep 2020 07:08 WIB
Low angle view of lovely beautiful serious minded pregnant curly-haired mom in casual wear sitting on sofa, couch, divan, working remotely, chatting, watching presentation, white light interior room caption
Jakarta -

Keputihan memang menjadi salah satu masalah yang kerap dialami wanita, begitu juga saat hamil. Namun, volume keputihan kadang meningkat pada trimester ketiga atau ketika Bunda hamil tua.

Mengutip Parenting Firstcry, semua wanita diketahui memang mengalami beberapa bentuk keputihan, termasuk saat sedang hamil. Namun selama kehamilan, keputihan ternyata bisa terjadi dengan lebih banyak lho, Bunda.

"Itu hanya hal biasa yang terjadi selama kehamilan," kata Kerry Harris, seorang bidan yang berbasis di Vancouver dikutip dari Today's Parent.


Jenis keputihan saat hamil ini disebut sebagai leukorea, Bunda. Meskipun secara umum bisa terjadi di seluruh masa kehamilan, namun sering meningkat saat hamil tua atau menjelang akhir trimester ketiga.

Keputihan terjadi karena adanya peningkatan kadar hormon estrogen tubuh selama kehamilan. Sehingga meningkatkan aliran darah ke area panggul dan menstimulasi selaput lendir.

Harris menambahkan bahwa keputihan saat hamil berguna sebagai sistem pembersihan vagina, membantu mencegah infeksi dengan membuang bakteri, menjaga vagina pada tingkat pH normal dan menyingkirkan sel-sel mati.

Keputihan normal saat hamil tua

Keputihan selama hamil tua adalah hal biasa, sehingga Bunda tidak perlu khawatir. Sebab, sejumlah perubahan terjadi selama kehamilan adalah untuk mempersiapkan persalinan dan melahirkan.

Perubahan ini berkorelasi dengan perubahan pada keputihan yang Bunda alami. Kadar hormon akan berubah karena suplai darah ke serviks akan meningkat, menyebabkan jumlah cairan menjadi lebih banyak. Tanda-tanda keputihan normal, yakni:

  • Warnanya putih, bening, encer atau bahkan agak kuning
  • Tidak berbau
  • Sedikit berwarna merah muda menjelang persalinan

Keputihan berwarna merah muda atau kecoklatan bisa terjadi kemungkinan disebabkan adanya pendarahan ringan dari leher rahim akibat terbentur saat berhubungan seks atau setelah melakukan pemeriksaan vagina.

"Semuanya normal, dan (volume) keputihan bisa meningkat selama kehamilan. Jika berubah dari normal, sebaiknya dibicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda," saran Haris.

Keputihan tidak normal saat hamil tua

Keputihan yang tidak normal akan terlihat seperti keju, memiliki warna kekuningan atau kehijauan, menyebabkan vagina gatal atau nyeri, dan mungkin disertai bau tidak sedap. Dalam situasi seperti ini, Bunda harus segera menghubungi dokter supaya bisa diobati untuk menghindarinya efeknya pada bayi.

Berikut ini beberapa alasan umum penyebab keputihan tidak normal pada ibu hamil:

1. Bakteri Vaginosis 

Ini adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan bakteri yang ada di vagina atau saluran serviks, juga merupakan penyebab keputihan kekuningan. Gejala ini dapat dirasakan dengan adanya sensasi perih atau terbakar saat buang air kecil.

Jika mengalaminya, ibu hamil harus segera mengobatinya. Jika tidak, kondisi ini bisa menyebabkan bayi lahir prematur atau berat yang tak cukup.

2. Kandidiasis

Kondisi ini terjadi karena infeksi jamur yang menyebabkan keputihan berwarna kekuningan atau kehijauan. Peningkatan perubahan kadar hormon dapat menyebabkan infeksi jamur candida dan membuat vagina mengalami gatal dan iritasi.

3. Klamidia

Ini merupakan penyakit menular seksual (PMS) yang menyebabkan keputihan menjadi kental dan kekuningan, Bunda. Jika mengalaminya, Bunda harus segera memberitahu dokter dan memulai pengobatan karena dapat menyebabkan persalinan prematur atau menularkan infeksi ke janin.

Cara mengatasi keputihan saat hamil tua

Berikut beberapa hal yang harus Bunda lakukan untuk mengatasi keputihan dan mencegah infeksi:

1. Cuci area vagina beberapa kali dalam sehari dengan air dan sabun obat yang disarankan oleh dokter.
2. Saat mengeringkan atau menyeka area vagina, gerakan tangan harus dimulai dari depan ke belakang, bukan sebaliknya.
3. Kenakan celana dalam bahan katun yang bersih dan setidaknya ganti dua kali dalam sehari.
4. Gunakan pakaian katun yang nyaman di malam hari supaya kulit bisa bernapas.
5. Gunakan panty liner yang akan membuat vagina tetap kering dan nyaman.

Jika keputihan saat hamil dirasa cukup deras untuk meresap terlalu banyak pada panty liner, maka Bunda bisa menanyakan penyebabnya pada dokter. Namun jika hal ini terjadi berdekatan dengan tanggal persalinan, keputihan mungkin terlihat kental, bening, atau sedikit bercak darah.

Cairan tersebut merupakan sumbat lendir dan tanda bahwa serviks mulai melebar untuk persiapan persalinan, Bunda. Jika Bunda mengalami aliran cairan yang tiba-tiba, itu kemungkinan ketuban yang sudah pecah walaupun hanya sekitar 8 persen ibu hamil yang mengalami sebelum kontraksi dimulai.

Berikut beberapa hal yang harus ibu hamil hindari demi kehamilan yang sehat:

1. Jangan pakai krim beraroma dan mandi busa.
2. Jangan gunakan tampon karena dapat menyebabkan infeksi dan memasukkan bakteri ke dalam vagina.
3. Jangan tutupi bau tak sedap yang muncul dengan wewangian seperti parfum atau bedak.
4. Hindari pengobatan sendiri dan konsultasikan dengan dokter untuk mengatasi gatal, kemerahan, atau bengkak .
5. Usahakan untuk menghindari menggunakan toilet umum untuk mencegah terjadinya infeksi.
6. Hindari douching atau cairan pembersih vagina karena juga bisa menghilangkan bakteri baik yang berguna.

Meski keputihan bukan masalah besar selama kehamilan, Bunda harus tetap berkonsultasi ke dokter jika merasakan gejala yang tidak biasa. Jika Bunda melihat banyak cairan putih selama sembilan bulan kehamilan, sebaiknya beri tahu dokter dan lakukan sarannya.

Bunda, simak juga mitos dan fakta keputihan yang disebabkan oleh mentimun dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi