Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Para Bunda Perjuangkan Hak Cuti Kerja usai Kehilangan Bayi akibat Stillbirth

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 21 Jan 2026 20:00 WIB

Ilustrasi Perempuan Sedih
Ilustrasi Ibu Alami Stillbirth/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Cuti hamil dan melahirkan menjadi hak mutlak yang diberikan bagi perempuan bekerja di institusi atau perusahaan. Setiap negara memiliki kebijakan untuk hak cuti melahirkan, termasuk ketentuan upah gaji yang diberikan.

Ada negara yang mengizinkan cuti melahirkan untuk istri dan suami. Ada pula yang memberikan izin tambahan cuti pada ibu bekerja yang mengalami komplikasi saat persalinan.

Lantas, bagaimana dengan para Bunda yang kehilangan janin karena mengalami stillbirth (lahir mati) atau bayinya meninggal tak lama setelah lahir?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Stillbirth adalah istilah lain dari lahir mati. Menurut definisi Badan Kesehatan Dunia (WHO), stillbirth merupakan kondisi bayi meninggal setelah usia kehamilan 28 minggu. Sedangkan menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), stillbirth didefinisikan sebagai janin yang meninggal di dalam rahim setelah usia 20 minggu kehamilan.

Stillbirth dapat dideteksi melalui pemeriksaan USG, Bunda. Jika detak jantung janin tidak dapat ditemukan, berarti janin telah meninggal di dalam rahim.

Terkadang, stillbirth terjadi sebelum persalinan dimulai. Ibu hamil mungkin menyadari bahwa janinnya telah berhenti bergerak, atau dokter mungkin tidak menemukan detak jantung janin saat pemeriksaan pranatal akhir.

Dampak stillbirth sama seperti keguguran. Perempuan bisa terjerumus dalam lubang kesedihan setelah janinnya meninggal. Tak sedikit Bunda perlu waktu cukup lama untuk berdamai dengan kehilangan.

Tapi tak seperti melahirkan, stillbirth sayangnya tidak dianggap sebagai suatu hal yang 'penting'. Masih ada perusahaan yang tidak memberikan cuti bagi perempuan usai mengalami stillbirth. Padahal, cuti ini bisa memberi waktu bagi perempuan untuk berduka dan berdamai dengan keadaan.

Ilustrasi Ibu Hamil SedihIlustrasi Ibu Sedih karena Stillbirth/ Foto: Getty Images/iStock/EvgeniyShkolenko

Kisah Bunda perjuangkan hak cuti usai alami stillbirth

Kisah ibu bekerja yang tidak mendapat cuti usai bayinya meninggal dialami oleh seorang Bunda dari anak bernama Priya. Sang putri meninggal dunia setelah enam minggu dilahirkan.

Dilansir SBS News, lima hari setelah kematian putrinya Priya, ibu yang patah hati ini memberi tahu atasan tempat ia bekerja selama 11 tahun. Bukan mendapatkan kelonggaran untuk berduka, perempuan ini justru harus menghadapi kenyataan pahit. Atasannya membatalkan cuti orang tua berbayar yang telah disetujui sebelumnya selama tiga bulan.

Perempuan yang tinggal di Australia ini tak mau tinggal diam. Ia meluncurkan kampanye untuk membatalkan aturan yang 'tidak adil' tentang hak cuti. Ia pun berhasil mengumpulkan lebih dari 32.000 tanda tangan untuk petisi 'baby Priya'.

Kampanye ini juga berhasil didengar oleh pemerintah. Pada akhir 2025, perempuan ini bergabung dengan Menteri Ketenagakerjaan Australia, Amanda Rishworth, di Gedung Parlemen di Canberra, untuk menandai perubahan pada Undang-Undang Ketenagakerjaan yang Adil.

Berdasarkan hukum, tempat kerja tidak dapat membatalkan cuti orang tua berbayar bila karyawan mengalami kelahiran mati atau kehilangan bayi.

"Rancangan undang-undang 'Priya' adalah tentang cinta, kasih sayang, martabat, dan rasa hormat. Ini adalah simbol cinta saya untuk putri saya, Priya, di saat-saat ketika saya dibuat merasa seolah hidup putri saya tidak berarti," katanya.

"Rancangan undang-undang untuk bayi Priya ini menghormati putri saya, dan juga menghormati setiap bayi yang telah meninggal, dan sayangnya, setiap bayi yang akan meninggal di Australia."

Rishworth berharap perubahan ini akan memberikan hak kepada orang tua dalam yang mengalami kehilangan bayi karena stillbirth atau kematian dini. "Kita perlu memiliki rasa welas asih dalam komunitas dan masyarakat kita," ungkap Rishworth.

Sulitnya mendapatkan cuti usai mengalami stillbirth juga dialami tiga Bunda di Carolina Selatan, Amerika Serikat (AS). Dikutip dari News19, anggota DPR Neal Collins mengatakan bahwa ada tiga guru di distrik berbeda yang mengalami stillbirth dan permohonan cuti mereka ditolak. Padahal, negara bagian AS ini memiliki undang-undang tahun 2023 yang menjamin enam minggu cuti berbayar dalam setiap kasus kelahiran.

"Tekanan dan penderitaan mental karena akan melahirkan bayi, lalu sayangnya mengalami tragedi bayi lahir mati, dan, kamu tahu, merencanakan selama kehamilan bahwa kamu akan mendapatkan cuti orang tua berbayar selama enam minggu, dan kemudian cuti itu tidak ditolak, jelas membuat stres, dan juga trauma yang terjadi dalam keluarga tersebut, dan saya pikir itu adalah hal terakhir yang ingin kita lakukan," ujar Collins.

Kenapa ibu yang alami stillbirth perlu cuti?

Cuti atau jeda waktu diperlukan bagi seorang perempuan untuk 'sembuh' setelah mengalami stillbirth. Perawat persalinan di University of South Carolina's College of Nursing, Dr. Kelly Russin, mengatakan bahwa beberapa minggu pertama setelah bayi lahir mati (stillbirth) sangat penting untuk pemulihan fisik. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mengalami stillbirth lebih mungkin mengalami komplikasi setelah melahirkan, termasuk perdarahan, infeksi, dan bahkan kematian.

"Tidak peduli di tahap kehamilan mana pun mereka berada, mereka harus menjaga tubuh mereka, dan mereka bisa mengalami kelelahan, perubahan nafsu makan, masalah tidur, dan semua hal yang menyertai proses persalinan," kata Russin.

Dari sisi psikologis, stillbirth bisa meninggalkan duka mendalam bagi calon orang tua. Psikiater di Medical University of South Carolina, Dr. Constance Guille, mengatakan bahwa perempuan yang mengalami stillbirth pada atau setelah kehamilan 20 minggu menghadapi banyak faktor psikologis pasca persalinan yang sama seperti mereka yang melahirkan bayi dalam kondisi sehat.

"Kembali bekerja terlalu dini benar-benar menghambat proses penyembuhan," kata Guille.

"Kita tidak ingin mereka memisahkan hal ini atau mengesampingkannya. Kita ingin mereka memproses dan melanjutkan untuk melewatinya."

Demikian kisah Bunda yang perjuangkan hak cuti usai mengalami stillbirth. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda