kehamilan
Ini Jumlah Sel Telur Wanita Sepanjang Hidup: Dari Lahir hingga Menopause
HaiBunda
Rabu, 11 Feb 2026 20:00 WIB
Daftar Isi
- Sejak masih dalam kandungan, sel telur sudah terbentuk
- Saat lahir: Jumlah sel telur turun drastis
- Memasuki pubertas: Tinggal ratusan ribu
- Usia 20–30 tahun: Masa paling subur
- Usia 35 tahun ke atas: Penurunan lebih cepat
- Menjelang menopause: Sel telur hampir habis
- Apakah jumlah sel telur bisa ditambah?
Banyak bunda baru menyadari satu hal penting setelah menikah atau saat merencanakan kehamilan, jumlah sel telur wanita itu terbatas. Berbeda dengan laki-laki yang terus memproduksi sperma, perempuan sudah membawa 'modal' sel telur sejak lahir dan jumlahnya terus berkurang seiring waktu.
Lalu, sebenarnya berapa jumlah sel telur perempuan sepanjang hidupnya?Â
Sejak masih dalam kandungan, sel telur sudah terbentuk
Fakta menariknya, sel telur wanita tidak mulai terbentuk saat pubertas, tapi jauh sebelumnya bahkan sejak masih berada di dalam kandungan ibu. Menurut penelitian klasik dalam Human Reproduction Update dan data dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sel telur wanita mulai terbentuk saat masih janin di dalam kandungan.
Saat janin perempuan berusia sekitar 20 minggu kehamilan, ia memiliki sekitar 6–7 juta sel telur (oosit). Ini adalah jumlah terbanyak sepanjang hidup seorang wanita. Namun, jumlah ini tidak bertahan lama. Bahkan sebelum lahir, sel telur sudah mulai berkurang secara alami.
Saat lahir: Jumlah sel telur turun drastis
Ketika bayi perempuan lahir, jumlah sel telurnya menyusut menjadi sekitar 1–2 juta sel telur. Penurunan ini terjadi karena proses alami yang disebut atresia, yaitu kematian sel telur yang tidak digunakan. Menurut Endocrine Reviews, atresia berlangsung terus-menerus dan tidak bisa dicegah.
Proses berkurangnya sel telur ini disebut atresia, yaitu proses alami di mana sel telur mati dan diserap kembali oleh tubuh. Ini bukan penyakit dan tidak bisa dicegah, bagian dari siklus biologis wanita.
Memasuki pubertas: Tinggal ratusan ribu
Saat seorang anak perempuan memasuki masa pubertas dan mulai menstruasi, jumlah sel telurnya tersisa sekitar, 300.000–500.000 sel telur.
Meski terdengar banyak, faktanya menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam National Institute of Child Health and Human Development, selama masa reproduksi, hanya sekitar 400–500 sel telur yang benar-benar akan matang dan dilepaskan (ovulasi). Sisanya akan terus berkurang secara alami setiap bulan
Usia 20–30 tahun: Masa paling subur
Pada usia 20-an hingga awal 30-an, Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), jumlah sel telur memang terus menurun. Tapi kualitas sel telur masih sangat baik. Peluang hamil relatif lebih tinggi dan risiko keguguran dan kelainan kromosom relatif lebih rendah.
Inilah alasan mengapa secara medis usia ini sering disebut sebagai masa reproduksi paling optimal, meski tentu setiap wanita punya kondisi tubuh yang berbeda dan bukan satu-satunya faktor penentu kehamilan.
Usia 35 tahun ke atas: Penurunan lebih cepat
Memasuki usia 35 tahun, penurunan jumlah dan kualitas sel telur terjadi lebih cepat. Risiko keguguran dan kelainan kromosom mulai meningkat. Waktu untuk hamil bisa menjadi lebih panjang. Penelitian dalam New England Journal of Medicine menyebutkan bahwa penuaan ovarium memengaruhi kemampuan sel telur membelah secara normal.
Ini bukan berarti wanita di atas 35 tahun tidak bisa hamil, ya, Bunda. Banyak yang tetap hamil sehat, hanya saja secara biologis, tantangannya memang bertambah.
Menjelang menopause: Sel telur hampir habis
Menopause biasanya terjadi di usia 45–55 tahun. Di fase ini, jumlah sel telur hampir habis, ovulasi berhenti, dan menstruasi tidak lagi terjadi secara permanen. Artinya, ovarium sudah tidak lagi melepaskan sel telur untuk kehamilan.
Apakah jumlah sel telur bisa ditambah?
Sayangnya, jumlah sel telur tidak bisa ditambah secara alami. Namun, dunia medis mengenal beberapa opsi untuk menjaga peluang kehamilan, seperti:
- Pemeriksaan cadangan ovarium (AMH)
- Program promil terpantau
- Pembekuan sel telur (egg freezing) pada kondisi tertentu
- Langkah-langkah ini biasanya dipertimbangkan berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan rencana kehamilan masing-masing perempuan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Prolaps Uteri, Ketahui Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kehamilan
Ketahui Beragam Jenis Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Pria
Kehamilan
Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan agar Bunda Cepat Hamil?
Kehamilan
Tren Baru Probiotik untuk Miss V: Ketahui Definisi, Manfaat, dan Risikonya
Kehamilan
Adakah Efek Samping Minum Pil Kontrasespsi Darurat untuk Kesehatan Reproduksi Bunda?
10 Foto
Kehamilan
10 Bunda Seleb Pernah Gagal Program Bayi Tabung, Ada yang Mencoba Enam Kali
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ilmuwan Klaim Bisa 'Meremajakan' Sel Telur Manusia untuk Sukseskan Promil via IVF
Bukan Mandul, Kisah Bunda Sulit Hamil karena Ternyata 'Alergi Suami'
Chelsea Olivia Lakukan USG, Sel Telur Banyak dan Didoakan Hamil Anak Ketiga