Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Posting Proses Persalinan di Sosial Media, Sharing Sesama Bunda atau Malah Bikin Takut?

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 12 Feb 2026 08:50 WIB

ibu hamil ponsel
Posting Proses Persalinan di Sosial Media, Sharing Sesama Bunda atau Malah Bikin Takut?/Foto: Getty Images/Jajah-sireenut
Daftar Isi
Jakarta -

Persalinan baik secara normal ataupun caesar memang kerap membuat perempuan takut melihatnya. Lantas, jika ada yang posting proses persalinan di sosial media, sharing sesama Bunda atau malah bikin takut sih, Bunda?

Setiap proses persalinan perempuan memiliki ceritanya masing-masing ya, Bunda. Tentunya, tidak ada yang mudah dalam melewati proses tersebut. Bahkan, hampir 50 persen dari semua perempuan pernah mengalami pengalaman persalinan traumatis.

Sering kali, ketika seseorang berhasil melewati proses tersebut tentunya menjadi prestasi bagi diri sendiri. Tak jarang, mereka pun ingin membagikan pengalaman tersebut dengan sesama pejuang persalinan di luar sana melalui platform media sosial.

Apalagi, sekarang ini media sosial seperti TikTok dan Instagram menyediakan fitur yang mudah untuk berbagi setiap pengalaman, terhubung dengan orang lain, serta berbagi perspektif secara luas dengan khalayak dari manapun.

Meski demikian, niatan baik untuk sharing pengalaman sering kali justru membuat ketakutan bagi orang yang melihatnya. Seperti halnya ketika sesama perempuan berbagi proses persalinan secara detail yang justru membuat ngeri perempuan lain yang melihat proses berdarah-darah tersebut.

Posting proses persalinan di sosial media, sharing sesama Bunda atau malah bikin takut?

Seperti diketahui bahwa hampir dari sebagian besar perempuan pernah mengalami pengalaman persalinan traumatis. Namun, selama bertahun-tahun, mereka hanya merasa bersyukur karena memiliki bayi yang sehat ketimbang mencari solusi dan penyembuhan atas traumatis mereka mengalami proses persalinan tersebut.

Faktanya, banyak perempuan merasa bingung, terluka, dan tidak tahu bagaimana harus memproses apa yang mereka alami. Lebih buruk lagi, mereka sering kali merasa tidak nyaman mengungkapkan perasaan mereka bahwa pengalaman persalinannya tersebut tidak berjalan seperti yang mereka harapkan.

Sebagai proses pelampiasannya, sebagian ibu memilih berbagi kisah persalinan mereka melalui media sosial. Seperti salah satu akun di TikTok @@thebirthtrauma_mama yang memposting semua tentang pengalaman persalinannya yang traumatis dan kiat-kiatnya dalam menghadapi persalinan secara mental dan emosional.

Akun tersebut secara positif juga mendorong para ibu untuk memiliki bagian bagaimana jika dalam rencana persalinan mereka tidak berjalan sesuai harapan, seperti dikutip dari laman Parents.

"Saat saya hamil, yang saya lihat hanyalah pengalaman persalinan yang indah dan menakjubkan secara online, yang kita sukai untuk orang-orang yang mengalaminya. Tetapi saya tidak pernah melihat siapa pun berbicara tentang ketika hari yang kalian harapkan menjadi salah satu hari terbaik dalam hidup kalian berubah menjadi salah satu hari terburuk," ujar Kayleigh Summers, sang pemilik akun.

Dan, setelah postingan awalnya, Summers mengatakan bahwa merasa terkejut dengan respons yang luar biasa dari pengikutnya. "Saya tidak menyadari betapa besarnya dampaknya, terutama dari pengalaman saya, karena saya mengalami komplikasi medis yang sangat langka."

Summer, dalam kisah persalinannya memang tak mudah dilewatinya. Tim medis menduga bahwa dirinya mengalami emboli cairan ketuban yakni sebuah komplikasi obstetri yang langka dan sering kali fatal. Summers pun membutuhkan transfusi darah yang menyelamatkan nyawanya, dan mengalami henti jantung untuk kedua kalinya karena kehilangan darah.

Akhirnya, Summers dipasang alat bantu pernapasan, dan menjalani histerektomi. “Dalam waktu 36 jam dan dua setengah hari setelah kejadian awal saya, saya dilepas dari alat bantu pernapasan. Keesokan harinya selang yang membantu saya bernapas dilepas. Dan kemudian pada hari kelima pasca persalinan, saya bertemu putra saya, Callahan, untuk pertama kalinya.”

Meskipun apa yang terjadi pada Summers sangat jarang terjadi, yakni hanya memengaruhi antara dua hingga delapan dari setiap 100 ribu persalinan di seluruh dunia, mengalami trauma selama persalinan bukanlah hal yang jarang terjadi. Di luar sana, banyak juga perempuan yang mengalami pengalaman persalinan traumais.

Berbagi kisah di sosial media menjadi hal yang normal

Gerakan untuk berbagi kisah persalinan secara online saat ini berkembang pesat. Para orang tua semakin nyaman berbagi kebenaran tentang persalinan, bukan sekadar cerita tersimpan untuk diri sendiri. 

Akibatnya, informasi tentang apa yang sebenarnya dialami ibu melahirkan, baik sisi baik dan buruknya, kini lebih mudah didapatkan daripada sebelumnya. Komunitas seperti seperti Birth-Tok telah berkembang menjadi ruang di mana orang tua dapat berbagi trauma persalinan, kisah persalinan, dan nasihat.

Kenyataan pahitnya adalah, trauma persalinan jauh lebih umum daripada yang dipikirkan orang, kata Jennifer Lincoln, MD, seorang dokter kandungan bersertifikat dan penulis buku The Birth Book: An OB-GYN’s Guide to Demystifying Labor and Delivery.

Dan, orang tua yang mengalami hal serupa akhirnya bisa mendapatkan ruang untuk menceritakan kisah mereka. Tidak ada definisi bahwa apa yang harus terjadi pada seseorang agar persalinan dianggap traumatis, katanya.

Jadi, jika itu dianggap traumatis bagi seseorang, maka mereka perlu membicarakannya tanpa khawatir akan dibungkam dengan balasan yang kasar. Setidaknya, bayi yang dilahirkan sehat.

"Ini mungkin termasuk hal-hal yang lebih jelas seperti membutuhkan operasi caesar darurat atau mengalami distosia bahu yang parah," kata Dr. Lincoln. "Tetapi persalinan yang begitu cepat sehingga pasien tidak bisa mendapatkan epidural atau merasa tidak didengarkan juga dapat menyebabkan trauma bagi seseorang."

Bagaimana berbagi trauma persalinan untuk membantu orang tua lain sembuh?

Berbagi kisah trauma persalinan secara daring mungkin bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Namun, ini bisa menjadi hal yang baik meskipun berarti menghidupkan kembali masa-masa menakutkan dalam hidup, kata Dr Lincoln.

Hal ini pun memungkinkan orang tua lainnya yang sedang hamil atau berencana memiliki anak dapat mengetahui bahwa melahirkan berarti lebih dari sekadar momen terakhir, di mana mereka bertemu dengan bayinya.

Corey Basch, EdD, MPH, seorang peneliti kesehatan masyarakat dan profesor di Universitas William Paterson di New Jersey mengatakan bahwa berbagi pengalaman pribadi juga dapat mengurangi rasa malu, memvalidasi pengalaman yang sering dianggap memalukan atau dramatis, atua hanya sebagai masalah yang harus dihadapi perempuan sendirian, dan membantu orang lain merasa seolah-olah mereka bagian dari komunitas.

"Narasi juga dapat meningkatkan kesadaran akan kebutuhan kesehatan mental pasca persalinan, menyoroti kesenjangan dalam komunikasi dan dukungan, dan mendorong orang untuk mencari bantuan," katanya.

Pengaruh postingan kisah kelahiran traumatis pada ibu hamil

Basch mengatakan bahwa selama penelitiannya tentang konten terkait kesehatan di sosial media, ia secara konsisten melihat bahwa narasi yang sangat emosional atau ekstrem cenderung mendapatkan visibilitas dan keterlibatan yang lebih besar. Mengingat platform menghargai konten yang memicu reaksi kuat, ia mengatakan pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi terlalu sering muncul di beranda pengguna.

"Bagi seseorang yang sudah rentan, paparan berulang terhadap kisah kelahiran yang menakutkan dapat memperkuat persepsi risiko, meningkatkan kecemasan antisipatif, dan membentuk ekspektasi dengan cara yang membuat kelahiran terasa jauh lebih berbahaya atau traumatis daripada yang dialami kebanyakan orang," kata Basch.

Akibatnya, orang-orang yang menonton kisah-kisah ini mungkin memasuki pengalaman kelahiran mereka sendiri dengan perasaan takut dan stres, daripada berpikir dengan perspektif penuh bahwa kelahiran juga bisa aman, menyenangkan, dan memuaskan, jelas Dr. Lincoln.

Pada akhirnya, kunci dari menghadapi berbagai paparan tersebut adalah mengetahui apa yang dapat terjadi, seberapa besar kemungkinannya, dan bagaimana tim medis akan menangani keadaan darurat apa pun, yang membutuhkan informasi dan mengajukan pertanyaan tentang kesehatan pasien secara tepat.

Dan, jadilah pengguna sosial media yang bijak dan cerdas dengan memilih konten-konten yang tidak menyesatkan dan memberikan informasi pada Bunda. 

Semoga informasinya membantu, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda