Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Studi Temukan Paparan Bahan Kimia Ini Bisa Tingkatkan Risiko Keguguran Berulang

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Mar 2026 08:30 WIB

Ilustrasi Keguguran
Ilustrasi Keguguran/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Paparan bahan kimia berbahaya bisa menyebabkan keguguran di awal kehamilan, Bunda. Salah satunya adalah bahan kimia PFAS atau zat perfluoroalkil atau dikenal 'bahan kimia abadi'.

Studi diterbitkan di jurnal Ecotoxicology and Environmental Safety tahun 2025 mengungkap temuan baru yang mengejutkan tentang bahaya PFAS. Studi ini menemukan bahwa PFAS dapat meningkatkan risiko keguguran berulang.

Dilansir The Guardian, studi melacak sekitar 200 perempuan di Tiongkok. Para peneliti menemukan kadar beberapa jenis PFAS yang lebih tinggi dalam darah pada perempuan yang mengalami setidaknya dua kali keguguran, atau aborsi spontan berulang yang tidak dapat dijelaskan.

"Studi sebelumnya telah mengidentifikasi bahwa PFAS dikaitkan dengan hasil kehamilan yang merugikan, tetapi potensi pengaruh paparan terhadap [keguguran berulang] masih belum pasti," kata para penulis studi dari Chinese Center for Disease Control and Prevention.

"Investigasi kami mengidentifikasi hubungan signifikan antara [beberapa PFAS] dan peningkatan risiko keguguran spontan berulang yang tidak dapat dijelaskan."

Perlu diketahui, PFAS adalah kelompok yang terdiri dari sekitar 16.000 bahan kimia. PFAS biasanya digunakan untuk membuat produk yang tahan air, noda, dan panas.

PFAS tidak terurai secara alami dan dapat menumpuk di dalam tubuh manusia dan lingkungan. Bahan kimia ini telah dikaitkan dengan kanker, penyakit ginjal, masalah hati, gangguan kekebalan tubuh, dan masalah kesehatan serius lainnya.

Tak hanya itu, beberapa senyawa PFAS juga dikaitkan dengan masalah perkembangan seperti cacat lahir dan berat badan lahir rendah. Pada laki-laki, zat kimia ini diduga bisa menurunkan kualitas sperma dan menyebabkan perubahan DNA yang dapat memengaruhi kesehatan keturunan di kemudian hari.

Paparan PFAS dan keguguran

Mekanisme biologis yang membuat PFAS bisa mengakibatkan keguguran masih belum jelas. Tetapi, para peneliti berteori bahwa hal itu berkaitan dengan gangguan metabolisme hormon tiroid dan dampak hormonal lainnya.

PFAS juga sangat terkait dengan kerusakan sistem endokrin. Para penulis mengatakan bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk menjawab pertanyaan ini dan menemukan solusinya. Tapi setidaknya, hasil penelitian ini bisa menambah bukti 'luar biasa' yang menghubungkan paparan PFAS dengan gangguan perkembangan

"Ini merupakan dampak kesehatan yang mengejutkan dan semakin menunjukkan bahwa senyawa-senyawa ini tampaknya menimbulkan kerusakan di seluruh tubuh kita," kata ilmuwan senior di Environmental Working Group, David Andrews.

PFAS dapat ditemukan di barang-barang konsumsi dan lingkungan sekitar, sehingga sulit untuk dihindari. Namun, Bunda dapat melindungi diri dari PFAS dengan menggunakan sistem penyaringan untuk menghilangkan dari air, menghindari peralatan masak anti-lengket, menghindari penggunaan penghilang noda, membeli makanan organik, dan mencari kosmetik atau produk perawatan pribadi yang bebas PFA.

Dampak PFAS pada fungsi plasenta

Selain dapat meningkatkan risiko keguguran, paparan PFAS juga dikaitkan dengan gangguan fungsi plasenta. Para peneliti dari Helmholtz Centre for Environmental Research (UFZ), bekerja sama dengan Dessau Municipal Hospital, telah mengembangkan model plasenta 3D yang dapat digunakan untuk menganalisis risiko paparan PFAS selama kehamilan dengan lebih baik. Hasil studi yang dipublikasikan di Environmental Research ini menunjukkan bahwa PFAS dapat mengganggu fungsi plasenta, terutama di fase awal kehamilan.

"Untuk penilaian risiko yang akurat, penting untuk mendokumentasikan paparan PFAS dengan lebih tepat, terutama selama trimester pertama kehamilan," kata ilmuwan reproduksi serta penulis dan peneliti utama, UFZ Dr. Violeta Stojanovska, dilansir laman News Medical.

Dalam studi ini, para peneliti memilih pendekatan yang berbeda. Mereka mengekstrak enam senyawa PFAS, yakni asam perfluorononanoat, asam perfluorooktanasulfonat, asam perfluorobutanoat, asam perfluorooktanoat, asam perfluoroheksanasulfonat, dan asam perfluorodekanoat.

Semua senyawa diekstrak dari jaringan plasenta dari 31 ibu hamil di trimester pertama. Kemudian, senyawa-senyawa tersebut digunakan untuk mendapatkan campuran PFAS yang relevan dengan plasenta, lalu diuji dalam model trofoblas 3D untuk mensimulasikan paparan plasenta.

Hasilnya, paparan model trofoblas 3D terhadap campuran PFAS terbukti dapat mengganggu fungsi plasenta yang optimal. Sel-sel plasenta menunjukkan kemampuan invasi yang terganggu. Kemampuan invasi ini sangat penting untuk pertumbuhan janin yang optimal dengan memfasilitasi transfer nutrisi dari ibu ke janin.

Demikian studi terbaru yang mengungkap bahaya bahan kimia PFAS pada kehamilan dan risikonya pada keguguran berulang. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda