Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Amankah Hamil Tua Puasa? Ketahui Tips & Aturannya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Feb 2026 14:25 WIB

llustrasi hamil muslim
Amankah Hamil Tua Puasa? Ketahui Tips & Aturannya/Foto: Getty Images/Noah Saob
Daftar Isi
Jakarta -

Momen Ramadan memang sayang dilewatkan begitu saja untuk melakukan berbagai ibadah termasuk puasa. Nah, bagi Bunda yang sedang mengandung di trimester akhir, amankah hamil tua puasa? 

Semakin beranjak usia kehamilan, para bumil biasanya semakin terbatas dalam beraktivitas. Apalagi, perut semakin besar sehingga bumil tak leluasa seperti sebelumnya ketika melakukan sesuatu. Namun, saat momen Ramadan, banyak ibu hamil yang merasa sayang jika tak turut serta berpuasa. Karenanya, meski perut semakin membuncit dan ruang gerak semakin terbatas, untuk urusan ibadah puasa, para bumil pun tetap bersemangat melakukannya. 

Amankah hamil tua puasa? 

Memutuskan untuk berpuasa atau tidak merupakan keputusan pribadi dari setiap individu. Bagi Bunda yang sedang hamil tua atau menginjak trimester 3, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa ya, Bunda.

Memang, berpuasa sah-sah saja dilakukan dalam kondisi hamil. Hanya saja, Bunda tetap perlu berhati-hati dalam melaksanakannya mengingat ada janin yang sedang bertumbuh di perut dan membutuhkan pasokan nutrisi.

Mengutip dari laman Keslan.kemkes, kondisi fisik seorang wanita dalam menghadapi kehamilannya memang berbeda satu sama lain. Namun, kalori yang dibutuhkan untuk memberikan asupan bagi ibu dan janin adalah sekitar 2.200-2.300 kalori per hari. Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi yang berbeda bagi para ibu dalam menghadapi saat-saat puasa di bulan Ramadan.

Tak sedikit para ibu merasa bersalah dengan puasa yang dijalaninya namun banyak juga yang merasa santai saja menjalani puasa tanpa menghirukan keadaan fisiknya dan sang bayi sehingga mereka bisa tetap berpuasa dengan tenang.

Nah, bagi para ibu yang memiliki kondisi fisik yang lemah dan mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus berpuasa di bulan Ramadan, ada baiknya mempertimbangkan kembali kondisi tersebut dan berkonsultasi dengan dokter apakah memang cukup aman jika terus berpuasa.

Perlu Bunda ketahui bahwa seorang ibu hamil dengan  kondisi kesehatan dan kehamilan yang normal dapat menjalankan ibadah puasa bila usia kandungan mencapai 4-7 bulan. Sebab, pada usia tersebut kondisi ibu hamil sedang dalam fase penyesuaian. 

Sementara, seorang ibu hamil dengan usia kehamilan muda (trimester awal) boleh saja menjalankan ibadah puasa namun harus dengan memperhatikan kesehatannya karena biasanya kesehatan ibu hamil pada usia kehamilan muda cenderung tidak stabil di mana mereka sering mudah muntah (hiperemesis) dan sering pusing atau lemah. 

Kondisi hiperemesis sendiri dapat mengakibatkan homeostasis ibu hamil ternganggu dikarenakan ibu kehilangan banyak cairan tubuh dan nutrisi sehingga hal tersebut dianggap membahayakan ibu dan janin. Selain itu, pada kehamilan lebih dari 7 bulan, janin cenderung memerlukan asupan nutrisi yang lebih banyak sehingga pada usia kandungan tersebut ibu hamil sering terlihat lemas. 

Apakah hamil tua puasa mengganggu perkembangan janin?

Mengutip dari laman Pregnancy Birth Baby, banyak dokter tidak merekomendasikan puasa jika perempuan sedang hamil trimester kedua atau ketiga. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menyelidiki efek puasa terhadap kesehatan Bunda dan juga kesehatan bayi dalam kandungan.

Jika Bunda memiliki komplikasi medis selama kehamilan, seperti diabetes gestasional, ada baiknya bicarakan dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa. Sehingga, puasa yang nantinya dijalankan aman bagi kesehatan Bunda dan bayi.

Mengutip dari laman Kailashhealthcare, trimester ketiga merupakan tahap akhir untuk penambahan berat badan dan perkembangan otak bayi. Ada beberapa risiko yang patut diwaspadai di trimester ini ya, Bunda, terutama ketika Bunda menjalani puasa:

1. Persalinan prematur

Dehidrasi akibat puasa diketahui sebagai pemicu kontraksi rahim dan kelahiran prematur. Sehingga, Bunda perlu mewaspadai risiko tersebut.

2. Cairan ketuban rendah

Dehidrasi memang dapat secara langsung mengurangi kadar cairan ketuban, yang sangat penting untuk melindungi bayi. Untuk itu, bagi ibu hamil yang memutuskan puasa sebaiknya menjaga diri agar terhindar dari risiko ini.

3. Kelelahan ibu

Beban fisik memang berada pada puncaknya, dan puasa bisa menyebabkan kelelahan ekstrem. Sehingga, penting bagi bumil mewaspadainya.

Infografis Kondisi Ibu Hamil yang Sebaiknya Tidak PuasaKondisi Ibu Hamil yang Sebaiknya Tidak Puasa/ Foto: HaiBunda/ Novita Rizki

3 Tips puasa saat hamil tua

Bagi ibu hamil yang ingin tetap berpuasa, penting untuk melihat kesiapan dan kondisi dari diri sendiri serta bayinya. Selain kondisi ibu hamil dan janin yang harus sehat, kecukupan nutrisi dan gizi seimbang juga menjadi syarat yang harus dipenuhi jika ingin menjalankan ibadah puasa. 

Dalam sebuah ulasan menyatakan bahwa tidak berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan janin karena selama puasa kebutuhan nutrisi dan gizi dapat tetap terpenuhi.

Pada prinsipnya, memenuhi nutrisi yang seimbang dan cairan yang cukup (minimal 2 liter air antara buka sampai sahur). Adapun komposisi gizi yang seimbang mencakup 50 persen karbohidrat, 30 persen protein, dan 10-20 persen lemak menjadi rekomendasi yang bisa dipenuhi setiap harinya. 

Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan oleh ibu hamil yang menjalani puasa:

1.  Diet tinggi serat, sayuran, buah, protein (ikan, kacang-kacangan, dan lainnya). Hindari garam dan gula berlebihan serta kafein
2. Minum air dengan cukup, susu, dan jus buah sebelum imsak. Disarankan minum air putih yang banyak saat berbuka puasa, sahur, dan waktu di antara buka - sahur untuk mengganti cairan tubuh yang hilang pada siang hari
3. Sebelum tidur malam, konsumsi snack, air atau jus, protein (susu) dan buah

Selain memperhatikan pola makan seperti anjuran di atas, ibu hamil yang sedang menjalani puasa juga sebaiknya tidak melakukan aktivitas yang berlebihan, menghindari cuaca yang panas, dan memiliki waktu istirahat yang cukup ya, Bunda.

Kapan ibu hamil harus berhenti puasa?

Meskipun berpuasa aman dilakukan ketika hamil, meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi diri dan bayi dalam kandungan juga perlu dilakukan ya, Bunda. Ibu hamil sendiri memang disarankan tidak memaksakan diri berpuasa bila kondisi-kondisi tertentu dialaminya. Dalam kondisi tertentu diharapkan ibu hamil dapat menghentikan puasanya terlebih dahulu.

Adapun kondisi-kondisi membahayakan yang perlu diketahui untuk membatalkan puasa yakni sebagai berikut:

1. Ibu hamil muda dengan morning sickness atau muntah-muntah saat kehamilan.
2. Ibu hamil dengan komplikasi atau ibu hamil yang kehamilannya bermasalah. Sebagai contoh, ibu hamil dengan tekanan darah tinggi atau diabetes, ataupun gangguan pencernaan lainnya.
3. Ibu hamil merasa sangat lelah dan merasa tidak dapat melanjutkan puasanya, pusing gemetar, mual dan demam. Kondisi demikian merupakan gejala berkurangnya kadar gula dalam darah (hipoglikemia).
4. Ketika ibu hamil menyadari bahwa asupan kalori dari makanannya tidak mencukupi. Bila ibu hamil dengan kondisi kesehatan yang tidak mendukung memaksakan puasa maka puasanya hanya akan mengganggu perkembangan janin.

7 Ciri-ciri ibu hamil tidak boleh puasa

Ibu hamil dengan kondisi yang baik tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman. Meski demikian, bumil tetap perlu memperhatikan kesehatan bayi dalam kandungan. Salah satunya yakni ibu hamil yang berpuasa tetap perlu memperhatikan gizi dan nutrisi untuk kebutuhan janin. 

Selain itu, ibu hamil juga perlu memperhatikan berat badannya ketika hamil. Apabila mengalami penurunan berat badan secara drastis, sebaiknya ibu hamil perlu memperhatikan asupan nutrisi dan gizi yang dibutuhkan janin. Sebab, penurunan berat badan secara drastis dapat membahayakan janin dalam kandungan.

Di antara berbagai kekhawatiran dari berpuasa pada ibu hamil yakni adanya gangguan pertumbuhan janin akibat turunnya asupan ke janin, turunnya berat badan ibu, penurunan kesejahteraan janin saat ibu berpuasa sehingga janin berkurang geraknya hingga kekhawatiran kematian janin, dan timbulnya keluhan ibu saat berpuasa seperti pusing, mual, rasa lapar, tidak sanggup beraktivitas dan sebagainya.

Karenanya, sebelum memutuskan untuk berpuasa, ketahui terlebih dahulu kondisi fisik diri sendiri dan bayi dalam kandungan serta diskusikan dengan dokter terkait keputusan tersebut. Ketahui juga bahwa ada beberapa ciri-ciri ibu hamil yang tidak boleh berpuasa seperti berikut ini, dikutip dari berbagai sumber:

1. Ibu hamil dengan diabetes melitus
2. Mengalami dehidrasi, terutama para ibu hamil yang masih mengalami morning sickness pada kehamilan trimester pertama
3. Ibu hamil yang mengalami gangguan pencernaan, seperti maag
4. Ibu hamil yang tidak mengalami peningkatan berat badan yang cukup atau bahkan mengalami penurunan berat badan
5. Ibu hamil yang menjadi sangat haus, buang air kecilnya lebih jarang, atau jika air kencingnya berwarna gelap karena hal tersebut menjadi tanda dehidrasi
6. Ibu hamil yang merasa pusing, lemas, lemah, bingung, atau lelah, bahkan setelah beristirahat dengan baik
7. Ibu hamil yang mengalami mimisan dan disertai gejala serius lainnya seperti pusing, nyeri dada, sulit bernapas dan sebagainya

Manfaat puasa bagi ibu hamil menurut Islam

Puasa selama kehamilan merupakan keputusan yang sangat personal bagi setiap orang. Termasuk bagi para muslimah yang ingin tetap menjalankan ibadah puasa dalam kondisi hamil. 

Berbicara mengenai puasa, sebenarnya ada banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika menjalaninya. Manfaat puasa bagi ibu hamil pun bisa didapatkan bagi mereka yang juga menjalankan ibadah tersebut. Berikut ini beberapa manfaatnya yang perlu diketahui ya, Bunda:

1. Kesehatan emosional

Bagi sebagian orang, berpuasa memberikan rasa tenang, koneksi, dan kekuatan emosional yang mendalam pada dirinya. Kondisi ini tentunya sangat bermanfaat bagi kesehatan selama kehamilan seperti dikutip dari laman Kailashhealthcare.

2. Memperbaiki metabolisme tubuh

Saat berpuasa, sel di dalam tubuh Bunda akan membersihkan sisa-sisa kotoran dan memperbaiki sistem metabolisme yang rusak seperti dikutip dari laman Health24.

3. Manfaat spiritual

Selain kesehatan mental, ibu hamil yang berpuasa juga mendapatkan manfaat spiritual yakni kedekatan kepada Sang Khalik yang terasa lebih intim. 

4. Meningkatkan imunitas tubuh

Firman Allah dalam QS Al Baqarah ayat 184 bahwa "Dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Sebuah penelitian tentang puasa yang dilakukan oleh Dr Ahmad Zainullah, dr., Sp.P dengan responden penelitiannya ialah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Lukanul Hakim (STAIL) Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.

Beliau membuktikan bahwa puasa meningkatkan potensi responsivitas limfosit, yaitu sel yang berfungsi mengatur irama sistem imunitas. Artinya, dengan berpuasa, tubuh tidak mudah terkena penyakit seperti dikutip dari Buku 99 Fakta Menakjubkan dalam Al Qur'an yang ditulis Gayatri Ida Susanti dan diterbitkan Mizan Mizania.

5. Menstabilkan gula darah bagi ibu hamil dengan diabetes gestasional

Bagi ibu hamil dengan diabetes gestasional, melaksanakan puasa bukan sekadar ibadah semata. Ternyata, puasa juga bisa membantu bumil dengan riwayat diabetes gestasional dalam menstabilkan kadar gula darah mereka, seperti dikutip dari laman Baby Centre. 

Itulah beberapa serba serbi mengenai puasa saat hamil tua ya, Bunda. Apa pun keputusan Bunda terkait berpuasa, semoga Bunda dan bayi dalam kandungan senantiasa sehat sampai persalinan. 

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda