Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Studi Terbaru Ungkap Bahaya Diabetes saat Hamil, Bisa Tingkatkan Risiko Epilepsi pada Anak

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 11 Mar 2026 07:10 WIB

Diabetes Hamil
Studi Terbaru Ungkap Bahaya Diabetes saat Hamil, Bisa Tingkatkan Risiko Epilepsi pada Anak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/geargodz
Daftar Isi
Jakarta -

Diabetes saat hamil merupakan salah satu komplikasi yang dapat memengaruhi janin. Studi terbaru mengungkap dampak dabetes saat hamil bisa meningkatkan risiko epilepsi pada anak, Bunda.

Studi ini merupakan analisis kohort retrospektif tahun 2026 terhadap lebih dari 2,3 juta kelahiran. Hasil studi menemukan bahwa paparan prenatal terhadap hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) pada ibu dapat berkontribusi melalui jalur metabolisme dan inflamasi. Studi juga mengungkap bahwa risiko absolut tetap rendah dan manajemen yang baik dapat mengurangi ancaman tersebut.

Para ahli menekankan bahwa keterkaitan tersebut seharusnya tidak memicu kepanikan, tetapi justru memperkuat perlunya pemantauan yang lebih ketat dan intervensi dini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Diabetes saat hamil dan perkembangan otak

Konsultan obstetri dan ginekologi di Fortis Hospital (Faridabad), Dr. Isha Wadhawan, mengatakan bahwa kadar gula darah tinggi selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak anak pada periode kritis. Perkembangan otak ini mengarah pada kondisi epilepsi atau kejang berulang.

"Kadar gula darah tinggi selama fase-fase penting perkembangan janin dapat mengubah struktur dan fungsi otak, berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap kejang," kata Wadhawan, dilansir laman First Post.

"Peradangan dan stres oksidatif yang terkait dengan diabetes juga dapat memengaruhi kesehatan otak janin," sambungnya.

Menurut konsultan penyakit dalam dan Diabetologi di SPARSH Hospital, Dr. Ashok MN, diabetes pada kehamilan lebih dari sekadar peningkatan kadar glukosa darah. Ketika seorang ibu mengalami hiperglikemia yang terus-menerus, kelebihan glukosa akan melewati plasenta dan mendorong janin untuk memproduksi insulin dalam jumlah tinggi. Perubahan kondisi metabolisme tersebut dapat memengaruhi pematangan otak, terutama ketika kadar gula darah berfluktuasi secara signifikan.

"Ini mewakili kondisi hormonal dan inflamasi yang kompleks," ungkap Ashok.

Anak-anak yang lahir dari ibu dengan diabetes Tipe 1 atau Tipe 2 mungkin menghadapi risiko epilepsi 30 hingga 40 persen lebih tinggi. Sementara diabetes saat hamil bisa membawa risiko yang lebih rendah, tetapi tetap signifikan.

"Kadar glukosa ibu yang tinggi dapat menciptakan lingkungan pro-inflamasi di plasenta. Peradangan di awal kehidupan dapat mempersiapkan sirkuit otak untuk hipereksitabilitas yang merupakan ciri khas epilepsi," ujar konsultan senior dan ahli neurologi anak di Narayana Health City, Dr. Minal Kekatpure.

"Bayi dari ibu dengan diabetes rentan terhadap penurunan glukosa yang signifikan tak lama setelah lahir. Kasus yang parah dapat memicu kejang akut dan mungkin meninggalkan perubahan jangka panjang pada jaringan otak," sambungnya.

Periode kritis perkembangan otak anak

Janin mengalami pertumbuhan otak yang pesat, terutama selama trimester kedua dan ketiga. Kadar glukosa darah tinggi dan berkelanjutan dapat menembus plasenta hingga akhirnya memengaruhi tahapan perkembangan di tahap sensitif ini, Bunda.

Jika kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik, penelitian menunjukkan ada risiko lebih tinggi terkena kondisi neurodevelopmental, termasuk gangguan kejang. Namun, perubahan epigenetik pada trimester pertama dapat menurunkan ambang batas kejang pada anak dalam jangka panjang.

"Ini tidak berarti bahwa setiap bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes akan menderita epilepsi. Tentu dengan pengelolaan diabetes yang tepat, banyak potensi komplikasi dapat dikurangi secara signifikan," kata Wadhawan.

Cara mencegah risiko gangguan perkembangan otak karena diebetes

Pengendalian kadar gula datah yang cermat sebelum dan selama kehamilan adalah cara paling efektif untuk mengurangi risiko. Bunda disarankan untuk melakukan skrining dini untuk diabetes gestasional melalui pengujian rutin, pemantauan glikemik yang ketat, pelacakan glukosa berkelanjutan jika diperlukan, panduan diet yang dipersonalisasi, dan terapi insulin tepat waktu.

Menstabilkan kadar gula darah dapat menciptakan lingkungan intrauterin yang lebih sehat. Pada akhirnya, hal tersebut dapat mendukung perkembangan otak yang optimal.

Selain itu, perawatan pasca persalinan juga tak boleh terlewat, Bunda. Memantau kadar gula darah bayi baru lahir dan segera mengatasi hipoglikemia dapat menjadi lini pertahanan kedua.

Demikian hasil studi yang mengungkap dampak diabates saat hamil dengan kejadian epilepsi pada anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda