KEHAMILAN
Kisah Bunda Berhasil Mengatasi Depresi Postpartum dengan Mengubah Gaya Hidup
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Senin, 06 Apr 2026 15:20 WIBKondisi mental perlu diperhatikan setelah melahirkan. Pasalnya, setiap perempuan dihadapkan dengan bayang-bayang depresi postpartum yang dapat mengganggu aktivitas usai melahirkan.
Depresi postpartum merupakan suatu bentuk depresi yang terjadi setelah bayi lahir. Bunda yang mengalami depresi postpartum dapat merasa hampa, tanpa emosi, dan mengalami kesedihan yang luar biasa berat. Hal tersebut juga dapat menyebabkan perubahan suasana hati, kelelahan, dan rasa putus asa yang berlangsung dalam waktu lama setelah persalinan.
"Orang-orang tidak boleh menganggap enteng depresi postpartum. Ini adalah kondisi yang serius, namun berbagai program pengobatan dapat membantu mengatasinya. Jika mengalami depresi postpartum, maka perempuan itu perlu tahu bahwa ia tidak sendirian dan bisa pulih," ujar profesor, peneliti, dan praktisi kesehatan holistik, Debra Rose Wilson, Ph.D, dilansir Healthline.
Depresi postpartum ternyata dapat diatasi dengan mengubah gaya hidup atau rutinitas. Setidaknya hal itu berhasil dilakukan oleh Bunda bernama Anindita Ray.
Perempuan dari Kolkata, India, ini berhasil mengatasi depresi pasca persalinan melalui meditasi, latihan kekuatan, dan pemenuhan nutrisi. Dari perubahan gaya hidup itu, Ray juga berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 12 kilogram (kg) usai melahirkan.
Kisah Bunda berhasil mengatasi depresi postpartum
Dilansir laman Live Mint, Anindita Ray menceritakan awal mula mengalami depresi postpartum. Setelah melahirkan, Ray mengalami rasa cemas, mudah tersinggung, dan terputus dari dunia luar. Tekanan untuk 'kembali pulih' secara fisik memperburuk masalah kesehatan mentalnya.
Selama mengalami depresi postpartum, Ray sering merasa lelah, mengalami gangguan tidur, serta kerap makan terburu-buru dan sering kali tidak sehat. Ia tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri hingga berat badannya terus naik.
Kondisi tersebut membuat Ray merasa bersalah. Ia merasa tidak bisa menikmati hidupnya dan cemas karena tak percaya bisa mengendalikan tubuhnya lagi.
"Saya tidak menjalani program diet dan olahraga selama 12 minggu. Itu (mengatasi depresi) adalah proses dua tahun yang dilakukan secara perlahan dan dengan sengaja, berdasarkan tiga pilar, yakni meditasi, latihan beban, dan perencanaan makan yang seimbang," kata Ray.
Cara Ray mengatasi depresi postpartum
Seperti dijelaskan, Ray fokus pada tiga hal untuk mengatasi depresi postpartum yang dialaminya. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Meditasi
Perubahan pertama yang Ray lakukan adalah meditasi. Ia mulai dengan sepuluh menit sehari, dengan menciptakan ruang ketenangan kecil di tengah rutinitas yang kacau.
Ia memulai meditasi dengan duduk dalam keheningan. Hal itu mendorongnya untuk menghadapi keraguan terhadap diri sendiri, pikiran membandingkan diri dengan orang lain, kelelahan, dan gejolak emosi yang selama ini disembunyikannya.
Secara perlahan, meditasi menjadi tombol reset-nya untuk emosi yang sulit dijelaskan. Meditasi membantunya mengatur perubahan suasana hati dengan lebih baik, mengatasi kecemasan, dan bereaksi terhadap stres dengan lebih tenang. Sesi sepuluh menit itu menumbuhkan ketahanan mental Ray dari waktu ke waktu dan mengurangi keparahan depresi pasca persalinannya.
2. Latihan beban
Ray berkomitmen untuk melakukan latihan beban tiga kali seminggu. Pada awalnya, tubuh Ray terasa lemah dan asing. Namun, dengan penuh kesabaran, ia menjalaninya secara perlahan.
Latihan mengangkat beban ini mulai mengembalikan kepercayaan diri Ray secara fisik. Latihan juga bermanfaat bagi metabolisme, postur, dan stamina tubuhnya.
Lebih penting lagi, latihan angkat beban mampu mengubah perspektif Ray, Bunda. Dia merasa lebih mampu setiap kali mengangkat beban yang lebih berat dari sebelumnya. Minatnya pun bergeser dari sekadar fokus menurunkan berat badan menjadi meningkatkan kekuatan.
3. Pemenuhan nutrisi yang tepat
Pilar terakhir dalam mengatasi depresi postpatum adalah pemenuhan nutrisi yang tepat. Alih-alih diet ketat, Ray memilih nutrisi yang seimbang untuk pola makannya setiap hari.
Ia memenuhi kebutuhan protein, serat, dan lemak sehat yang cukup, serta menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Ia tahu bahwa pemulihan pasca persalinan membutuhkan bahan bakar, bukan 'hukuman'. Itu artinya, nutrisi teratur dan keseimbangan energi yang stabil dapat mengurangi keinginan makan berlebihan.
Sembuh postpartum setelah ubah gaya hidup selama dua tahun
Ray butuh dua tahun untuk mengatasi depresi postpartum dengan mengubah gaya hidup. Setelah konsisten menjalaninya, ia tak hanya dapat mengatasi depresi, tapi juga membentuk citra diri terhadap tubuh yang lebih positif, Bunda.
"Ada tantangan selama dua tahun, seperti melewatkan latihan, hari-hari yang terasa berat karena emosi, stagnasi penurunan berat badan. Tetapi saya memilih konsistensi daripada kesempurnaan," kata Ray.
"Saya mulai berhenti mengejar solusi cepat. Saya fokus pada praktik yang akan membawa saya menuju kebiasaan yang berkelanjutan. Sedikit demi sedikit, berat badan mulai turun. Pada akhirnya, saya kehilangan 12 kg," sambungnya.
Ada satu perubahan paling drastis yang terjadi di dalam diri Ray usai mengubah gaya hidupnya selain penurunan berat badan. Ia berhasil mengatasi 'kabut mental'. Hal itu membuat kecemasan menjadi terkendali dan kualitas tidur membaik. Ray pun berusaha untuk hadir di kehidupan anaknya dan lebih percaya diri dalam kehidupan pekerjaannya.
Demikian kisah Bunda yang berhasil mengatasi depresi postpartum dengan mengubah gaya hidup. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Jumlah Dokter Kandungan Laki-Laki Semakin Sedikit, Apa Penyebabnya?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Cerita Jennifer Lawrence saat Hamil 5 Bulan, Berat Perankan Ibu dengan Depresi Postpartum
Ayah di China Ini Alami Depresi Postpartum Setelah Berhenti Kerja demi Mengasuh Bayi
Depresi Postpartum: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasinya & Bedanya dengan Postpartum Blues
Jangan Tertukar Bunda, Ini Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum
TERPOPULER
Potret Prewed Teuku Rassya dan Cleantha Islan, Bernuansa Jawa dan Modern
Resep Marinasi Ayam Geprek Seenak Restoran Terkenal, Coba Bikin Bun!
10 Kebiasaan Memasak yang Harus Dihindari agar Masakan Lebih Lezat
8 Rekomendasi Sekolah untuk Anak Autis Terdekat di Jakarta & Cara Memilih yang Terbaik
Cara Efektif Membantu Anak Menghindari Godaan dan Membuat Pilihan Bijak
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi CCTV untuk Rumah, Pantau dari HP dengan Mudah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
3 Rekomendasi Baju Anak Perempuan yang Terinspirasi dari Para Pemeran Na Willa
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kompor Listrik yang Awet dan Cocok untuk Dapur Modern
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Berminyak, Sudah Coba Bunda?
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Obat Lambung untuk Ibu Hamil yang Aman Tersedia di Apotek
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Adinda Thomas Gelar Intimate Gender Reveal Kehamilan Pertama, Bakal Dikaruniai Baby Boy!
Cerita Dongeng Rakyat Roro Jonggrang dan Pesan Moralnya
Potret Prewed Teuku Rassya dan Cleantha Islan, Bernuansa Jawa dan Modern
Kronologi Konflik Tsania Marwa & Atalarik Syach
8 Rekomendasi Sekolah untuk Anak Autis Terdekat di Jakarta & Cara Memilih yang Terbaik
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Berjaya di Musim Pertama, Anime Solo Leveling Kini Alami Kemunduran
-
Beautynesia
5 Cara Mengatasi Rambut Kering dan Bercabang agar Tampak Sehat
-
Female Daily
Barrel Jeans Petite-Friendly yang Jadi Favorit Bulan ini!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Setelah Mark Lee, Ten NCT Umumkan Hengkang dari SM Entertainment
-
Mommies Daily
Isi Tas Melahirkan Apa Saja? Ini Checklist Lengkap untuk Ibu & Bayi ke Rumah Sakit