Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Pasutri Ini Syok, Tes DNA Ungkap Bayi Kembar Hasil IVF Bukan Anak Kandung

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Rabu, 24 Jun 2026 08:50 WIB

Ilustrasi bayi kembar
Pasutri Ini Syok, Tes DNA Ungkap Bayi Kembar Hasil IVF Bukan Anak Kandung/Foto: Getty Images/iStockphoto/Avril Morgan
Daftar Isi
Jakarta -

Kebayang nggak sih, Bunda, sudah menanti lama, berjuang lewat program IVF, lalu akhirnya punya anak kembar, tapi kemudian muncul hasil tes DNA yang menunjukkan bahwa anak tersebut tidak memiliki kemiripan genetik sama sekali dengan orang tuanya. Pasti syok banget kan?

Itulah yang terjadi dari sebuah kisah mengejutkan datang dari Gurugram, India, yang membuat banyak orang tua terutama yang sedang menjalani program bayi tabung (IVF) ikut terhenyak. Sepasang suami istri mengalami momen yang sangat emosional setelah hasil tes DNA anak kembar menunjukkan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan: kedua bayi yang mereka besarkan ternyata tidak memiliki hubungan genetik dengan mereka.

Kasus ini dilaporkan oleh Times of India dan langsung menarik perhatian karena menyangkut dugaan adanya kesalahan dalam proses bayi tabung yang seharusnya sangat ketat dan terkontrol.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebahagiaan yang berubah menjadi tanda tanya

Pasangan ini sebelumnya telah lama menantikan kehadiran buah hati. Setelah berbagai usaha, mereka akhirnya memutuskan menjalani prosedur IVF. Harapan besar itu pun terjawab ketika sang istri melahirkan bayi kembar yang sehat.

Seperti orang tua pada umumnya, Rahul Rathore ayah dari bayi kembar tersebut merasa lengkap impian memiliki anak akhirnya terwujud. Namun seiring waktu, muncul kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan. Hingga akhirnya, demi mendapatkan kepastian, mereka melakukan tes DNA.

Hasil tes DNA yang mengguncang emosi

Hasil pemeriksaan tersebut justru membawa kabar yang sangat mengejutkan: bayi kembar yang mereka rawat sejak lahir tidak memiliki kecocokan DNA dengan kedua orang tua. Artinya, secara biologis, anak-anak tersebut bukan berasal dari pasangan ini.

Temuan ini tentu saja menjadi pukulan berat secara emosional. Bagi orang tua mana pun, ikatan dengan anak bukan hanya soal genetik, tetapi juga tentang cinta, pengasuhan, dan kebersamaan sejak hari pertama kehidupan.

Namun di sisi lain, hasil ini juga memunculkan dugaan adanya kesalahan serius dalam proses IVF yang mereka jalani.

Dugaan terjadinya kesalahan proses IVF

Dalam laporan yang beredar, pasangan ini menduga adanya kemungkinan kesalahan penanganan embrio di klinik fertilitas tempat mereka menjalani program bayi tabung.

Kesalahan semacam ini meskipun jarang terjadi dapat terjadi jika prosedur pengelolaan embrio tidak dilakukan dengan pengawasan yang sangat ketat.

Pasangan tersebut kemudian membawa kasus ini ke ranah hukum untuk mendapatkan kejelasan, termasuk keberadaan anak kandung mereka yang sebenarnya.

Risiko Embryo Mix-Up

Kasus seperti hasil tes DNA yang menunjukkan bayi IVF tidak memiliki hubungan genetik dengan orang tua memang terdengar mengejutkan. Namun dalam dunia medis, kondisi seperti ini sudah pernah dibahas dalam berbagai penelitian sebagai risiko yang sangat jarang tetapi diakui dalam prosedur assisted reproductive technology (ART), termasuk IVF.

Berikut rangkuman temuan dari penelitian medis dan pedoman internasional yang relevan.

1. Embryo mix-up diakui sebagai insiden serius dalam IVF

Studi dalam Journal of Assisted Reproduction and Genetics (2026) menyebut bahwa kesalahan identifikasi embrio termasuk dalam kategori serious adverse event dalam praktik IVF.

Kesalahan ini dapat terjadi pada beberapa titik proses, seperti:

Salah label pada sampel atau embrio

Kesalahan identifikasi pasien

Kegagalan sistem pelacakan

Human error di laboratorium

Penelitian menegaskan bahwa kasus seperti ini sangat jarang, tetapi tetap mungkin terjadi jika sistem pengawasan tidak berjalan sempurna.

2. Kesalahan IVF umumnya bersifat sistemik, bukan tunggal

Penelitian juga menekankan bahwa embryo mix-up biasanya bukan akibat satu kesalahan individu, tetapi gabungan beberapa faktor yang disebut sebagai system failure.

Faktor yang sering berkontribusi:

SOP yang tidak dijalankan secara konsisten

Beban kerja tinggi di laboratorium

Komunikasi yang kurang efektif antar petugas

Kelelahan tenaga medis (fatigue)

Kurangnya verifikasi berlapis pada beberapa tahap

Dengan kata lain, kesalahan kecil di beberapa tahap bisa terakumulasi hingga tidak terdeteksi.

3. Standar internasional mewajibkan sistem verifikasi berlapis

Organisasi seperti European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) telah menetapkan standar ketat untuk mencegah kesalahan dalam IVF.

Protokol yang direkomendasikan meliputi:

Identifikasi pasien menggunakan beberapa parameter

Sistem double witness (verifikasi oleh dua petugas)

Chain of custody untuk setiap embrio

Pelacakan digital dari awal hingga transfer embrio

Tujuan utama sistem ini adalah memastikan tidak ada kesalahan identifikasi dalam seluruh proses.

4. IVF aman, tetapi risiko administratif tidak sepenuhnya nol

Secara umum, IVF adalah prosedur medis yang sudah sangat maju dan relatif aman, dengan tingkat keberhasilan sekitar 20–40% per siklus tergantung kondisi pasien.

Namun penelitian juga menegaskan dua hal penting:

Risiko biologis relatif rendah

Risiko administratif seperti kesalahan identifikasi tetap ada, meskipun sangat kecil

Karena itu, sistem pelacakan embrio (traceability system) menjadi komponen penting dalam praktik IVF modern.

 

5. Teknologi membantu, tetapi tidak menghilangkan risiko sepenuhnya

Beberapa klinik fertilitas kini menggunakan teknologi tambahan seperti:

Barcode tracking

RFID tagging

Sistem verifikasi digital

Monitoring berbasis AI

Teknologi ini terbukti meningkatkan keamanan proses, tetapi studi menunjukkan bahwa:

Risiko kesalahan dapat dikurangi secara signifikan

Namun tidak bisa dihilangkan hingga nol persen

Artinya, faktor manusia dan sistem tetap menjadi bagian penting yang harus dikendalikan.


Pelajaran bagi Bunda yang Sedang Berjuang Program Hamil

Kisah ini tentu sangat menggetarkan hati. Namun bagi para Bunda yang sedang atau akan menjalani program IVF, ada beberapa hal penting yang bisa menjadi perhatian:

Pilih klinik fertilitas yang terpercaya dan memiliki standar tinggi
Pastikan fasilitas memiliki reputasi baik, tenaga medis berpengalaman, dan sistem pengawasan ketat.

Prosedur IVF harus memiliki sistem pelabelan yang sangat ketat
Embrio biasanya diberi identitas khusus untuk menghindari kesalahan.

Jangan ragu untuk bertanya detail prosedur
Bunda berhak tahu bagaimana embrio disimpan, dipindahkan, dan diawasi.

Second opinion itu penting
Jika ada keraguan, tidak ada salahnya mencari pendapat medis kedua.

Ikatan Orang Tua dan Anak Tidak Selalu Soal Genetik

Meski kasus ini sangat mengejutkan, satu hal yang penting untuk diingat adalah bahwa menjadi orang tua tidak hanya soal hubungan darah. Kasih sayang, pengasuhan, dan kebersamaan sehari-hari adalah hal yang membangun ikatan terdalam antara orang tua dan anak.

Namun tentu saja, dalam konteks medis seperti IVF, keakuratan prosedur tetap menjadi hal yang tidak bisa ditawar.



(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda