HaiBunda

KEHAMILAN

Terobosan Baru IVF, Peneliti Kembangkan Sperma Bermagnet untuk Bantu Pembuahan

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Senin, 22 Jun 2026 20:00 WIB
Terobosan Baru IVF, Peneliti Kembangkan Sperma Bermagnet untuk Bantu Pembuahan/Foto: Getty Images/iStockphoto/ClaudioVentrella
Jakarta -

Bunda, dunia teknologi kesuburan kembali menghadirkan inovasi yang terdengar seperti sains masa depan: Sperma yang bisa dikendalikan dengan magnet. Teknologi ini disebut magnetic sperm manipulation atau sperma bermagnet, dan sedang dikembangkan untuk membantu proses pembuahan pada program bayi tabung (IVF).

Meski masih dalam tahap penelitian, pendekatan ini dinilai berpotensi membantu kasus infertilitas, terutama yang berkaitan dengan rendahnya kualitas atau pergerakan sperma (motilitas).

Penemuan teknologi sperma bermagnet

Sperma bermagnet adalah istilah untuk sperma yang dibantu bergerak menggunakan partikel atau medan magnet dalam penelitian teknologi reproduksi, terutama pada program bayi tabung (IVF).


Secara alami, sperma bergerak sendiri untuk mencapai sel telur. Namun dalam konsep ini, ilmuwan mencoba menambahkan bantuan dari luar agar pergerakan sperma bisa lebih terarah dan efektif.

Dalam penelitian ini, ilmuwan menggunakan nanopartikel magnetik yang sangat kecil dan ditempelkan ke sperma. Partikel ini tidak mengubah DNA atau genetika sperma, tetapi membuatnya bisa 'dipandu' menggunakan medan magnet dari luar tubuh atau di dalam alat laboratorium.

Dengan cara ini, sperma bisa:

  • Diarahkan lebih tepat menuju sel telur,
  • Dibantu bergerak lebih efektif,
  • Meningkatkan peluang terjadinya pembuahan di kondisi IVF.

“Ide utama kami adalah melakukan reproduksi berbantuan secara in vivo, memanfaatkan tubuh sebagai inkubator alami,” kata Mariana Medina-Sánchez di institut nanosains CIC nanoGUNE di Spanyol dikutip dari Newscientist.

Cara kerja sperma bermagnet dalam IVF

Secara umum dalam studi laboratorium:

Sperma dikumpulkan dari sampel semen.Sperma dilapisi atau dikombinasikan dengan magnetic nanoparticles (MNPs).Medan magnet eksternal digunakan untuk mengarahkan pergerakan sperma. Sperma yang 'ditargetkan' kemudian didekatkan ke sel telur untuk fertilisasi.

Beberapa penelitian juga mengembangkan konsep microswimmer (mikrorobot berbasis magnet) yang membantu membawa sperma ke lokasi yang lebih ideal.

Studi yang mendukung pengembangan metode ini

Teknologi ini bukan sekadar konsep, Bunda. Sudah ada beberapa studi yang mendukung pengembangan metode ini:

1. Seleksi sperma dengan nanopartikel magnetik

Penelitian dalam Journal of Animal Science and Biotechnology menunjukkan bahwa nanopartikel magnetik dapat digunakan untuk menyaring sperma berkualitas tinggi dan mengurangi sperma yang rusak atau tidak optimal.

2. Sperm micromotor berbasis magnet

Penelitian di Angewandte Chemie (2020) mengembangkan micromotor magnetik yang dapat menangkap dan mengangkut sperma secara aktif.

3. Sperm bio-hybrid microrobot (IRONSperm)

Penelitian lain menunjukkan sperma dapat dijadikan microrobot bio-hybrid dengan bantuan nanopartikel magnetik untuk navigasi yang lebih presisi.

4. Studi terbaru (2026): nanoteknologi dalam reproduksi

Review ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal yang berjudul Nanotechnology and Male Reproduction: Exploring the Benefits and Challenges juga menyebutkan bahwa nanoteknologi semakin banyak diteliti untuk meningkatkan keberhasilan assisted reproductive technology (ART), termasuk IVF.

Apakah sudah bisa diterapkan pada manusia?

Jawabannya: Belum, Bunda.

Teknologi sperma bermagnet saat ini masih berada pada tahap penelitian laboratorium (pre-klinis) dan belum digunakan sebagai prosedur resmi di klinik IVF pada manusia. Bahkan hingga sekarang, studi tentang sperma bermagnet atau teknologi sejenis (nanopartikel magnetik dan microrobot sperma) masih dilakukan pada:

  • Model laboratorium (in vitro)
  • Hewan percobaan dalam beberapa studi awal
  • Sistem simulasi reproduksi di laboratorium IVF

Artinya, semua masih dalam tahap uji konsep, belum sampai tahap terapi rutin pada manusia. Ada beberapa alasan penting:

1. Keamanan nanopartikel belum sepenuhnya terbukti

Ilmuwan masih meneliti apakah partikel magnetik:

benar-benar aman bagi sperma dan sel telur, tidak mengganggu perkembangan embrio,tidak meninggalkan efek jangka panjang.

2. Risiko pada embrio masih perlu dikaji

Karena proses IVF melibatkan embrio sangat awal, sedikit gangguan saja bisa berdampak besar pada perkembangan.

3. Standar medis sangat ketat

Teknologi reproduksi manusia harus melewati:

  • Uji pre-klinis,
  • Uji klinis bertahap (fase 1–3),
  • Persetujuan regulator kesehatan.

Potensi teknologi sperma bermagnet di masa depan

Bunda, meski saat ini sperma bermagnet masih tahap penelitian, para ilmuwan melihat teknologi ini punya potensi besar untuk mengubah cara kerja program bayi tabung (IVF) di masa depan. Jika suatu hari sudah dinyatakan aman dan lolos uji klinis, berikut beberapa kemungkinan manfaatnya:

1. Membantu kasus infertilitas pria

Salah satu potensi terbesar adalah membantu pria dengan motilitas sperma rendah (sperma lemah atau lambat bergerak).

Dengan bantuan medan magnet:

  • Sperma bisa diarahkan lebih tepat,
  • Peluang bertemu sel telur meningkat,
  • Proses pembuahan jadi lebih efisien.

2. Meningkatkan tingkat keberhasilan IVF

Saat ini, IVF tidak selalu berhasil dalam satu siklus. Dengan teknologi ini, di masa depan kemungkinan:

  • Tingkat keberhasilan bisa meningkat,
  • Proses seleksi sperma lebih presisi,
  • Jumlah percobaan IVF bisa berkurang.

3. Proses lebih 'terkontrol' di laboratorium

Selama ini, pembuahan dalam IVF masih banyak mengandalkan kondisi biologis alami di lab.

Dengan teknologi magnet:

  • Ilmuwan bisa 'mengarahkan' sperma ke sel telur,
  • Mengurangi ketidakpastian proses fertilisasi,
  • Meningkatkan efisiensi waktu di laboratorium.

4. Mengurangi kebutuhan prosedur invasif

Pada beberapa kasus IVF, dokter perlu teknik tambahan untuk membantu pembuahan.

Di masa depan, teknologi ini berpotensi mengurangi intervensi langsung pada sel reproduksi dan membuat prosedur lebih sederhana dan minim manipulasi manual.

5. Integrasi dengan teknologi lain

Sperma bermagnet juga bisa berkembang bersama:

  • Nanoteknologi medis
  • Microrobot biologis
  • AI di laboratorium IVF

Gabungan ini berpotensi menciptakan sistem reproduksi berbasis teknologi yang jauh lebih presisi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Luna Maya Hiatus Demi Promil, Inginkan Bayi Kembar

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

10 Hal yang Tidak Disukai Gen Z dari Cara Kerja Gen X dan Boomer di Tempat Kerja

Mom's Life Amira Salsabila

Seperti Anak Kembar, 5 Potret Djiwa & Djala Putri Nadine Chandrawinata yang Menggemaskan

Parenting Nadhifa Fitrina

Potret Ashanty & Anang Wisuda Bareng Azriel, Raih Gelar S2 hingga S3

Mom's Life Amira Salsabila

Terobosan Baru IVF, Peneliti Kembangkan Sperma Bermagnet untuk Bantu Pembuahan

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Fimosis pada Anak Laki-Laki: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Parenting Kinan

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Ciri Kepribadian Orang yang Membiarkan Piring Kotor Menumpuk Menurut Psikologi

Seperti Anak Kembar, 5 Potret Djiwa & Djala Putri Nadine Chandrawinata yang Menggemaskan

10 Hal yang Tidak Disukai Gen Z dari Cara Kerja Gen X dan Boomer di Tempat Kerja

Terobosan Baru IVF, Peneliti Kembangkan Sperma Bermagnet untuk Bantu Pembuahan

Potret Ashanty & Anang Wisuda Bareng Azriel, Raih Gelar S2 hingga S3

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK