sign up SIGN UP search


kehamilan

Program Hamil dengan Inseminasi Buatan, Bagaimana Tingkat Keberhasilannya?

Haikal Luthfi Jumat, 20 Nov 2020 19:38 WIB
Close up of doctor and  patient  sitting at the desk near the window in hospital caption
Jakarta -

Tak sedikit pasangan yang mengalami kondisi infertil atau ketidaksuburan, Bunda. Seperti adanya lendir pada mulut rahim yang tidak normal, saluran telur mengalami kerusakan, ataupun mutu sperma yang kurang baik.

Ini merupakan sebuah permasalahan sistem reproduksi yang digambarkan dengan kegagalan untuk memperoleh kehamilan. Infertil atau infertilitas menandakan seseorang tidak bisa hamil setelah setahun mencoba.

Jika seorang wanita bisa hamil tetapi terus mengalami keguguran atau lahir mati, hal tersebut juga termasuk infertilitas, Bunda.

Infertilitas bukan hanya masalah yang terjadi pada wanita saja, tetapi juga pada pria. Faktanya, pria dan wanita sama-sama cenderung memiliki masalah kesuburan. Untuk itu, diperlukan alternatif program hamil agar dapat segera memiliki momongan.

Salah satu alternatif program hamil yang banyak digunakan, yaitu inseminasi buatan atau intrauterine insemination (IUI). Mengutip HealthLine, inseminasi buatan merupakan metode perawatan kesuburan yang digunakan untuk mengantarkan sperma langsung ke leher rahim dengan harapan bisa hamil. Terkadang, sperma perlu disiapkan dahulu agar cepat hamil selama proses inseminasi buatan.

Selain itu, program ini bisa menjadi pilihan selain in vitro fertilization (IVF) atau program bayi tabung. Di samping biayanya lebih terjangkau, proses inseminasi buatan jauh lebih sederhana, yang mana sperma ditempatkan di dalam rahim, dan pembuahan terjadi secara normal.

Sedangkan proses bayi tabung melibatkan penggabungan antara sel telur, dan sperma untuk membentuk embrio di luar tubuh, di laboratorium. Begitu embrio terbentuk, baru ditempatkan ke dalam rahim.


Proses inseminasi buatan

Proses inseminasi buatan sangat sederhana dan hampir tidak menimbulkan rasa sakit. Dikutip dari laman Very Well Family, untuk prosedurnya sendiri menggunakan sebuah kateter tabung kecil, dan tipis yang akan dipasangkan pada serviks wanita. Ini memungkinkan wanita mengalami kram ringan pada saat pemasangan. Setelah itu, sperma yang telah diolah dan dipilih yang terbaik mutunya kemudian akan ditransfer ke dalam rahim melalui kateter dan dilepas.

Apabila ternyata sperma pihak suami tidak memenuhi syarat untuk terjadinya pembuahan, maka diperlukan bantuan sperma dari pria lain selama inseminasi buatan dengan sperma donor. Karakteristik fisik suami sedapat mungkin disesuaikan dengan pendonor, yang juga tidak mengetahui kepada siapa spermanya didonorkan.

Beberapa wanita mungkin merasa tidak nyaman jika ada benda yang dimasukkan ke dalam organ vital mereka. Terkadang suntikan khusus atau kateter juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan, terutama jika mereka memiliki stenosis serviks, atau lorong serviks sempit.

Jika Bunda ingin lebih nyaman, dianjurkan untuk minum banyak air agar kantong kemih penuh yang akan membantu selama prosedur. Menurut Dr. Martha Noel, asisten profesor obstetrics, gynecology dan reproductive sciences di University of California, San Francisco, hal tersebut bisa memudahkan dokter memasukkan kateter selama proses berlangsung.

"Kantong kemih yang penuh dapat membantu untuk mempermudah dokter memasukan kateter selama prosedur berlangsung", ujar Noel.

Happy Doctor Discussing With Couple In ClinicIlustrasi program inseminasi/ Foto: iStock

Efek inseminasi buatan

Dikutip dari laman Mayo Clinic, inseminasi buatan adalah prosedur yang relatif sederhana, aman, dan risiko komplikasi serius rendah. Adapun efeknya mungkin, meliputi:

  • Adanya sedikit risiko terkena infeksi akibat prosedur ini.
  • Terkadang proses pemasangan kateter di dalam rahim menyebabkan sedikit perdarahan pada vagina. Ini biasanya tidak berpengaruh pada kemungkinan kehamilan.
  • Inseminasi buatan sendiri tidak terkait dengan peningkatan risiko kehamilan ganda, kembar, atau lebih. Tetapi, ketika dikoordinasikan dengan obat pemicu ovulasi, risiko kehamilan ganda meningkat secara signifikan. Kehamilan ganda memiliki risiko yang lebih tinggi daripada kehamilan tunggal, termasuk persalinan dini dan berat lahir rendah.

Selain itu, dalam beberapa kasus, terdapat pula efek samping berat dari program inseminasi buatan yang bisa terjadi, seperti sesak napas, urine berwarna gelap, kram parah, hingga peningkatan berat badan secara mendadak. Disarankan untuk segera memberitahu dokter ketika efek samping berat dari program inseminasi buatan ini terjadi ya, Bunda.

Tingkat keberhasilan inseminasi

Dalam sebuah penelitian terhadap sekitar 1.000 siklus IUI, para peneliti menemukan bahwa tingkat keberhasilan per pasangan (lebih dari satu atau lebih siklus) sebagian besar bergantung pada usia wanita, riwayat medis, dan masalah kesuburan tertentu.

"Data aktual tentang tingkat keberhasilan IUI sangat sulit ditemukan karena penelitian mencakup populasi pasien yang berbeda usia, diagnosis infertilitas, dan lainnya," kata Dr. Paula C. Brady, spesialis endokrinologi reproduksi dan infertilitas di Columbia University Irving Medical Center.

Setiap pasangan akan memiliki respons yang berbeda terhadap IUI, dan sulit untuk memprediksi keberhasilannya. Mengutip Today's Parent, rata-rata, seorang wanita di bawah 35 tahun akan memiliki 10 sampai 20 persen kemungkinan hamil dengan setiap kali melakukan program IUI, sedangkan wanita di atas 40 akan memiliki kesempatan dua sampai dengan lima persen.

Jadi, Ini sangat tergantung pada usia dan faktor penyebab seseorang perlu melakukan inseminasi buatan ya, Bunda.

Simak juga Bunda, menguak mitos keberhasilan bayi tabung pada video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(haf/haf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi