Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Makin Canggih, AI Kelak Bisa Bantu Pemilihan Sperma dan Embrio untuk Sukseskan IVF

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Minggu, 09 Aug 2026 21:35 WIB

Ilustrasi embrio atau embrionik
Makin Canggih, AI Kelak Bisa Bantu Pemilihan Sperma dan Embrio untuk Sukseskan IVF/Foto: Getty Images/iStockphoto/luismmolina
Daftar Isi
Jakarta -

Gangguan pada sperma dengan permasalahan apa pun memang dapat mengganggu program kehamilan. Namun tak perlu khawatir, Bun, karena ke depannya kecanggihan teknologi semakin membantu kendala tersebut. Makin canggih, AI kelak bisa bantu pemilihan sperma dan embrio untuk sukseskan IVF.

Peluang keberhasilan program bayi tabung atau Fertilisasi in Vitro (IVF) memang tidak aja jaminan sukses 100 persen, sehingga celah-celah kegagalan terus diperbaiki semaksimal mungkin agar keberhasilannya semakin tinggi setiap waktu.

Seiring dengan kecanggihan teknologi, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bisnis kesuburan melibatkan artificial intelligence (AI) sebagai kecerdasan buatan serta mendorong teknologi lainnya untuk meningkatkan peluang keberhasilan IVF.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


IVF sendiri merupakan teknologi reproduksi yang revolusioner. Selama lebih dari 40 tahun, teknologi ini telah membantu jutaan orang yang mungkin tidak dapat memiliki anak jadi memiliki harapan untuk menjadi orang tua. Melalui IVF, pada 2024 ada lebih dari 100 ribu bayi lahir di AS. Meskipun angka tersebut cukup tinggi, namun beberapa ahli kesuburan percaya bahwa AI secara mutakhir dapat lebih meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan.

Teknologi IVF dan AI

Secara keberhasilan, hasil IVF yang positif memang bervariasi dari orang ke orang. Pada 2022, persentase keberhasilan kelahiran yang dibantu teknologi reproduksi hanya 37.5 persen di semua kelompok usia. Peluang keberhasilan juga cenderung menurun seiring bertambahnya usia, meski angka pastinya berbeda tergantung kondisi pasien dan metode ART yang digunakan, mengutip pernyataan the U.S. Centers for Disease Control and Prevention.

Para pendukung AI berpendapat bahwa teknologi ini dapat membantu memprediksi keberhasilan kehamilan dengan lebih baik dan memindai embrio untuk kualitas dan kondisi genetik yang mungkin memengaruhi peluang keberhasilan kelahiran. Namun, tidak semua ahli begitu optimis terkait hal tersebut.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa penyaringan embrio berbasis AI, terutama untuk sifat-sifat yang dapat diamati seperti tinggi badan atau warna mata, menimbulkan pertanyaan etis yang mendalam. Tidak jelas apakah alat AI membawa risiko yang lebih rendah daripada protokol pengujian genetik yang ada, atau apakah alat tersebut bahkan dapat memperkenalkan risiko baru seperti ancaman terhadap privasi data.

"Sama seperti masyarakat luas yang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan ini tentang kerangka kerja untuk AI, saya pikir bahwa penyedia reproduksi berbantuan perlu melakukan hal yang sama,” kata Mina Alikani, seorang ahli embriologi klinis dan ahli reproduksi.

Namun demikian, teknologi AI sudah memberikan pengaruh pada IVF, khususnya dalam cara seleksi embrio berbasis morfologi dilakukan. Aplikasi klinis sebagai pembelajaran mendalam digunakan untuk menilai apakah morfologi gamet akan berkontribusi pada keberhasilan pembuahan atau untuk menyaring embrio untuk penampilan spesifik dan sifat-sifat lainnya, termasuk disabilitas intelektual.

Biasanya, seorang ahli embriologi memeriksa embrio yang dihasilkan melalui IVF dan menilai kualitasnya berdasarkan karakteristik morfologi. Namun, AI berpotensi membantu proses tersebut. Sebuah systematic review pada 2023 menemukan bahwa, ketika analisis gambar atau time-lapse embrio dikombinasikan dengan informasi klinis, model AI memiliki median akurasi 81,5 persen dalam memprediksi kemungkinan terjadinya kehamilan klinis, dibandingkan 51 persen pada ahli embriologi.

Namun, angka tersebut merupakan hasil prediksi dalam penelitian dan belum menunjukkan bahwa AI terbukti meningkatkan angka kelahiran hidup atau keberhasilan IVF dalam praktik klinis.

Dari sana, klinik kesuburan pun memperhatikan hal tersebut. Beberapa platform AI, seperti Cercle, melatih model berdasarkan data hormonal, fisiologis, dan motilitas sperma yang dikumpulkan dari prosedur IVF. Dan, program yang dilatih berdasarkan data ini mungkin dapat memprediksi dengan lebih baik apakah sel telur dan sperma tertentu akan menghasilkan kehamilan yang sukses.

Menurut perusahaan rintisan kesuburan Herasight, AI dapat membantu membuat ketidakpastian itu lebih mudah dipahami. Dengan menggabungkan kumpulan data besar dari sumber seperti HFEA, SART, dan literatur klinis, kita dapat memodelkan berapa banyak sel telur, blastokista, embrio euploid, dan akhirnya kelahiran hidup yang secara realistis mungkin didapatkan pasien.

Uji coba pemilihan sperma dan embrio oleh AI 

Sebuah uji coba terkontrol acak kecil dari tahun 2025 menemukan bahwa AI sama baiknya, daripada metode pemilihan embrio tradisional. Namun, berdasarkan literatur terkini, “Sistem AI menunjukkan potensi dalam membantu seleksi sel telur, embrio, dan sperma, tetapi belum secara konsisten divalidasi untuk meningkatkan hasil klinis atau menggantikan penilaian ahli embriologi,” kata Alikani.

Namun realitanya saat ini, pengetahuan tentang kinerja AI dalam teknologi reproduksi berbantuan masih terbatas. Hanya ada beberapa uji coba terkontrol acak yang menguji efektivitasnya dalam meningkatkan hasil IVF. Karena prosedur pengumpulan data terus berubah dan bervariasi dari satu negara ke negara lain atau bahkan dari satu klinik ke klinik lain, maka sangat sulit untuk mensintesis kumpulan data besar untuk membantu menstandarisasi sistem penilaian embrio berbasis AI.

“Ini seperti Menara Babel,” kata David Sable, seorang ahli endokrinologi reproduksi dan anggota fakultas tambahan di Universitas Columbia.

Dalam sebuah makalah tahun 2025, Alikani dan rekannya menguraikan bagaimana standarisasi teknologi otomatisasi di seluruh laboratorium dan klinik dapat meningkatkan tingkat keberhasilan IVF.

Sementara itu, dalam tinjauan lain di 2025, sebuah tim ilmuwan berpendapat bahwa presisi harus menjadi prinsip panduan penggunaan AI dalam IVF.

“Personalisasi protokol stimulasi ovarium, seleksi gamet, dan anotasi serta seleksi embrio adalah area kritis di mana AI dapat memberikan manfaat yang signifikan,” tulis para penulis.

Meski demikian, mereka juga memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan apakah teknologi ini berhasil. “Integrasi AI ke dalam IVF menjanjikan kemajuan dalam perawatan pasien, tetapi potensi klinisnya membutuhkan evaluasi yang cermat dan penyempurnaan yang berkelanjutan.”

Tantangan selanjutnya

Tantangan lainnya bagi IVF yang dibantu AI adalah teknologi reproduksi ini tergolong masih baru dibandingkan dengan praktik medis lain yang lebih mapan, seperti bakteriologi. "IVF merupakan prosedur yang belum sepenuhnya matang dan industrinya pun demikian; aksesnya biasanya terbatas pada segelintir orang saja," ujar Sable. Satu siklus IVF bisa menelan biaya hingga USD50 ribu. Hal ini pun pada akhirnya menentukan siapa yang dapat mengakses perawatan kesuburan dan prosedur apa yang mungkin mereka pilih.

Sable juga berpendapat bahwa jika peneliti menggunakan kumpulan data pasien untuk melatih program AI baru, data tersebut harus dianonimkan agar tidak dapat disalahgunakan untuk tujuan yang tidak semestinya." Kebocoran data kesehatan dapat mengancam privasi pasien dan memakan biaya miliaran bagi industri kesehatan untuk menanganinya. Selain itu, model AI juga bisa mengalami "halusinasi" yang membuat kesalahan atau bahkan menghasilkan data palsu.

Di sisi lain, teknologi lain yang kini digunakan dalam IVF mengisyaratkan bahwa AI mungkin akan segera terintegrasi, meskipun dampaknya terhadap keberhasilan kehamilan dan kelahiran mungkin kecil.

Pada praktiknya, kurang lebih tingkat keberhasilan IVF paling tinggi hanya mencapai 50 persen, namun biasanya lebih rendah, bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun, ujar Alikani. Itulah sebabnya banyak klinik kesuburan mulai beralih ke AI untuk mencoba meningkatkan peluang keberhasilan tersebut seperti dikutip dari laman Scientificamerican.

"Ada kemungkinan kita bisa mencapai angka di atas 50 persen dalam waktu yang lebih singkat dari yang kita duga atau bayangkan dengan menggunakan AI, katanya. Namun saat ini, bukti yang ada tidak menunjukkan bahwa penerapan algoritma AI memberikan hasil yang lebih unggul."

Wah, semoga ke depannya bisa lebih sempurna lagi penerapan kombinasi teknolgi AI dalam program IVF untuk meningkatkan peluang keberhasilan ya, Bun.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda