Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Mengulik Cara Kerja Bayi Tabung dan Prosedurnya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 10 Sep 2026 07:30 WIB

Bayi tabung
Mengulik Cara Kerja Bayi Tabung dan Prosedurnya/Foto: Getty Images/Lacheev
Daftar Isi
Jakarta -

Program bayi tabung menjadi harapan baru bagi pejuang garis dua. Meski sudah familiar, banyak yang belum memahami prosedur dari program ini. Yuk, mengulik cara kerja bayi tabung dan prosedurnya.

In vitro fertilization atau IVF merupakan merupakan teknologi reproduksi berbantu guna membantu pasangan suami istri yang mengalami kendala dalam memiliki anak. Teknologi ini pun menjadi secercah harapan guna mewujudkan impian pasutri yang semula pupus harapan memiliki keturunan.

Apa itu program bayi tabung (IVF)?

In vitro fertilization atau juga dikenal sebagai IVF merupakan serangkaian prosedur kompleks yang dapat menghasilkan kehamilan. Prosedur ini merupakan pengobatan untuk infertilitas atau kondisi di mana pasangan tidak dapat hamil setelah setidaknya satu tahun mencoba. Selain itu, teknologi IVF juga dapat digunakan untuk mencegah pewarisan masalah genetik kepada anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


IVF sendiri merupakan jenis pengobatan kesuburan paling efektif yang melibatkan penanganan sel telur atau embrio serta sperma. Secara keseluruhan, kelompok pengobatan ini disebut sebagai teknologi reproduksi berbantu.

IVF dapat dilakukan menggunakan sel telur dan sperma pasangan itu sendiri. Prosedur ini juga bisa melibatkan sel telur, sperma, atau embrio dari pendonor yang dikenal maupun tidak dikenal. Dalam beberapa kasus seperti gestational carrier, seseorang yang menerima implantasi embrio di dalam rahimnya mungkin dilibatkan.

Cara kerja program bayi tabung (IVF)

Dalam prosedur IVF, sel telur yang matang diambil dari ovarium dan dibuahi oleh sperma di laboratorium. Kemudian, dilakukan prosedur untuk menempatkan satu atau lebih sel telur yang telah dibuahi dan  (disebut embrio) ke dalam rahim, tempat bayi berkembang. 

Dalam satu siklus lengkap IVF biasanya prosedur ini dapat memakan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu. Terkadang, tahapan ini dibagi menjadi beberapa bagian sehingga prosesnya bisa memakan waktu lebih lama seperti dikutip dari laman Mayo Clinic.

Mengapa program bayi tabung (IVF) dilakukan?

Terkadang, pasangan di awal-awal mungkin tidak memiliki masalah medis yang nyata. Namun, mereka ternyata memiliki permasalahan yakni kesulitan untuk hamil secara alami. Dalam situasi seperti ini, IVF atau In vitro fertilization sering kali direkomendasikan untuk meningkatkan peluang kehamilan seperti dikutip dari laman Genesisshospital.

Kenyataannya, memang urusan kesuburan hal yang sangat kompleks ya, Bunda. Beberapa faktor yang tidak terlihat secara kasat mata atau belum bisa dijelaskan mendetail pun dapat memengaruhi proses pembuahan. Itulah mengapa program IVF hadir untuk membantu pasutri yang sedang berusaha untuk hamil mendapatkan keturunan.

Berapa lama proses program bayi tabung dari awal hingga akhir?

Dalam satu siklus IVF lengkap biasanya prosedur ini akan memakan waktu antara 6-8 minggu. Lamanya durasi tersebut memang dibutuhkan untuk mengisi berbagai tindakan medis yang mencakup stimulasi, pengambilan sel telur, perkembangan embrio, dan tes kehamilan.

Jadwal dari masing-masing pasangan sendiri akan bervariasi tentunya. Semua hal tersebut bergantung pada rencana perawatan yang akan dijalani, riwayat kondisi medis sebelumnya, serta respons dari ovarium yang bersangkutan, seperti dikutip dari laman Monashivf.

Seberapa sering program bayi tabung dilakukan?

Berapa banyak siklus IVF yang perlu dilakukan pasangan untuk mendapatkan bayi memang menjadi pertanyaan wajar yang muncul dari setiap pasien. Ya, mengenai jumlah siklus IVF yang mungkin diperlukan untuk menghasilkan kelahiran bayi hidup yakni berkisar antara satu hingga tiga siklus lebih, dengan kemungkinan bahwa kelahiran mungkin tidak terjadi sama sekali melalui prosedur IVF.

Dan, jawaban yang sesungguhnya bagi pasangan memang tidak dapat dipastikan sebelumnya mengingat setiap pasangan atau pasien memiliki faktor-faktor individual yang memengaruhi tingkat keberhasilan program IVF itu sendiri.

Namun, pasien sering kali dapat memperoleh perkiraan yang masuk akal setelah dilakukan evaluasi dan pemeriksaan kesuburan secara menyeluruh, yang merupakan aspek penting dalam mencapai keberhasilan seperti dikutip dari laman Emberfertility.

Apa perbedaan program bayi tabung (IVF) dan IUI?

Pada pasangan yang kesulitan hamil secara alami, dokter spesialis kesuburan mungkin menyarankan prosedur IUI atau IVF. Selain itu, pasien dapat mempertimbangkan prosedur ini jika memang ingin hamil dengan menggunakan sperma donor.

Prosedur IUI sendiri atau intrauterine insemination merupakan prosedur di mana sperma ditempatkan langsung ke dalam rahim perempuan. Hal ini dapat memperpendek jarak tempuh sperma dan memberikan peluang lebih besar bagi sperma untuk mencapai sel telur.

"Untuk IUI, sampel air mani dicuci untuk memisahkan sperma dari cairan semen, lalu seluruh sampel sperma tersebut disuntikkan langsung ke dalam rahim," jelas Dr. Jenna Rehmer, spesialis kesuburan. 

Dikatakannya bahwa cara ini secara signifikan meningkatkan jumlah sperma di dalam rahim dibandingkan dengan hubungan seksual biasa, seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Biasanya, prosedur sederhana yang dilakukan di klinik ini dilaksanakan sehari setelah lonjakan hormon ovulasi dan biasanya hanya memakan waktu lima hingga 10 menit. Dokter akan menggunakan spekulum untuk menemukan letak serviks (leher rahim), lalu memasukkan kateter (tabung) tipis ke dalam rahim untuk menyuntikkan sampel sperma tersebut.

IUI terkadang dikombinasikan dengan induksi ovulasi, yaitu penggunaan obat-obatan untuk merangsang perkembangan dan pelepasan sel telur. Dengan prosedur tersebut tentunya dapat meningkatkan peluang terjadinya pembuahan pada sebagian orang.

Sementara itu pada prosedur IVF sendiri memang melibatkan lebih banyak tahapan di dalamnya. Biasanya, ovarium hanya memproduksi satu folikel setiap bulannya, namun dalam IVF, pasien akan menerima hormon suntik dosis tinggi untuk merangsang produksi banyak folikel.

"Tujuannya adalah menghasilkan 10 hingga 15 folikel yang berisi sel telur. Jumlah yang dihasilkan bisa berbeda-beda pada setiap perempuan yakni ada yang lebih banyak dan ada yang lebih sedikit. Semuanya tergantung pada usia, riwayat medis, serta faktor-faktor seperti cadangan ovarium," imbuh Dr Rehmer.

Setelah sel telur matang, dokter akan mengambilnya melalui vagina dalam prosedur bedah rawat jalan singkat (sekitar 10 menit) yang disebut pengambilan oosit. Sel telur tersebut kemudian dibawa ke laboratorium untuk dipertemukan dengan sperma pasangan atau donor; dan sel telur yang berhasil berkembang menjadi embrio akan ditransfer ke dalam rahim atau dibekukan untuk penggunaan di masa mendatang.

Dari kedua prosedur baik itu IUI dan IVF, masing-masing memang memiliki peran unik dalam menangani masalah kesuburan. Dijelaskan Dr Rehmer bahwa cara memulainya hanya dengan menghubungi dokter yang dapat memberikan masukan mengenai langkah selanjutnya dalam perjalanan kesuburan pasien dan dari mana sebaiknya pasien memulai.

Apa saja tahapan program bayi tabung?

Prosedur IVF memang memakan waktu cukup panjang di mana ada beberapa tahapan yang perlu dijalani pasien. Berikut ini tahapan program bayi tabung yang perlu Bunda tahu:

1. Konsumsi pil KB atau estrogen

Sebelum memulai perawatan IVF, tim medis mungkin akan meresepkan pil KB atau estrogen. Treatment ini digunakan untuk menghentikan perkembangan kista ovarium dan mengontrol waktu siklus menstruasi. Selain itu, hal ini memungkinkan tim medis mengontrol perawatan Bunda dan memaksimalkan jumlah sel telur yang matang selama prosedur pengambilan sel telur.

2. Stimulasi ovarium

Selama setiap siklus alami pada orang sehat usia reproduksi, sekelompok sel telur mulai matang setiap bulan. Biasanya, hanya satu sel telur yang cukup matang untuk berovulasi. Sel telur yang belum matang lainnya dalam kelompok tersebut akan hancur.

Selama siklus IVF, pasien akan mengonsumsi obat hormon suntuk untuk mendorong seluruh kelompok sel telur dalam siklus tersebut untuk matang secara bersamaan dan sepenuhnya. Ini artinya, akan ada banyak sel telur yang dimiliki pasien. Kemudian, terkait jenis, dosis, dan frekuensi obat yang diresepkan akan disesuaikan dengan pasien berdasarkan riwayat medis, usia, kadar AMH, dan respons pasien terhadap stimulasi ovarium selama siklus IVF sebelumnya.

3. Pengambilan sel telur

Tim medis nantinya akan menggunakan USG untuk memandu jarum tipis ke setiap ovarium pasien melalui vagina. Jarum tersebut dihubungkan ke alat pengisap yang digunakan untuk menarik sel telur keluar dari setiap folikel. 

Sel telur kemudian akan ditempatkan dalam cawan berisi larutan khusus. Dan, cawan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam inkubator (lingkungan terkontrol). Obat-obatan dan sedasi ringan digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan selama prosedur ini. Pengambilan sel telur dilakukan 36 jam setelah suntikan hormon terakhir pasien.

4. Proses pembuahan

Pada sore hari setelah prosedur pengambilan sel telur, ahli embriologi akan mencoba membuahi semua sel telur yang matang menggunakan injeksi sperma intrasitoplasma, atau ICSI. Ini berarti sperma akan disuntikkan ke setiap sel telur yang matang. Sel telur yang belum matang tidak dapat dilakukan ICSI. Sel telur yang belum matang akan ditempatkan dalam cawan petri berisi sperma dan nutrisi.

Kemudian, sel telur yang belum matang jarang menyelesaikan proses pematangannya di dalam cawan petri. Jika sel telur yang belum matang berhasil matang, sperma dalam cawan petri kemudian dapat mencoba membuahi sel telur tersebut.

Rata-rata, 70 persen sel telur yang matang akan dibuahi. Misalnya, jika 10 sel telur yang matang diambil, sekitar tujuh akan dibuahi. Jika berhasil, sel telur yang dibuahi akan menjadi embrio. Jika jumlah sel telur sangat banyak atau pasien tidak ingin semua sel telur dibuahi, beberapa sel telur dapat dibekukan sebelum pembuahan untuk penggunaan di masa mendatang.

5. Perkembangan embrio

Selama lima hingga enam hari berikutnya, perkembangan embrio pasien akan dipantau dengan cermat. Embrio pasien harus melewati rintangan yang signifikan untuk menjadi embrio yang cocok untuk ditransfer ke rahim. 

Rata-rata, 50 persen embrio yang dibuahi berkembang hingga tahap blastokista. Ini adalah tahap yang paling cocok untuk transfer ke rahim pasien. Misalnya, jika tujuh sel telur dibuahi, tiga atau empat di antaranya mungkin berkembang hingga tahap blastokista. Sementara itu, 50 persen sisanya biasanya gagal berkembang dan dibuang.

Semua embrio yang cocok untuk transfer akan dibekukan pada hari kelima atau keenam setelah pembuahan untuk digunakan pada transfer embrio di masa mendatang.

6. Transfer embrio

Ada dua jenis transfer embrio yakni transfer embrio segar dan transfer embrio beku. Tim medis nantinya akan mendiskusikan penggunaan embrio segar atau beku dengan pasien dan memutuskan apa yang terbaik dengan situasi pasien saat itu. Baik transfer embrio beku maupun segar mengikuti proses transfer yang sama. Perbedaan utamanya tersirat dalam namanya.

Transfer embrio segar berarti embrio pasien dimasukkan ke dalam rahim antara tiga dan tujuh hari setelah prosedur pengambilan sel telur. Embrio ini belum dibekukan dan kondisinya masih segar.

Transfer embrio beku berarti embrio yang telah dibekukan (dari siklus IVF sebelumnya atau sel telur donor) dicairkan kembali dan dimasukkan ke dalam rahim. Transfer embrio beku dapat dilakukan bertahun-tahun setelah pengambilan dan pembuahan sel telur.

Sebagai bagian dari langkah awal transfer embrio beku, pasien akan mengonsumsi atau menggunakan hormon (baik secara oral, suntikan, melalui vagina, maupun transdermal) untuk mempersiapkan rahim  menerima embrio. 

Biasanya, proses ini melibatkan penggunaan obat oral selama 14 hingga 21 hari yang diikuti dengan enam hari penyuntikan. Umumnya, pasien akan menjalani dua atau tiga kali kunjungan selama masa ini untuk memantau kesiapan rahim melalui USG dan mengukur kadar hormon melalui tes darah. Setelah rahim siap, jadwal prosedur transfer embrio akan ditetapkan.

Prosesnya serupa jika pasien menggunakan embrio segar, hanya saja transfer embrio dilakukan dalam waktu tiga hingga lima hari setelah pengambilan sel telur.

7. Kehamilan

Kehamilan terjadi ketika embrio menempel (berimplantasi) pada lapisan dinding rahim. Tim medis nantinya akan melakukan tes darah untuk menentukan apakah pasien hamil, kira-kira sembilan hingga 14 hari setelah transfer embrio.

Jika menggunakan sel telur donor, langkah-langkah yang sama akan dilakukan. Pendonor sel telur akan menjalani stimulasi ovarium dan prosedur pengambilan sel telur. Setelah pembuahan terjadi, embrio ditransfer ke orang yang akan menjalani kehamilan (baik dengan maupun tanpa penggunaan berbagai obat kesuburan).

Bagaimana persiapan sebelum menjalani program bayi tabung (IVF)?

Sebelum memulai prosedur IVF, pasien perlu menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh dan melakukan tes kesuburan. Pasangan nantinya juga akan menjalani pemeriksaan dan tes serupa. Adapun beberapa tahapan persiapan yang akan dilalui meliputi sebagai berikut:

1. Konsultasi IVF atau bertemu dengan tenaga medis untuk membahas rincian proses IVF
2. Pemeriksaan rahim, serta tes pap dan mamografi (jika berusia di atas 40 tahun)
3. Analisis sperma
4. Skrining untuk infeksi menular seksual (IMS) dan penyakit menular lainnya
5. Tes cadangan ovarium, serta tes darah dan urine
6. Instruksi mengenai cara penggunaan obat-obatan kesuburan
7. Skrining pembawa sifat genetik
8. Penandatanganan formulir persetujuan tindakan
9. Evaluasi rongga rahim (histeroskopi atau Saline Infused Sonography)
10. Mulai mengonsumsi suplemen asam folat setidaknya tiga bulan sebelum prosedur transfer embrio

Apa yang dirasakan setelah menjalani program bayi tabung (IVF)?

Prosedur program bayi tabung atau IVF mungkin tidak sekadar memakan waktu dan energi ya, Bunda. Setelah prosedur dilakukan, pasien kemungkinan akan merasakan beberapa hal yang membuatnya tidak nyaman, seperti beberapa kondisi berikut ini:

1. Perut kembung dan kram
2. Payudara terasa nyeri atau sensitif akibat kadar estrogen yang tinggi.i
3. Muncul flek atau spotting
4.  Sembelit

Mengenai kondisi tersebut sepenuhnya normal dan tidak perlu dikhawatirkan ya, Bunda. Banyak pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa segera setelah prosedur pengambilan sel telur. 

Namun, pasien tidak diperbolehkan mengemudi selama 24 jam setelah menerima anestesi. Dan, sekitar sembilan hingga 14 hari setelah transfer embrio, pasien akan dirujuk untuk kembali ke klinik guna menjalani tes kehamilan menggunakan sampel darah.

Bagaimana cara kerja suntikan dalam program bayi tabung (IVF)?

Selama siklus IVF berlangsung, pasien akan menggunakan obat hormon suntik untuk merangsang seluruh kelompok sel telur pada siklus tersebut agar matang secara bersamaan dan sempurna.

Tim medis juga akan menentukan jenis obat, frekuensi, dan dosis yang diperlukan untuk perawatan. Penentuan ini didasarkan pada usia, riwayat medis, kadar hormon, serta respons terhadap siklus IVF sebelumnya. Pasien juga perlu melakukan penyuntikan obat kesuburan selama sekitar delapan hingga 14 hari.

Apa saja obat yang digunakan dalam program bayi tabung?

Beberapa jenis obat dapat digunakan selama siklus IVF. Bentuknya ada yang diminum, dan sebagian obat lainnya diberikan melalui suntikan, diserap melalui kulit, atau dimasukkan ke dalam vagina. Tim medis nantinya akan menentukan dosis dan waktu pemberian yang tepat sesuai rencana perawatan yang dilakukan.

Selama fase stimulasi ovarium, pasien kemungkinan akan menerima suntik hormon sebagai berikut:

1.  Follicle-Stimulating Hormone (FSH)

Hormon ini bekerja merangsang ovarium untuk memproduksi sel telur. Pasien mungkin menerima salah satu jenis atau kombinasi keduanya selama perawatan. Proses ini berlangsung selama kurang lebih 8 hingga 14 hari.

2. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

Biasanya, suntikan hormon ini diberikan sebagai satu suntikan terakhir untuk memicu pematangan sel telur dan memulai proses ovulasi.

3. Leuprolide Acetate

Suntikan ini merupakan sejenis agonis hormon pelepas gonadotropin (GnRH) yang memicu respons tubuh dan diberikan melalui suntikan. Obat ini dapat membantu mengendalikan proses stimulasi atau digunakan sebagai suntikan pemicu.

4. Estrogen dan progesteron

Pasien kemungkinan juga diresepkan pil atau suntikan kontrasepsi sebelum memulai IVF. Hal ini dilakukan guna memberikan kendali atas siklus menstruasi dan memungkinkan semua sel telur untuk mulai berkembang secara bersamaan.

Sebagian pasien juga diberikan suplemen estrogen untuk dikonsumsi sebelum dan sesudah transfer embrio. Hormon ini membantu menebalkan lapisan dinding rahim. Progesteron juga ditambahkan untuk meningkatkan peluang implantasi embrio dan keberhasilan kehamilan. Kebanyakan pasien melanjutkan penggunaan obat ini sepanjang trimester pertama. Obat-obatan tersebut tersedia dalam bentuk oral (diminum), suntikan, transdermal (diserap kulit), atau dimasukkan vagina.

Berapa biaya program bayi tabung?

Biaya program bayi tabung secara umum di Indonesia sangatlah bervariasi. Umumnya, kisaran harga program bayi tabung per siklus yakni mulai dari 40 juta hingga 200 juta per siklus. Tentunya, keragaman biaya tersebut ditentukan berbagai faktor ya, Bunda.

Termasuk diantaranya jenis klinik, teknologi yang digunakan, kondisi kesehatan pasien, hingga paket yang dipilih. Mengutip dari laman Ciputra IVF, biaya bayi tabung yang ditawarkan di sana memang lebih tinggi yakni berkisar dari Rp78 juta hingga Rp120 juta yang sudah mencakup obat, pemeriksaan, hingga transfer embrio.

Sementara itu, estimasi biaya program bayi tabung di Morula IVF yakni sebagai berikut ya, Bunda:

1. Konsultasi dan skrining awal 2 - 5 juta (suami dan istri)
2. Stimulasi dan obat hormon 25 - 45 juta (tergantung dosis)
3. Oocyte pick up (OPU) 15 - 25 juta (pengambilan sel telur)
4. Laboratorium (ICSI/IMSI) 10 - 20 juta (pembuahan di lab)
5. Embrio transfer (ET) 8 -12 juta (penanaman embrio)

Seberapa besar tingkat keberhasilan program bayi tabung?

Keberhasilan program bayi tabung memang bisa ditentukan berbagai faktor, salah satunya usia. Dalam hal ini, usia menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam keberhasilan IVF. 

Peluang seseorang untuk hamil melalui IVF jauh lebih tinggi jika Bunda berusia di bawah 35 tahun, dan lebih rendah jika Bunda berusia di atas 40 tahun. 

Sementara itu, tingkat kelahiran hidup juga bervariasi dan sangat berkaitan dengan usia. Sebagai contoh, tingkat kelahiran hidup pada ibu berusia di bawah 35 tahun yang menggunakan sel telur sendiri adalah sekitar 46 persen, sedangkan tingkat kelahiran pada ibu berusia 38 tahun yang menggunakan sel telur sendiri adalah sekitar 22 persen.

Berapa lama sampai bisa mengetahui hamil setelah program bayi tabung?

Menunggu kehamilan setelah program bayi tabung menjadi hal yang mendebarkan. Penantian ini berkisar antara dua minggu setelah transfer emrbrio selama IVF. Dalam istilah umum, menunggu dua minggu menjadi waktu yang direkomendasikan meskipun banyak klinik menyarankan untuk melakukan tes kehamilan sekira 9-12 hari setelah transfer.

Tes yang dilakukan juga diantaranya tes darah yang dikenal sebagai tes beta hCG, hormon yang diproduksi setelah implantasi embrio. Tes ini merupakan ukuran kehamilan awal yang lebih akurat dibandingkan tes kehamilan di rumah dan akan dilakukan oleh klinik fertilitas yang Bunda gunakan.

Dalam tes awal, hal ini akan memberikan indikasi pertama kehamilan. Sebagian besar klinik mencari tingkat hCG sekitar 100 mIU/mL atau lebih, meskipun bisa bervariasi. Segala sesuatu di atas 25 mIU/mL umumnya dianggap sebagai indikasi kehamilan, tapi biasanya tim medis akan memberi tahu mengenai rentang yang mereka harapkan.

Kemudian, tes selanjutnya akan dijadwalkan dua hari setelah tes pertama. Tes ini akan memeriksa apakah kadar hCG meningkat dua kali lipat, seperti seharusnya pada awal kehamilan yang sehat. Jika kadar ini meningkat sesuai harapan, klinik mungkin mengonfirmasi kehamilan dan menjadwalkan USG untuk beberapa minggu mendatang.

Jika tes menunjukkan kadar hCG yang rendah atau menurun, hal ini dapat menunjukkan embrio tidak berhasil menempel, sehingga menyebabkan kehamilan kimia. Kondisi ini bisa menjadi hasil yang sulit, tetapi spesialis fertilitas biasanya akan menjadwalkan tindak lanjut untuk membahas langkah selanjutnya jika kehamilan tidak berkembang seperti dikutip dari laman Springfertility.

Setiap program bayi tabung yang dijalani pasien tentunya memiliki kemungkinan berhasil dan juga ketidakberhasilan. Berbagai faktor pun bisa melatarinya ya, Bun.

1. Berapa tingkat keberhasilan program bayi tabung berdasarkan usia?

Mengacu pada data CDC dan SART di 2025, rincian tingkat keberhasilan program bayi tabung berdasarkan kelompok usia yakni sebagai berikut:

- Di bawah 35 tahun

Bagi pasien dalam kelompok ini, ingkat keberhasilan IVF berada pada puncaknya. Rata-rata tingkat kelahiran hidup per transfer embrio tunggal berkisar antara 45 persen hingga 55 persen. Karena kualitas sel telur umumnya tinggi, pasien sering kali memiliki kelebihan embrio yang dapat dibekukan untuk kehamilan berikutnya di masa depan.

- Usia 35-37 tahun

Penurunan mulai terlihat secara bertahap pada kelompok ini. Tingkat keberhasilan IVF biasanya berkisar antara 32 persen hingga 40 persen. Banyak klinik kini menyarankan PGT-A (Preimplantation Genetic Testing) pada tahap ini untuk memastikan hanya embrio dengan kondisi kromosom sehat yang ditransfer.

- Usia 38-40 tahun

Usia ini merupakan masa transisi sehingga tingkat keberhasilan IVF turun menjadi sekira 20 persen hingga 26 persen. Meskipun keberhasilan masih sering terjadi, mungkin diperlukan lebih dari satu kali prosedur pengambilan sel telur untuk mendapatkan embrio yang secara genetik normal.

- Usia 41-42 tahun

Tingkat keberhasilan IVF bagi perempuan berusia awal 40-an berkisar antara 9 persen hingga 15 persen per siklus. Pada tahap ini, tingkat penurunan jumlah sel dari tahap pengambilan sel telur hingga tahap blastokista tergolong tinggi akibat meningkatnya frekuensi kelainan kromosom.

- Di atas 42 tahun

Tingkat keberhasilan IVF menggunakan sel telur sendiri turun hingga di bawah 5 persen. Bagi banyak orang dalam kategori ini, pembahasan sering kali beralih ke penggunaan sel telur donor untuk meningkatkan peluang kelahiran bayi yang sehat secara signifikan seperti dikutip dari laman Thelifefertility.

2. Apakah program bayi tabung bisa berhasil setelah percobaan sebelumnya gagal?

Dalam program bayi tabung, semua kemungkinan dan peluang bisa saja terjadi ya, Bunda. Apalagi, program bayi tabung memang seirng kali memerlukan lebih dari satu kali percobaan untuk mencapai kehamilan. 

Para spesialis sendiri mengetahui hal ini dan pengobatan yang gagal sebenarnya dianggap 'normal' karena tingkat kehamilan hanyalah statistik. Apalagi, kondisi setiap pasien dan setiap embrio berbeda untuk setiap percobaan dan setiap pengobatan.

Ketika menemui siklus pertama gagal ini tidak berarti terjadi kegagalan implantasi. Karenanya, ,pengobatan baru dapat dimulai tanpa perlu tes lebih lanjut atau masa istirahat. Namun demikian, langkah berikutnya harus selalu dinilai secara individual dan hati-hati seperti diktip dari laman Dexeus fertility.

Mengapa program bayi tabung bisa gagal?

Program bayi tabung bukanlah program yang selalu membuahkan keberhasilan. Ketika siklus IVF yang dijalani tidak berhasil. hal tersebut merupakan bagian dari risiko dari sebuah program. Meskipun hal tersebut bisa terasa mengecewakan, tetapi Bunda tidak boleh merasa sendirian dan terpuruk karena kondisi yang sama juga pernah dialami pejuang garis dua di luar sana.

Di balik kegagalan program yang dijalani, siklus IVF yang gagal sering kali memberikan wawasan berharga yang dapat membantu mengarahkan langkah selanjutnya dan meningkatkan peluang keberhasilan dalam pengobatan di masa depan.

Terkait kegagalan pada program bayi tabung, memang seiring bertambahnya usia perempuan, sel telur akan menurun dalam kualitas dan kuantitasnya. Perlu diketahui bahwa perempuan memang memiliki peluang hamil yang lebih kecil seiring bertambahnya usia karena hal ini.

Namun, penurunan jumlah sel telur dan kualitas juga memengaruhi peluang kehamilan klinis atau kelahiran hidup melalui pengobatan IVF. Dr Gorgy, salah satu pendiri The Fertility and Gynaecology Academy dan salah satu konsultan fertilitas paling dihormati di Inggris, mengatakan, "Menurut tingkat keberhasilan kami, perempuan hingga usia 35 tahun memiliki peluang tertinggi untuk keberhasilan IVF yakni 47 persen untuk kehamilan klinis dan 38 persen untuk kelahiran hidup."

Apa saja penyebab program bayi tabung gagal?

Pada program bayi tabung, terkadang memang dibutuhkan dua siklus IVF atau lebih untuk mencapai hasil yang sukses. Meskipun hal ini bisa berdampak pada fisik, psikis, dan mental, Bunda perlu menyadari bahwa Bunda tidak sendirian dalam perjuangan ini. Ada banyak juga pasien pejuang garis dua yang merasakan hal sama di luar sana.

Agar lebih merasa tenang, jangan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan yang ada. Sebab, ada banyak penyebab program bayi tabung gagal yang tak banyak diketahui orang di luar sana. Berikut ini di antaranya:

1. Usia perempuan

Seiring bertambahnya usia perempuan, kualitas dan kuantitas dari sel telur akan menurun. Dengan begitu, peluang hamil pun jadi lebih kecil.

2. Kualitas embrio

Selama proses laboratorium dari perawatan IVF, sel telur dan sperma jantan dicampur bersama dengan tujuan menciptakan embrio. Pada prosesnya, embrio bisa saja terlihat sehat di laboratorium, tetapi ketika ditanamkan ke dalam rahim ada kemungkinan mereka gagal berimplantasi karena cacat yang tak terlihat

3. Respons ovarium

Pada awal pengobatan IVF, perempuan diwajibkan memberikan suntikan harian hormon kesuburan yang disebut hormon perangsang folikel, yang bertujuan meningkatkan produksi sel telur. Beberapa ovarium perempuan dalam hal ini tidak merespons obat dengan benar sehingga gagal menghasilkan beberapa sel telur untuk pengumpulan. Hal ini terutama berlaku pada perempuan yang berusia matang karena jumlah sel telur yang sudah sedikit (cadangan ovarium rendah).

4. Masalah implantasi

Hal ini biasanya disebabkan adanya polip rahim, peningkatan kadar progesteron yang prematur, lapisan endometrium yang terlalu tipis, atau infeksi pada rahim. 

5. Gaya hidup

Seperti halnya kehamilan alami, mempertahankan gaya hidup sehat sebelum dan selama IVF kemungkinan besar akan membantu pembuahan. Jika Bunda merokok, sebaiknya berhenti beberapa bulan sebelum memulai IVF, karena merokok terbukti berdampak negatif pada kesuburan. Kemudian, mencapai berat badan yang sehat juga akan bermanfaat bagi Bunda, selain menjaga pola makan bergizi dan berolahraga secara teratur.

6. Kelainan kromosom

IVF bisa gagal karena embrio memiliki kelainan kromosom. Ini berarti, embrio memiliki bagian DNA kromosom yang hilang, berlebih, atau tidak beraturan. Tubuh kemudian menolak embrio tersebut dan ini menyebabkan kegagalan IVF. 

Apakah program bayi tabung bisa menyebabkan cacat lahir?

Menurut sebuah studi baru dari UCLA, In vitro Fertilization (IVF) dapat meningkatkan risiko cacat lahir secara signifikan, khususnya pada bagian mata, jantung, organ reproduksi, dan sistem saluran kemih.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari IVF mungkin memiliki kemungkinan sedikit lebih tinggi mengalami cacat lahir tertentu dibandingkan dengan yang dikandung secara alami. Selain itu, kehamilan yang dicapai melalui IVF juga dapat meningkatkan risiko cacat jantung bawaan pada bayi yang sedang berkembang. Namun, risiko absolut tetap rendah, dan banyak kehamilan IVF menghasilkan bayi yang sehat seperti dikutip dari laman Gwmfm.

Peningkatan risiko dapat dipengaruhi oleh usia orang tua, penyebab infertilitas, atau penggunaan teknologi reproduksi canggih seperti injeksi sperma intrasitoplasma. Agar lebih aman dan terhindar dari risiko, konseling pra-konsepsi dan tes genetik dapat membantu menilai risiko individu dan mendukung kehamilan yang lebih sehat.

Berapa usia terbaik untuk menjalani program bayi tabung?

Tingkat keberhasilan IVF pada usia 20-an dan awal 30-an menjadi waktu optimal menjalani program bayi tabung. Khususnya pada perempuan berusia 25-34 tahun umumnya memiliki peluang keberhasilan tertinggi dalam prosedur IVF. 

Kualitas sel telur biasanya berada pada kondisi terbaik di rentang usia ini, sehingga perkembangan embrio dan tingkat keberhasilan implantasi cenderung lebih baik seperti dikutip dari laman Gaudiumivfcentre.

Banyak ahli kesuburan menyatakan bahwa awal usia 30-an merupakan rentang usia terbaik untuk menjalani IVF, karena pasien cenderung mencapai keberhasilan dengan jumlah siklus pengobatan yang lebih sedikit.

Perlukah membekukan embrio saat menjalani program bayi tabung?

Pembekuan embrio merupakan teknik yang dapat membantu menjaga kesuburan di masa depan. Beberapa orang yang memilih prosedur ini sedang menjalani terapi hormon, pengobatan kanker, atau intervensi medis lain yang memengaruhi kesuburan mereka.

Dalam situasi tertentu, dokter mungkin menyarankan pembekuan embrio untuk mencegah risiko kondisi yang disebut sindrom hiperstimulasi ovarium, yang dapat memburuk setelah kehamilan terjadi. Prosedur ini juga bisa disarankan untuk meningkatkan peluang kehamilan jika kadar hormon tertentu terlalu tinggi selama siklus IVF seperti dikutip dari laman Hopkinsmedicine.

Bagaimana cara meningkatkan peluang hamil dengan program bayi tabung?

Perjalanan menempuh program bayi tabung bukanlah sebuah proses yang singkat melainkan perjalanan panjang dan penuh tantangan. Sering kali, ada juga hal-hal di luar kendali yang mungkin menghampiri. Namun, ada beberapa cara yang bisa ditempuh guna meningkatkan peluang hamil dengan program bayi tabung. Berikut ini beberapa diantaranya, Bunda:

1. Mempersiapkan diri

Penting bagi siapa pun yang ingin menjalani treatment bayi tabung, ada baiknya mempersiapkan diri baik secara fisik, mental, dan emosional. Bunda dapat mempersiapkan tubuh dengan menjaga berat badan yang sehat, yang menjadi faktor penting keberhasilan kehamilan. Selain itu, barengi juga dengan makan makanan sehat dan berolahraga secara teratur.

2. Optimalkan kesehatan sel telur dan sperma

Kesehatan sel telur dan sperma dapat berdampak besar pada keberhasilan IVF. Ada beberapa langkah yang dapat Bunda ambil untuk mengoptimalkan kesehatan diantaranya diet seimbang dan olahraga teratur, menghindari rokok, dan mengonsumsi asam folat serta vitamin prenatal lainnya dalam beberapa bulan menjelang IVF seperti dikutip dari laman Infertility.

3. Minimalisasi stres dan sesuaikan gaya hidup

Stres sangat berdampak negatif pada kesuburan. Dengan mengelola tingkat stres dan menyesuaikan gaya hidup tentunya dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan IVF. 

Beberapa hal yang bisa dicoba yakni meluangkan waktu untuk bersantai setiap hari, melakukan olahraga secara teratur, tidur cukup, mengurangi konsumsi alkohol dan berhenti merokok. 

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda