HaiBunda

KEHAMILAN

5 Tahapan Program Bayi Tabung dan Risikonya

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 11 Sep 2026 07:30 WIB
5 Tahapan Program Bayi Tabung dan Risikonya/Foto: iStockphoto
Jakarta -

Bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) merupakan salah satu teknologi reproduksi berbantu yang dilakukan dengan mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium. Jika terjadi pembuahan dan embrio berkembang dengan baik, embrio kemudian dipindahkan ke dalam rahim.

Proses bayi tabung tidak hanya terdiri dari satu prosedur. Ada beberapa tahapan mulai dari stimulasi ovarium, pengambilan sel telur, pembuahan, perkembangan embrio, hingga transfer embrio ke rahim.

Setiap tahapan juga memiliki tujuan dan risiko masing-masing. Karena itu, protokol IVF dapat berbeda antara satu pasangan dan pasangan lainnya sesuai usia, penyebab infertilitas, kondisi ovarium, kualitas sperma, serta riwayat pengobatan sebelumnya.


5 Tahapan program bayi tabung

Dikutip dari News Medical, berikut tahapannya, Bunda:

1. Stimulasi ovarium

Tahapan bayi tabung biasanya diawali dengan stimulasi ovarium. Pada tahap ini, dokter memberikan obat hormonal untuk merangsang ovarium agar menghasilkan beberapa sel telur dalam satu siklus.

Selama stimulasi, perkembangan folikel biasanya dipantau melalui USG dan, pada kondisi tertentu, pemeriksaan hormon. Tujuannya untuk mengetahui respons ovarium terhadap obat sekaligus menentukan waktu yang tepat untuk pengambilan sel telur. Respons setiap perempuan terhadap stimulasi bisa berbeda. Ada yang menghasilkan banyak folikel, sementara sebagian lainnya menghasilkan lebih sedikit.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dokter selama stimulasi adalah risiko ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS), yaitu kondisi ketika ovarium memberikan respons berlebihan terhadap obat stimulasi.

Sebuah penelitian yang menganalisis lebih dari 214 ribu siklus teknologi reproduksi berbantu (ART) menemukan bahwa OHSS dapat berkaitan dengan karakteristik tertentu pasien dan berhubungan dengan peningkatan risiko kehamilan multipel serta beberapa luaran kehamilan yang kurang baik. 

Karena itu, pemantauan selama stimulasi penting untuk membantu dokter menyesuaikan dosis obat dan mengurangi risiko komplikasi.

2. Pengambilan sel telur

Ketika folikel sudah berkembang dan sel telur dinilai siap, dokter akan melakukan prosedur pengambilan sel telur atau egg retrieval.

Prosedur ini umumnya dilakukan dengan bantuan USG transvaginal. Jarum khusus diarahkan menuju folikel untuk mengambil cairan yang mengandung sel telur.

Selanjutnya, sel telur dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan dipersiapkan untuk proses pembuahan. Pengambilan sel telur termasuk prosedur yang relatif aman, tetapi tetap memiliki kemungkinan komplikasi seperti perdarahan, infeksi, atau cedera pada organ di sekitar ovarium. Komplikasi serius memang tergolong jarang.

Sebuah studi di Finlandia yang melibatkan 9.175 perempuan yang menjalani IVF menemukan bahwa komplikasi serius seperti OHSS, kehamilan ektopik, dan keguguran dapat terjadi setelah terapi IVF, sementara infeksi dan perdarahan tergolong jarang. 

3. Pembuahan dan perkembangan embrio

Setelah sel telur berhasil diambil, tahap berikutnya adalah pembuahan. Sel telur dapat dipertemukan dengan sperma di laboratorium. Pada kondisi tertentu, dokter dapat menggunakan metode intracytoplasmic sperm injection (ICSI), yaitu memasukkan satu sperma secara langsung ke dalam sel telur.

Tidak semua sel telur yang diambil akan berhasil dibuahi. Begitu pula, tidak semua hasil pembuahan akan berkembang menjadi embrio yang dapat ditransfer.

Embrio kemudian dipantau perkembangannya di laboratorium. Dokter dan ahli embriologi akan menilai perkembangan embrio sebelum menentukan embrio yang akan digunakan untuk transfer. Pada tahap ini, jumlah dan kualitas embrio menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan strategi transfer.

4. Transfer embrio ke rahim

Tahap berikutnya adalah transfer embrio. Embrio yang dipilih akan dimasukkan ke dalam rahim menggunakan kateter tipis yang melewati vagina dan leher rahim. Prosedur ini biasanya dilakukan tanpa operasi besar.

Setelah embrio berada di rahim, diharapkan terjadi proses implantasi sehingga kehamilan dapat berkembang. Jumlah embrio yang ditransfer menjadi pertimbangan penting karena transfer lebih dari satu embrio dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar.

Kehamilan multipel sendiri memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan kehamilan tunggal. Sebuah meta-analisis terhadap studi kohort menemukan bahwa kehamilan multipel yang berasal dari teknologi reproduksi berbantu berkaitan dengan peningkatan risiko komplikasi kehamilan dan luaran kehamilan yang kurang baik.  Karena itu, pada pasien tertentu dokter dapat merekomendasikan single embryo transfer, yaitu transfer satu embrio untuk mengurangi risiko kehamilan multipel.

5. Tes kehamilan dan pemantauan

Setelah transfer embrio, Bunda perlu menunggu waktu yang dianjurkan dokter sebelum melakukan tes kehamilan. Jika terjadi implantasi dan perkembangan kehamilan, pemeriksaan hormon kehamilan dapat menunjukkan hasil positif. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemantauan untuk memastikan kehamilan berkembang di dalam rahim.

Yang perlu diingat, tidak adanya gejala setelah transfer embrio bukan berarti IVF gagal. Sebaliknya, munculnya gejala tertentu juga belum dapat memastikan kehamilan. Obat hormonal yang digunakan selama proses IVF juga dapat menyebabkan beberapa sensasi tubuh yang mirip dengan gejala awal kehamilan.

Syarat menjalani program bayi tabung yang perlu diketahui

Tidak semua pasangan yang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan harus langsung menjalani IVF. Dokter biasanya melakukan evaluasi terlebih dahulu untuk mengetahui penyebab infertilitas dan menentukan terapi yang paling sesuai.

Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), evaluasi infertilitas pada perempuan perlu mempertimbangkan beberapa aspek, termasuk ovulasi, struktur dan patensi saluran reproduksi, serta evaluasi sperma pasangan laki-laki. 

Usia perempuan juga menjadi faktor penting. ASRM menyebutkan bahwa usia perempuan merupakan salah satu prediktor terpenting terhadap kesuburan. Karena itu, keputusan menjalani IVF sebaiknya tidak hanya berdasarkan usia, tetapi juga mempertimbangkan penyebab infertilitas, kondisi reproduksi, kualitas sperma, riwayat pengobatan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Berapa lama waktu untuk program bayi tabung?

Durasi program bayi tabung dapat berbeda pada setiap pasien. Satu siklus IVF mencakup beberapa tahapan, mulai dari stimulasi ovarium hingga pengambilan sel telur, pembuahan, perkembangan embrio, dan transfer embrio.

Namun, sebelum memulai siklus tersebut, pasangan biasanya perlu menjalani konsultasi dan pemeriksaan terlebih dahulu. Jika diperlukan, dokter juga dapat menunda transfer embrio dan membekukan embrio untuk digunakan pada siklus berikutnya.

Jadi, durasi program bayi tabung tidak selalu sama dengan durasi sejak konsultasi pertama sampai dinyatakan hamil.

Apa saja ciri-ciri bayi tabung yang berhasil?

Setelah transfer embrio, beberapa Bunda mungkin merasakan:

  • payudara lebih sensitif;
  • mudah lelah;
  • kram ringan;
  • perubahan suasana hati;
  • mual;
  • atau tidak merasakan perubahan apa pun.

Namun, gejala tersebut belum dapat digunakan sebagai tanda pasti keberhasilan IVF. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah terjadi kehamilan adalah melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai waktu yang dianjurkan dokter. Jadi, Bunda tidak perlu panik jika belum merasakan tanda-tanda tertentu setelah transfer embrio, seperti dikutip dari NHS.uk.

Skrining sebelum pelaksanaan program bayi tabung

Sebelum IVF, dokter akan melakukan evaluasi untuk mengetahui kondisi sistem reproduksi dan faktor lain yang dapat memengaruhi kesuburan.

ASRM merekomendasikan evaluasi yang mencakup kondisi ovulasi, saluran reproduksi perempuan, dan pemeriksaan sperma pasangan laki-laki. 

1. Tes cadangan ovarium

Pemeriksaan cadangan ovarium bertujuan memperkirakan respons ovarium terhadap stimulasi. Pemeriksaan yang dapat digunakan antara lain:

  • Anti-Müllerian hormone (AMH)
  • Antral follicle count (AFC) melalui USG
  • FSH dan estradiol pada kondisi tertentu

Namun, ada satu hal penting yang perlu diketahui Bunda. Hasil AMH rendah tidak otomatis berarti seseorang tidak bisa hamil.

ASRM menjelaskan bahwa pemeriksaan cadangan ovarium lebih berguna untuk memperkirakan respons ovarium terhadap stimulasi dan membantu perencanaan terapi, bukan sebagai satu-satunya penentu kemampuan seseorang untuk hamil. 

2. Skrining infeksi

Sebelum menjalani prosedur reproduksi berbantu, klinik dapat melakukan pemeriksaan infeksi tertentu sesuai protokol klinik dan kondisi pasangan. Pemeriksaan ini penting untuk menjaga keamanan pasien serta proses penanganan sel telur, sperma, dan embrio. Jenis pemeriksaan dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan dan kebijakan fasilitas kesehatan.

3. Tes kondisi tuba

Dokter dapat mengevaluasi kondisi tuba fallopi, terutama untuk mengetahui apakah terdapat sumbatan.

Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah hysterosalpingography (HSG). Pemeriksaan lain yang dapat digunakan adalah sonohysterography atau hysterosalpingo-contrast sonography.

ASRM memasukkan evaluasi patensi tuba sebagai bagian dari evaluasi infertilitas pada perempuan. 

4. Tes prolaktin dan hormon tiroid

Pemeriksaan thyroid-stimulating hormone (TSH) dapat membantu mendeteksi gangguan tiroid yang berpotensi mengganggu kesuburan apabila tidak ditangani. Namun, pemeriksaan prolaktin tidak selalu diperlukan untuk semua perempuan.

ASRM merekomendasikan pemeriksaan prolaktin terutama pada perempuan yang mengalami kondisi seperti keluarnya cairan dari payudara (galaktorea), menstruasi yang jarang, atau tidak menstruasi. 

Jadi, pemeriksaan hormon sebaiknya dilakukan berdasarkan indikasi medis, bukan semata-mata karena sedang menjalani IVF.

5. Tes sperma

Evaluasi kesuburan juga perlu dilakukan pada pasangan laki-laki. Analisis sperma dapat memberikan informasi mengenai jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma. ASRM menekankan pentingnya evaluasi pasangan laki-laki secara paralel ketika pasangan menjalani pemeriksaan infertilitas.  Hasil pemeriksaan tersebut nantinya dapat membantu dokter menentukan metode pembuahan yang paling sesuai.

Apa yang harus dilakukan setelah prosedur IVF?

Setelah transfer embrio, Bunda mungkin merasa ingin banyak berbaring karena takut embrio 'turun' atau keluar. Padahal, penelitian tidak menunjukkan bahwa bed rest setelah transfer embrio meningkatkan peluang kehamilan.

Salah satu randomized controlled trial terhadap 164 siklus IVF membandingkan pasien yang beristirahat selama 30 menit dengan pasien yang langsung pulang setelah transfer. Penelitian tersebut tidak menemukan perbedaan bermakna dalam angka kehamilan maupun kehamilan berlanjut. 

Bahkan, dikutip dari systematic review dan meta-analysis yang mencakup empat randomized controlled trial dengan total 757 perempuan menemukan bahwa bed rest setelah transfer embrio tidak meningkatkan angka kehamilan klinis maupun kelahiran hidup. 

Artinya, Bunda tidak perlu takut bergerak setelah transfer embrio selama dokter tidak memberikan larangan khusus. Setelah prosedur, Bunda dapat:

  • Menggunakan obat sesuai resep dokter
  • Mengikuti jadwal pemeriksaan
  • Menjaga asupan makanan bergizi
  • Menghindari rokok dan alkohol
  • Melakukan aktivitas ringan sesuai anjuran dokter
  • Menghubungi dokter jika mengalami keluhan berat

Risiko dalam prosedur atau tahapan program bayi tabung

Meskipun IVF telah digunakan secara luas, prosedur ini tetap memiliki sejumlah risiko.

1. Ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS)

OHSS merupakan salah satu komplikasi yang dapat muncul akibat stimulasi ovarium. Gejalanya dapat berupa:

  • Perut terasa membesar atau kembung
  • Nyeri perut;mual dan muntah
  • Peningkatan berat badan akibat penumpukan cairan
  • Sesak napas
  • Berkurangnya produksi urine

Dalam penelitian besar yang mencakup lebih dari 214 ribu siklus ART, OHSS ditemukan pada sebagian pasien dan dikaitkan dengan peningkatan risiko luaran kehamilan tertentu. 

2. Kehamilan multipel

Transfer lebih dari satu embrio dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar. Masalahnya, kehamilan multipel memiliki risiko lebih tinggi terhadap komplikasi kehamilan dan persalinan.

Meta-analisis terhadap studi kohort menunjukkan bahwa kehamilan multipel setelah ART memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai komplikasi kehamilan dan luaran perinatal dibandingkan kehamilan tunggal.  Karena itu, jumlah embrio yang ditransfer perlu didiskusikan dengan dokter.

3. Kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik terjadi ketika embrio berkembang di luar rongga rahim, paling sering di tuba fallopi. Sebuah analisis terhadap 68.851 kehamilan klinis dari registri ART Jepang menemukan adanya hubungan antara beberapa protokol stimulasi ovarium dan peningkatan risiko kehamilan ektopik, meskipun faktor lain juga perlu diperhitungkan. 

4. Perdarahan dan infeksi

Prosedur pengambilan sel telur juga memiliki risiko seperti perdarahan atau infeksi, meskipun komplikasi tersebut relatif jarang. Dalam studi berbasis registrasi di Finlandia, infeksi dan perdarahan tercatat sebagai komplikasi yang jarang setelah IVF. 

5. Komplikasi pada kehamilan

Kehamilan yang diperoleh melalui IVF juga dapat disertai beberapa risiko kehamilan, termasuk preeklamsia dan komplikasi lain.

Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa seluruh risiko tersebut disebabkan oleh IVF. Infertilitas, usia ibu, kondisi kesehatan sebelum hamil, dan kehamilan multipel juga dapat berperan. Studi mengenai risiko IVF menekankan bahwa hubungan antara ART dengan sejumlah komplikasi kehamilan perlu dilihat bersama karakteristik pasien dan penyebab infertilitasnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Pijat Perut untuk Program Hamil, Benarkah Efektif?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Terpopuler: Potret Anak Maudy Koesnaedi & Diah Permatasari Jadi Model Jersey

Mom's Life Tim HaiBunda

5 Tahapan Program Bayi Tabung dan Risikonya

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Mengunyah Permen Karet saat Merasa Gelisah

Mom's Life Melly Febrida

Tak hanya Bergizi, ASI Ternyata Bantu Lawan Resistensi Antibiotik

Menyusui Dwi Indah Nurcahyani

Bukan Pemalu, Ini 5 Ciri Orang Pendiam yang Punya Kecerdasan Tinggi

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Ciri Anak yang Kurang Bersyukur dari Kalimat yang Sering Diucapkan

Tak hanya Bergizi, ASI Ternyata Bantu Lawan Resistensi Antibiotik

15 Film Indonesia Terbaru September 2026, Tontonan Terbaik Akhir Pekan!

5 Tahapan Program Bayi Tabung dan Risikonya

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Mengunyah Permen Karet saat Merasa Gelisah

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK