kehamilan
Jumlah Ibu dengan Kehamilan Ektopik Semakin Meningkat, Apa Penyebabnya?
HaiBunda
Kamis, 17 Sep 2026 14:00 WIB
Daftar Isi
Kasus kematian yang berkaitan dengan kehamilan ektopik di Amerika Serikat dilaporkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Temuan ini menjadi perhatian karena kehamilan ektopik sebenarnya dapat ditangani bila terdeteksi dan mendapatkan pertolongan medis dengan cepat.
Dikutip dari Medicaldaily, analisis ProPublica terhadap data kematian federal menemukan hampir 200 perempuan meninggal setelah mengalami kehamilan ektopik pada periode 2020–2025. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan sekitar 100 kematian pada enam tahun sebelumnya.Â
Namun, Bunda perlu memahami bahwa data tersebut menunjukkan peningkatan kematian yang berkaitan dengan kehamilan ektopik, bukan berarti sudah terbukti jumlah kehamilan ektopiknya sendiri meningkat. Para peneliti juga belum mengetahui secara pasti mengapa tren kematian tersebut terjadi.Â
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu kehamilan ektopik?
Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di luar rongga utama rahim. Lebih dari 90 persen kehamilan ektopik terjadi di tuba falopi, meskipun embrio juga dapat menempel di ovarium, leher rahim, rongga perut, atau bekas luka operasi caesar.Â
Kehamilan seperti ini tidak dapat berkembang secara normal. Seiring bertambahnya ukuran jaringan kehamilan, tuba falopi dapat pecah dan menyebabkan perdarahan internal yang mengancam nyawa.
Karena itu, kehamilan ektopik termasuk kondisi yang membutuhkan diagnosis dan penanganan segera.
Mengapa kematian akibat kehamilan ektopik meningkat?
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah keterlambatan diagnosis dan penanganan.
Kehamilan ektopik umumnya muncul pada awal kehamilan, bahkan sebelum sebagian ibu mendapatkan pemeriksaan kehamilan pertama. Akibatnya, banyak pasien justru datang ke unit gawat darurat ketika sudah mengalami keluhan.
Selain itu, kehamilan ektopik tidak selalu mudah diketahui pada pemeriksaan pertama. USG yang belum dapat melihat kantung kehamilan di dalam rahim, misalnya, belum tentu langsung menunjukkan bahwa kehamilan berada di luar rahim. Dokter terkadang perlu melakukan pemeriksaan hormon kehamilan secara berulang dan USG lanjutan untuk memastikan diagnosis.Â
ProPublica juga mencatat bahwa gangguan pelayanan kesehatan selama pandemi COVID-19 kemungkinan ikut berkontribusi terhadap keterlambatan diagnosis dan penanganan. Namun, angka kematian tetap tinggi setelah periode tersebut sehingga penyebabnya belum dapat dipastikan.Â
Faktor yang bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik, antara lain:
- Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya.
- Pernah menjalani operasi pada tuba falopi.
- Pernah menjalani operasi pada perut atau panggul.
- Infeksi menular seksual tertentu.
- Penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID).
- Endometriosis.
- Merokok.
- Usia lebih dari 35 tahun.
- Riwayat infertilitas.Â
Infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore juga perlu diperhatikan karena dapat menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada tuba falopi. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu perjalanan sel telur menuju rahim.Â
Kehamilan ektopik di negara dengan larangan aborsi
Analisis ProPublica juga menemukan adanya perbedaan angka kematian antara negara bagian di Amerika Serikat.
Pada periode 2023–2025, angka kematian akibat kehamilan ektopik tercatat sekitar 13,1 per satu juta kelahiran hidup di negara bagian yang menerapkan larangan aborsi pada usia kehamilan enam minggu atau lebih awal. Sementara itu, angkanya sekitar 7,1 per satu juta kelahiran hidup di negara bagian yang tidak menerapkan larangan setelah keputusan Mahkamah Agung AS pada 2022.Â
Meski demikian, data tersebut merupakan analisis observasional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa satu faktor tertentu secara langsung menyebabkan peningkatan kematian. ProPublica sendiri menyebut masih ada sejumlah faktor lain yang mungkin berperan.
Apa saja gejala kehamilan ektopik?
Kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala seperti:
- Nyeri perut atau panggul, terutama pada salah satu sisi.
- Perdarahan dari vagina yang tidak seperti menstruasi biasanya.
- Nyeri bahu.
- Pusing atau merasa sangat lemas.
- Pingsan.
- Nyeri perut yang tiba-tiba dan sangat berat.
Nyeri hebat, pingsan, atau gejala yang memburuk secara cepat dapat menjadi tanda pecahnya tuba falopi dan perdarahan internal. Kondisi tersebut merupakan kedaruratan medis dan membutuhkan pertolongan segera.Â
Apakah kehamilan ektopik bisa diobati?
Bisa. Penanganan bergantung pada lokasi dan ukuran kehamilan, kondisi ibu, kadar hormon kehamilan, serta apakah tuba falopi sudah pecah.
Pada kondisi tertentu yang terdeteksi lebih awal, dokter dapat memberikan methotrexate, yaitu obat yang menghentikan pertumbuhan jaringan kehamilan. Sementara itu, tindakan operasi dapat diperlukan jika kehamilan ektopik sudah pecah atau kondisi pasien membutuhkan penanganan segera.Â
Karena itu, semakin cepat kehamilan ektopik dikenali, semakin besar peluang kondisi tersebut ditangani sebelum terjadi komplikasi serius.
Kapan harus segera ke dokter?
Bunda yang mendapatkan hasil tes kehamilan positif dan mengalami nyeri perut atau panggul, terutama pada satu sisi, disertai perdarahan, pusing, nyeri bahu, atau pingsan, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Jangan menunggu hingga nyeri menjadi sangat berat. Kehamilan ektopik dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa apabila tuba falopi pecah dan menyebabkan perdarahan internal.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Sama-sama Berisiko, Ini Perbedaan Hamil Ektopik dan Keguguran
Kehamilan
3 Penyebab Kehamilan Ektopik: Alat Kontrasepsi hingga Metode Bayi Tabung
Kehamilan
5 Gejala Kehamilan Ektopik yang Perlu Diwaspadai
Kehamilan
Mengenal Kehamilan Ektopik Terganggu, Ketahui juga Beragam Gejalanya
Kehamilan
Hamil di Luar Kandungan, Ketahui Gejala & Cara Mengatasinya
9 Foto
Kehamilan
9 Potret Gaya Busana Keluarga Kerajaan Inggris Usai Melahirkan
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kehamilan Ektopik di Bekas Luka Caesar: Gejala, Risiko, & Pentingnya Diagnosis Dini
Miss Indonesia 2014 Maria Rahajeng Berduka, Alami Keguguran karena Kehamilan Ektopik
Kisah Bunda Alami Kehamilan Heterotropik, Satu Embrio di Rahim dan Lainnya di Ovarium