kehamilan
Wabah Ebola Bikin Bumil Takut ke Rumah Sakit, Angka Kematian di Kongo Naik Hampir 70 Persen
HaiBunda
Kamis, 05 Nov 2026 11:00 WIB
Wabah penyakit menular dapat membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Salah satu kelompok berisiko yang paling terdampak adalah ibu hamil, Bunda.
Kondisi terkait wabah penyakit menular belum lama ini menjadi sorotan di Republik Demokratik Kongo. Kondisi wabah ini sampai membuat sejumlah ibu hamil takut untuk berobat ke rumah sakit.
Data terkait wabah Ebola yang tersedia masih terbatas. Namun, angka kematian di provinsi Ituri, Kongo, menimbulkan kekhawatiran. Dilansir laman Reuters, data PBB menunjukkan bahwa kematian ibu di provinsi Ituri melonjak hampir 70 persen antara Mei dan Juli dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bagian timur kota Butembo, para perawat di pusat layanan kesehatan Masiki mengatakan bahwa angka kelahiran telah menurun tajam di bangsal bersalin sejak wabah Ebola terjadi pada bulan Mei. Lapotan menyebut, hanya ada satu ibu yang beristirahat bersama bayinya yang baru lahir selama kunjungan baru-baru ini.
Menurut UNFPA, selama periode Mei hingga Juli sejak wabah dimulai, telah terjadi penurunan lebih dari 30 persen persalinan di rumah sakit dan penurunan 50 persen dalam perawatan untuk komplikasi obstetri.
Lantas, apa yang membuat para ibu hamil takut berobat ke rumah sakit di tengah wabah Ebola di Kongo?
Kecemasan jadi alasan ibu hamil enggan berobat
Di Kongo Timur, ketakutan akan Ebola membuat perempuan enggan mencari perawatan kesehatan. Hal itu berkontribusi pada meningkatnya kematian ibu dan menurunnya tingkat imunisasi anak yang dapat membebani sistem perawatan kesehatan selama bertahun-tahun mendatang.
Para petugas kesehatan mengatakan bahwa kecemasan yang tidak beralasan tentang kontak dengan Ebola adalah alasan utama mengapa perempuan mengabaikan perawatan prenatal di Kongo. Mereka bahkan memilih untuk melahirkan di rumah, meski rentan terkena komplikasi.
Tak hanya itu, ada pula calon ibu yang enggan ke rumah sakit karena takut diberikan obat. Mereka khawatir obat-obatan yang dipakai sudah terjangkit virus.
"Mereka mengira obat-obatan yang kami berikan mengandung virus Ebola," kata kepala perawat Liliane Adronga.
Menurut Adronga, virus Ebola membuat banyak perempuan sering kali menghindari mencari perawatan hingga akhirnya terlambat. Sebuah kasus baru-baru ini mengungkap seorang perempuan yang diyakini telah kehilangan bayinya saat mengidap malaria yang tidak diobati.
Perlu diketahui, wabah Ebola telah menyebar ke tujuh provinsi, menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menewaskan lebih dari 4.000 orang. Para pejabat setempat mengatakan kalau wabah ini masih jauh dari terkendali, meskipun infeksi telah melambat di beberapa bagian negara.
Wabah Ebola dan dampaknya pada ibu hamil
Dilansir laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), Ebola adalah penyakit parah yang sering kali berakibat fatal pada manusia, Bunda. Tingkat kematian rata-rata akibat penyakit Ebola adalah sekitar 50 persen.
Penyakit Ebola disebabkan oleh virus yang termasuk dalam genus Orthoebolavirus dari famili filoviridae. Enam spesies Orthoebolavirus telah diidentifikasi hingga saat ini, dengan tiga di antaranya diketahui menyebabkan wabah besar.
Penyakit Ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976 dalam dua wabah simultan. Satu wabah adalah penyakit virus Sudan di Nzara, yang sekarang berada di Sudan Selatan, dan wabah lainnya adalah penyakit virus Ebola di Yambuku, yang sekarang berada di Republik Demokratik Kongo. Wabah yang terakhir terjadi di sebuah desa dekat Sungai Ebola, dan dari situlah penyakit ini mendapatkan namanya.
Seseorang dapat tertular virus dari orang lain melalui kontak langsung (melalui luka terbuka pada kulit atau selaput lendir) dengan darah atau cairan tubuh orang yang sakit atau meninggal karena penyakit Ebola, dan
benda atau permukaan yang telah terkontaminasi cairan tubuh (seperti darah, feses, muntah) dari seseorang yang sakit atau meninggal karena penyakit tersebut.
Masa inkubasi atau interval dari infeksi hingga munculnya gejala bervariasi dari 2 hingga 21 hari. Gejala penyakit Ebola dapat muncul tiba-tiba dan meliputi demam, kelelahan, rasa tidak enak badan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.
Gejala-gejala tersebut kemudian diikuti oleh muntah, diare, sakit perut, ruam, dan gejala gangguan fungsi ginjal dan hati.
Penyakit virus Ebola memang dapat meningkatkan risiko keguguran dan persalinan dini, sehingga memerlukan penanganan klinis yang ketat. Virus Ebola dapat bertahan dalam cairan yang berhubungan dengan kehamilan serta ASI.
Pedoman baru WHO menyarankan petugas kesehatan tentang cara melindungi diri saat merawat ibu hamil yang terinfeksi virus Ebola. Ini termasuk persalinan yang diinduksi atau prosedur pembedahan, yang membawa risiko penularan lebih besar dalam kasus infeksi akut. Setiap perawatan invasif harus dilakukan dengan menggunakan alat pelindung diri lengkap.
Demikian kabar terbaru dari wabah Ebola yang terjadi di Kongo dan dampaknya pada ibu hamil. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
15 Tanda Mau Melahirkan, Ibu Hamil Wajib Tahu
Kehamilan
Perkembangan Janin yang Normal di Trimester 1, 2, dan 3
Kehamilan
7 Persiapan yang Perlu Dilakukan agar Memudahkan Persalinan
Kehamilan
Perubahan yang Mungkin Dialami Saat Hamil Trimester 1, 2, dan 3
Kehamilan
Manfaat Kurma untuk Ibu Hamil, Benarkah Juga Bisa Lancarkan Persalinan?
5 Foto
Kehamilan
5 Potret Felicya Angelista Hamil 7 Bulan, Ungkap Naik 12 Kg
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Dampak Paparan Virus Zika saat Hamil, Picu Gangguan Penglihatan & Pendengaran Anak
Ibu Hamil Disarankan Dapat 3 Vaksin untuk Lindungi Bayi dari Penyakit Serius Menurut Pakar
Kasus HIV Meningkat 12 Kali Lipat dalam 15 Tahun, Ini Dampaknya pada Kehamilan