kehamilan

Kenali Diabetes Gestasional yang Dialami Ibu Hamil

Melly Febrida 14 Nov 2017
Diabetes gestasional/ Foto: thinkstock Diabetes gestasional/ Foto: thinkstock
Jakarta - Bunda yang sedang hamil tetap menjaga pola makannya ya, apalagi jika berat badan sudah termasuk obesitas. Soalnya nih, obesitas saat hamil bisa memicu diabetes gestasional.

Diabetes gestasional ini berkembang selama tahap kehamilan, biasanya sering terjadi di trimester kedua. Kondisi ini umumnya hilang setelah melahirkan.

Diabetes gestasional itu terjadi ketika tubuh ibu hamil nggak bisa memproduksi insulin secukupnya guna memenuhi kebutuhan ekstra pada masa kehamilan. Nah, diabetes gestasional ini bisa menyebabkan masalah bagi Bunda dan bayi selama dan setelah kelahiran. Tapi risiko terjadinya masalah ini bisa berkurang apabila terdeteksi dan dikelola dengan baik.

Bunda bisa mengendalikan diabetes gestasional dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga dan jika perlu dengan minum obat. Mengontrol gula darah juga dapat mencegah proses persalinan yang sulit.

Pada diabetes gestasional, gula darah biasanya kembali normal setelah melahirkan. Tapi menurut situs NHS, jika Bunda mengalami diabetes gestasional, ada risiko diabetes tipe 2 yang mengintai. Perlu perawatan dan pemantauan dalam mengelola gula darah.



Faktor Risiko

Siapa saja yang berisiko terkena diabetes gestasional? Situs Mayo Clinic menuliskan setiap wanita bisa mengalami diabetes gestasional selama kehamilannya. Tapi risiko itu menjadi tinggi apabila:

1. Indeks massa tubuh (IMT) di atas 30
2. Sebelumnya melahirkan bayi yang beratnya 4,5 kg atau lebih
3. Mengalami diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
4. Salah satu orang tua atau saudara kandung mengalami diabetes
5. Berasal dari keluarga Asia Selatan, China, Afrika-Karibia, atau Timur Tengah
6. Usia lebih dari 25 tahun. Wanita yang lebih tua dari usia 25 tahun lebih cenderung terkena diabetes gestasional.

Apabila Bunda memiliki faktor risiko diabetes gestasional, maka sebaiknya menanyakan ke dokter untuk skrining selama kehamilan.

Diabetes gestasional/Diabetes gestasional/ Foto: Thinkstock


Gejala Diabetes Gestasional

Diabetes gestasional biasanya tidak menimbulkan gejala apapun. Sebagian besar kasus hanya dapat diketahui saat dilakukan tes kadar gula darah.

Beberapa ibu hamil mungkin mengalami gejala jika tingkat gula darah mereka terlalu tinggi (hiperglikemia), seperti:
1. Rasa haus meningkat
2. Lebih sering buang air kecil ketimbang biasanya
3. Mulut kering
4. Kelelahan

Tapi beberapa gejala ini biasa terjadi juga sih pada masa kehamilan, sehingga belum tentu merupakan pertanda adanya masalah. Bicaralah dengan bidan atau dokter jika Bunda khawatir dengan gejala yang dialami.

Kapan Harus ke Dokter

Apabila memungkinkan, coba cari perawatan kesehatan lebih awal, Jadi saat merencanakan kehamilan, kita bisa nih melakukan pemeriksaan terlebih dahulu agar dokter dapat mengevaluasi risiko diabetes gestasional.

Begitu Bunda hamil, dokter akan memeriksa diabetes gestasional sebagai bagian dari perawatan prenatal. Jika ternyata mengalami diabetes gestasional, mungkin Bunda memerlukan pemeriksaan yang lebih sering.

Dokter mungkin juga mengarahkan Bunda ke profesional kesehatan tambahan yang mengkhususkan diri pada diabetes, seperti ahli endokrinologi, ahli diet terdaftar atau diabetes educator. Mereka bisa membantu Bunda belajar mengelola kadar gula darah selama kehamilan.

Untuk memastikan kadar gula darah kembali normal setelah bayi lahir, tim perawatan kesehatan akan memeriksa kadar gula darah tepat setelah melahirkan dan mengulanginya dalam enam minggu. Karena itu jika kita mengalami diabetes gestasional, ada baiknya melakukan tes kadar gula darah secara teratur setelah melahirkan.



Penyebab

Peneliti tidak tahu persis mengapa beberapa wanita mengalami diabetes gestasional. Hanya saja, tubuh mencerna makanan yang dimakan untuk menghasilkan gula (glukosa) yang masuk ke aliran darah. Sebagai tanggapan, pankreas akan memproduksi insulin. Insulin adalah hormon yang membantu glukosa berpindah dari aliran darah ke sel tubuh, yang ia digunakan sebagai energi.

Selama kehamilan, plasenta yang menghubungkan bayi dengan suplai darah Bunda, menghasilkan berbagai hormon dengan tingkat yang tinggi. Hampir semua hormon mengganggu kerja insulin di sel tubuh sehingga bisa meningkatkan gula darah sederhana setelah makan.

Seiring pertumbuhan bayi, plasenta menghasilkan lebih banyak hormon penghasil insulin. Pada diabetes gestasional, hormon plasenta memprovokasi kenaikan gula darah ke tingkat yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan bayi.

Komplikasi

Kebanyakan ibu hamil yang memiliki diabetes gestasional melahirkan bayi sehat. Namun diabetes gestasional yang tidak dikelola dengan hati-hati dapat menyebabkan kadar gula darah tidak terkontrol dan menyebabkan masalah bagi ibu dan bayinya, termasuk kemungkinan harus melahirkan secara caisar.

Jika Bunda memiliki diabetes gestasional, bayi Bunda mungkin berisiko tinggi terhadap:

1. Berat Lahir Berlebih

Glukosa ekstra dalam aliran darah Bunda melintasi plasenta yang memicu pankreas bayi membuat insulin ekstra. Hal ini bisa menyebabkan bayi tumbuh terlalu besar (macrosomia).

Bayi yang sangat besar, di mana beratnya 9 kilogram atau lebih, cenderung terjepit di jalan lahir. Saking besarnya berisiko mengakibatkan cedera saat persalinan. Karena itu memerlukan prosedur caisar.

2. Lahir Dini (Preterm) dan Sindrom Gangguan Pernapasan

Gula darah tinggi seorang ibu dapat meningkatkan risiko persalinan dini. Ini terjadi baik karena bayi yang lahir jauh sebelum hari perkiraan lahir, atau dokter merekomendasikan persalinan dini karena kondisi bayi yang besar.

Kalau lahir sebelum waktunya alias prematur, bayi rentan mengalami sindrom gangguan pernapasan. Ini merupakan suatu kondisi yang membuat bayi sulit bernapas.

Bayi dengan sindrom ini mungkin memerlukan bantuan pernapasan sampai paru-paru mereka matang dan menjadi lebih kuat. Bayi dari ibu dengan diabetes gestasional juga mungkin mengalami sindrom gangguan pernapasan meskipun mereka tidak dilahirkan secara prematur.

3. Gula Darah Rendah (Hipoglikemia)

Terkadang bayi dari ibu yang mengalami diabetes gestasional mengembangkan gula darah rendah (hipoglikemia) sesaat setelah lahir. Ini karena produksi insulin ibu hamil sedang tinggi.

Nah, hipoglikemia berat dapat memicu kejang pada bayi. Pemberian segera larutan glukosa intravena dapat mengembalikan kadar gula darah bayi menjadi normal.

4. Diabetes Tipe 2 di Kemudian Hari

Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami diabetes gestasional berisiko lebih tinggi terkena obesitas dan diabetes tipe 2 di kemudian hari. Nah, diabetes gestasional yang tidak dikontrol juga dapat menyebabkan kematian bayi sebelum atau sesaat setelah lahir.

Komplikasi pada Bunda

Diabates gestasional juga dapat meningkatkan risiko Bunda terhadap:

1. Tekanan Darah Tinggi dan Preeklampsia

Diabetes gestasional meningkatkan risiko tekanan darah tinggi serta preeklampsia. Nah, tekanan darah tinggi ini dapat mengancam kehidupan ibu dan bayi.

2. Diabetes di Masa Depan

Jika Bunda memiliki diabetes gestasional, Bunda lebih mungkin mendapatkannya lagi selama kehamilan di masa depan. Bunda juga cenderung mengalami diabetes tipe 2 seiring bertambahnya usia.

Namun, menjalani pilihan gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga dapat membantu mengurangi risiko diabetes tipe 2 di masa depan.

Pencegahan

Kebiasaan sehat yang Bunda jalani sebelum hamil, semakin baik untuk mencegah diabetes gestasional, mesti memang tak ada jaminan.

Berikut ikhtiar untuk pencegahan diabetes gestasional yang bisa Bunda jalankan:

1. Makan Makanan Sehat

Pilihlah makanan berserat tinggi dan rendah lemak dan kalori. Fokus pada buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. Berusahalah untuk variasi agar membantu mencapai tujuan tanpa mengurangi rasa atau nutrisi. Perhatikan pula ukuran atau porsinya.

2. Olahraga

Tetap aktif berolahraga sebelum dan selama kehamilan dapat membantu melindungi Bunda dari pengembangan diabetes gestasional. Lakukan 30 menit aktivitas moderat hampir setiap hari dalam seminggu. Berjalan cepat setiap hari, naik sepeda, atau berenang bisa menjadi pilihan.

Jika Bunda tidak bisa melakukan latihan 30 menit, beberapa sesi yang lebih pendek dapat dilakukan. Aktivitas fisik sederhana yang bisa dilakukan misalnya turun dari kendaraan lebih jauh dari tujuan, sehingga kita berjalan kaki sedikit lebih jauh dan lebih lama.

3. Hindari Kelebihan Berat Badan Sebelum Hamil

Dokter tidak merekomendasikan penurunan berat badan selama kehamilan. Tapi berat badan berlebihan saat hamil bisa memunculkan berbagai risiko, salah satunya diabetes gestasional.

Karena itu, jika Bunda berencana untuk hamil, lebih baik turunkan lebih dahulu berat badna yang berlebihan. Fokus juga pada perubahan pola makan sebelum dan saat hamil menjadi lebih sehat.

Selain itu, motivasikan diri dengan mengingat manfaat turun berat badan dalam jangka panjang, seperti jantung yang lebih sehat, lebih banyak energi, dan harga diri yang lebih baik. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi