kehamilan

Cerita Ibu yang Keguguran karena Slapped Cheek Syndrome

Asri Ediyati 25 Mei 2018
Cerita Ibu yang Keguguran karena Slapped Cheek Syndrome/ Foto: ilustrasi/thinkstock Cerita Ibu yang Keguguran karena Slapped Cheek Syndrome/ Foto: ilustrasi/thinkstock
Newcastle, Inggris - Tiap ibu berharap kondisi janin dan dirinya selalu dalam keadaan sehat. Dan tentu saja seorang ibu hamil akan menghindari makanan tertentu, merokok ataupun melakukan hal yang dianggap pantangan.

Namun, ada juga hal-hal yang sayangnya bisa terjadi nggak sesuai dengan harapan seorang ibu hamil. Seperti yang dialami oleh Gemma Carlile, seorang ibu asal Newcastle, Inggris. Setelah penyakit yang disebut slapped cheek syndrome yang menyebabkan keguguran, ia berharap wanita hamil lainnya dapat menghindari kejadian yang ia alami.

Apa sih slapped cheek syndrome itu? Penyakit ini disebut juga Fifth Disease. Kondisi ini disebabkan oleh virus yang biasanya ditandai dengan ruam merah di pipi pasien

Menurut Mayo Clinic, penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak kecil selama musim semi dan musim dingin karena menyebar melalui air liur dan lendir hidung. Akan tetapi juga dapat menyerang orang dewasa.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), slapped cheek syndrome dapat diturunkan dari ibu yang hamil kepada bayinya . Penyakit ini menyebabkan anemia berat dan bahkan keguguran. Meskipun sekitar setengah dari ibu hamil kebal terhadap Fifth Disease ini, namun ada juga yang kurang beruntung seperti yang dialami Gemma.

Gemma memberi tahu bahwa dia mengalami penyakit ini di nursery tempat dia bekerja di Newcastle, Inggris. Chronicle Live

Gemma, yang juga memiliki seorang putra berusia 7 tahun, menceritakan bahwa dia berada di usia kehamilan hampir 18 minggu ketika janinnya pertama kali mulai menunjukkan tanda-tanda anemia.



"Karena sudah memiliki hematoma yang besar di rahim saya, saya diperiksa kembali lewat USG dua hari kemudian yang ternyata memastikan bahwa anak saya sakit," katanya kepada Chronicle Live.

Tak lama setelah didiagnosa, dokter mengatakan kepada Gemma dan suaminya, Terry, bahwa janin mereka membutuhkan transfusi darah di dalam rahim.

Tentunya, keputusan ini sangat sulit dibuat ya, Bun. National Health Service menyatakan bahwa transfusi darah di dalam rahim membawa risiko kemungkinan keguguran. Tetapi orang tua yang khawatir ini nggak merasa memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan bayi mereka.

"Transfusi dijadwalkan dua hari kemudian karena ia memburuk begitu cepat, jantungnya bekerja sangat keras sehingga jika kami tidak menyetujui transfusi, kami akan kehilangan dia," katanya dikutip dari Cafe Mom.

Tetapi hanya dua hari setelah transfusi, mereka diberi kabar buruk bahwa si kecil telah meninggal. Sang ibu mengatakan bahwa berita itu benar-benar memilukan. Pada 28 Maret lalu, hanya pada usia 19 minggu hamil, ia memutuskan untuk menginduksi persalinan dan melahirkan bayi laki-lakinya. Bayi itu kemudian diberi nama Terence Arthur.

"Saya melahirkannya ke dunia, dia cantik dan sempurna. Kami memeluknya dan menciumnya, rasa sakit dan cinta yang saya rasakan untuk anak lelaki kecil saya itu tak terlukiskan. Kami meninggalkan rumah sakit dengan tangan kosong dan hati kosong. Hari itu," kata Gemma.

Cerita Ibu yang Keguguran karena Slapped Cheek SyndromeCerita Ibu yang Keguguran karena Slapped Cheek Syndrome/ Foto: Gemma Carlile via Cafe Mom


Rasa sakit itulah yang mendorong Gemma untuk berbicara dan meningkatkan kesadaran untuk orang tua lainnya.

"Saya bekerja di tempat penitipan anak dan telah bekerja lebih dari empat tahun. Saat bertemu bidan pertama saya, saya bertanya apa yang harus saya ketahui. Saya diberitahu tentang slapped cheek syndrome tetapi diberitahu untuk tidak khawatir karena saya 'mungkin kebal,' baik kasus saya dan banyak kasus lain membuktikan tidak semua orang kebal," ujarnya.

Setelah kematian bayinya, Gemma membuat petisi Change.org yang meminta pemerintah Inggris untuk menyebarkan lebih banyak informasi tentang Fifth Disease di sekolah-sekolah. Dia juga ingin rumah sakit menawarkan tes darah awal untuk wanita hamil yang kemungkinan akan mengalami kontak dengan penyakit tersebut.

"Meskipun kami tak akan bisa membasmi penyakit ini, kami setidaknya dapat mencoba dan bersatu untuk meningkatkan kesadaran. Saya ingin melakukan sesuatu agar tak banyak orang harus melalui ini," tulisnya dalam petisi.

(aci/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi