kehamilan

Metode Kontrasepsi Aneh dan Cenderung Bahaya yang Pernah Dipakai

Melly Febrida Senin, 16 Jul 2018 - 18.50 WIB
Ilustrasi metode kontrasepsi berbahaya/ Foto: thinkstock Ilustrasi metode kontrasepsi berbahaya/ Foto: thinkstock
Jakarta - Saat hendak menunda punya momongan, yang saya tahu ya pakai alat kontrasepsi. Ya nggak, Bun? Tapi, ternyata di luar sana banyak wanita yang menggunakan metode yang didasarkan rumor dan mitos, bahkan ada metode yang berbahaya juga lho.

50 Tahun lalu, para pemimpin dunia memang mengakui keluarga berencana (KB) merupakan hak asasi manusia. Sayangnya, kontrasepsi yang aman nggak bisa dijangkau oleh semua orang. Alhasil, sejumlah wanita mencegah kehamilan dengan metode tradisional. Seperti apa aja?

United Nations Population Fund (UNFPA) mengumpulkan ada banyak contoh metode yang nggak efektif mencegah kehamilan dan cenderung membahayakan. Metode itu termasuk yang menggunakan bahan kimia hingga mencegah kehamilan dengan memanfaatkan spons dapur. Bahkan, ada juga pasangan yang menggunakan cara yang belum ada dasar ilmiahnya seperti melompat-lompat setelah berhubungan intim.

Situs UNFPA menuliskan di negara berkembang ada sekitar 214 juta wanita yang ingin mencegah kehamilan tapi sayangnya mereka nggak pakai metode kontrasepsi modern. Disebutkan, para wanita ini termasuk 155 juta wanita yang tidak menggunakan metode keluarga berencana sama sekali. Kemudian, sekitar 59 juta wanita menggunakan metode kontrasepsi tradisional yang tidak dapat diandalkan dan mungkin tidak aman.



Ada juga metode yang cenderung berbahaya tapi tetap diimplementasikan. Metodenya antara lain dengan menelan atau memasukkan bahan kimia yang keras ke dalam tubuh. Misalnya saja disinfektan, cuka, dan jus lemon. Seperti diketahui, saat masuk ke tubuh bukan nggak mungkin bahan-bahan tersebut bisa menyebabkan luka bakar, iritasi dan kerusakan lainnya.

Ada juga yang menggunakan herba untuk mencegah kehamilan seperti jahe. Padahal itu nggak berguna dan para ahli sudah memperingatkan belum ada dosis yang diketahui supaya jahe bisa aman dan efektif dipakai sebagai ramuan untuk membantu mencegah kehamilan.

"Beberapa orang ada yang menggunakan kantong plastik atau balon, bukan kondom. Benda-benda tersebut tentu beda dengan kondom yang dibuat dengan teknologi canggih untuk mencegah kehamilan dan melindungi dari infeksi. Plastik dan balon itu rentan rusak serta bisa menyakitkan," kata Hemantha Senanayake, profesor obstetri dan ginekologi di Sri Lanka.

Nggak cuma itu, Bun, ada juga lho sebuah negara yang penduduknya menggunakan plastik kaku untuk es loli sebagai pengganti kondom. Padahal plastik ini bisa menyebabkan rasa sakit, luka, dan lecet di jaringan genital dan yang pasti nggak berfungsi sebagai kontrasepsi. Dari sekian banyak cara di atas, ada sebuah metode yang bisa diandalkan yakni menyusui asalkan dalam kondisi yang tepat. Namun, masih ada juga wanita yang 'kebobolan' meski dia menyusui.

Di Nepal ada metode yang disarankan praktisi pengobatan tradisional yang katanya bisa mencegah hamil yakni dengam meminum kunyit. Seorang suami menceritakan, istrinya baru saja melahirkan anak keduanya setahun setelah anak pertama lahir. Keduanya sepakat menunda memiliki anak ketiga dengan mengikuti saran minum kunyit. Tapi, apa yang terjadi? Pasangan suami istri itu kini memiliki sembilan anak dengan satu kali keguguran dan dua anak yang lahir mati.

Penggunaan alat kontrasepsi pada masing-masing orang pastinya berbeda. Tapi, pada prinsipnya dr Dyana Safitri SpOG(K), MARS mengatakan alat kontrasepsi yang ideal harus bisa diandalkan, tidak membahayakan kesehatan, dapat disesuaikan sama kebutuhan, dan nggak mengganggu aktivitas seks. Soalnya, seperti komunikasi, aktivitas seks juga penting untuk hubungan suami istri.

"Kemudian, mudah, murah, dan dapat persetujuan dari pasangan. Enak ya kalau ada satu alat kontrasepsi yang bisa memenuhi seluruh kriteria itu. Tapi, ini kan kembali lagi pada kita sebagai pemakai," kata dr Dyana.

Dalam memilih alat kontrasepsi yang memegang peran penting adalah 4 tahu. Apa itu? Jadi, Bunda harus tahu kebiasaan diri sendiri dan pasangan. Misalnya Bunda bekerja dan sering banget lupa, baiknya jangan pilih pil KB. Atau, suami tugas luar kota dan pulang 3 bulan sekali, lebih baik pilih saja alat kontrasepsi jangka panjang. Tahu yang kedua adalah tahu perencanaan keluarga.

"Lalu tahu risiko diri, penyulit tertentu seperti penyakit penyerta apa yang bisa jadi kendala dalam penggunaan alat kontrasepsi. Lalu, kita juga tahu jenis alat kontrasepsinya apa," kata dr Dyana.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi