kesehatan

Kisah Menyentuh Bocah yang Kena Tumor Otak di Umur 3 Tahun

Asri Ediyati 09 Jul 2018
Kisah Menyentuh Bocah yang Kena Tumor Otak di Umur 3 Tahun/ Foto: Facebook Kisah Menyentuh Bocah yang Kena Tumor Otak di Umur 3 Tahun/ Foto: Facebook
Fairport, New York - Hidup penuh dengan kejutan. Kadang sesuatu terjadi tanpa diprediksi. Termasuk ketika orang tua menhgadapi kenyataan buah hatinya divonis tumor otak dan nggak lama kemudian si kecil kembali ke pangkuan-Nya. Seperti kisah bocah lima tahun bernama Zoey Catherine Dagget.

Zoey didiagnosis tumor otak pada usia tiga tahun. Zoey dikenal anak yang periang sehingga nggak ada yang menyangka bahwa di usia yang belum emncapai lima tahun Zoey didiagnosis tumor otak. Sebelum didiagnosis, Zoey adalah anak yang bisa dibilang nggak pernah capek, Bun. Ia suka pergi ke peternakan kakek neneknya, memancing, memberi makan sapi dan rajin berangkat ke sekolahnya di Brooks Hill Elementary School di Fairport Central School District.

"Dia adalah anak mungil yang menghangatkan suasana. Saya ingat, kami berada di Misa Malam Natal, suasananya hening dan tiba-tiba dia mulai bernyanyi 'Twinkle, Twinkle, Little Stars' di tengah-tengah gereja luas yang padat. Itu adalah Zoey," kata Casey Dagget, sang ibu dikutip dari WWLTV.

Diagnosis tumor otak didapat Zoey di bulan Juli 2016. Sebelumya Zoet jatuh di taman dan nggak mengalami patah tulang. Orang tuanya pun mengira Zoey baik-baik aja. Seminggu kemudian Zoey susah menggerakkkan tangannya dan ia segera dibawa ke RS. Saat itulah dokter mengatakan ada tumor di otak Zoey dan dia dinyatakan terkena DIPG (Diffuse Intrinsic Pontine Glioma).

Tumor tumbuh dengan cepat dan mengganggu kemampuan Zoey untuk berjalan, berbicara, menelan, melihat sampai bernapas. Menurut informasi di situs web Rumah Sakit St. Jude, DIPG dimulai di batang otak dan bagi yang mengalaminya harapan hidupnya rendah. Sejak saat itu, perjalanan Zoey dicatat di laman CaringBridge dan Facebook. Kisahnya diikuti oleh lebih dari 6.000 orang di halaman Facebook 'Zoeys Fight'.

"Itu sangat membantu dan terapi bagi saya untuk menulis semuanya dan membiarkan semua orang tahu apa yang kami alami," kata Casey.

Menurut Casey, Zoey hidup lebih dari yang diharapkan karena pasien DIPG biasanya memiliki kesempatan bertahan hidup kurang dari satu persen. Jadi Zoey bisa dibilang amat beruntung, Bun.



Sempat ke Jerman utnuk Mengobati Tumor Otaknya

Selama berjuang melawan penyakitnya, Zoey diketahui memiliki bucket list. Zoey ingin jadi cheerleader di sekolahnya, ikut perkemahan, dan keliling dunia. Tahu keinginan anaknya, Casey dan suaminya Ben Daggett mengajak Zoey jalan-jalan ke Belanda, Jerman, Perancis, Inggris. Di AS, ia telah mengunjungi California, Florida, Washington DC dan New York City.

"Kami berkeliling dunia untuk Zo. Kami memastikan bahwa dia melihat semua yang ingin dia lihat, karena dia tidak akan bisa melakukan ketika dia bertambah besar," kata Casey.

Sambil berkeliling dunia, Zoey dan keluarga mengunjungi Jerman untuk berobat. Kebetulan, teknologi di Jerman jauh lebih canggih dibandingkan di rumah sakit asalnya di Fairport. Pengobatannya dengan cara mengaktivasi sistem imun untuk melawan sel kanker Zoey. Setelah beberapa kali terapi, kondisi Zoey sempat membaik.

"Zoey 100 persen bebas gejala, bebas steroid dan kembali normal seperti anak usia 4 tahun lain. Namun, pada akhirnya, terapi di Jerman tidak berfungsi lagi dan kami kembali ke Fairport, tempat Zoey pergi ke preschool. Tubuh mungilnya sangat kuat. Dia telah melalui lebih banyak radiasi daripada yang pernah ada yakni empat tahap. Sebagian besar anak-anak gagal melewati dua atau tiga tahap," tutur Casey.

Kata sang ayah, melakukan radiasi putaran kelima seperti 'menambahkan garam ke laut' alias sia-sia karena ternyata tumor di otak Zoey nggak berhenti tumbuh.



Hari-hari Terakhir Zoey

Meski sakit, Zoey masih semangat ke sekolah sampai dia lulus preschool, Bun. Nah, setelah Zoey lulus pihak sekolah memberi bantuan dana yang didapat dari acara 'Beat Brain Cancer 5K'. Sayang, sejak tanggal 27 Juni kesehatan Zoey menurun. Kondisinya memburuk. Nggak sedikit orang yang menjenguk Zoey.

Semakin payah kondisi Zoey, dia cuma berada di gendongan bunda atau ayahnya. Atau, kadang kala ditemani orang tuanya Zoey mendengarkan cerita dan musik atau nonton film favoritnya yakni 'Harry Potter'. Tepat di Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli lalu, pukul 16.17 waktu setempat Zoey juga 'merdeka' dari penyakitnya. Ya, Zoey menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan sang ayah.

"Kami sudah memiliki dua tahun untuk mempersiapkan semuanya, tetapi itu tidak pernah cukup," kata Casey.

Acara pemakaman Zoey dilaksanakan hari ini, Senin (9/7). Sewaktu hidup Zoey meminta tak ada pakaian hitam di pemakamannya. Maka dari itu, orang yang hadir ke pemakamannya diminta memakai baju berwarna cerah. Rencananya, abu jasad Zoey akan disebar ke beberapa negara di dunia, termasuk kota favorit Zoe, Paris.

Halaman Facebook Zoey juga akan berganti nama dari 'Zoes Fight' menjadi 'Zoes Light'. Halaman ini kelak dikelola sebagai wadah untuk membantu pasien tumor otak anak lain seperti Zoey.

Selamat jalan Zoey! Sekarang kamu sudah nggak merasakan sakit dan bahagia di Sana. Semangatmu berhasil menginspirasi orang-orang di sekitarmu, Nak.


(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi