kesehatan

Kenali Gejala DBD pada Anak yang Tidak Bunda Sadari

Annisa Karnesyia Kamis, 31 Jan 2019 - 19.30 WIB
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Gejala awal DBD (Demam Berdarah Dengue) yang paling umum biasanya bisa langsung terdeteksi. Menurut Kementerian Kesehatan RI, gejala umum itu antara lain demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, dan mual.

Bisa juga mengalami perdarahan seperti mimisan atau gusi berdarah, serta adanya kemerahan di bagian permukaan tubuh. Namun, tahukah Bunda bahwa ada gejala lain DBD yang biasanya tidak disadari dan harus diwaspadai. Yuk, kita simak paparannya.


1. Diare
Menurut dr Wulya Ratna Karyanti, ketua Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSCM-FKUI, sekira 20 persen pasien datang dengan keluhan diare, yang kemudian beberapa saat tubuh mengalami panas tinggi. Ketika dicek, ternyata trombosit turun dan positif terjangkit virus dengue. Yang paling ditakutkan, saat anak menderita diare dan juga mengalami gejala DBD lainnya karena cairan dalam tubuh semakin berkurang, yang bisa menyebabkan dehidrasi.

2. Kejang demam
Gejala lainnya yang perlu diwaspadai menurutnya adalah kejang demam. Saat panas tinggi, anak rentan mengalami kejang, Bun. Sebaiknya, Bunda langsung cek trombositnya karena bisa jadi itu adalah gejala DBD, yang diawali dan dikecoh dengan kejang.

Ilustrasi anak demam/ Ilustrasi anak demam/ Foto: thinkstock

3. Sakit perut

Pada kasus yang lebih berat, biasanya anak mengalami sakit perut. Dr Karyanti mengatakan, seorang pasien anak datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit perut. Anak itu sembuh keesokan harinya, bahkan sudah masuk sekolah seperti biasa. Tapi, dua hari kemudian, datang kembali dengan keluhan sakit perut hebat.

"Ketika diperiksa darah, ternyata kadar hematrokit naik dan trombosit turun kurang dari 100.000 per mikroliter, normalnya kan lebih dari 150.000 per mikroliter. Ternyata, anak tersebt positif DBD," paparnya saat konferensi pers terkait DBD di Kementrian Kesehatan, Rabu (30/1/2019).


Nah, setelah mengetahuinya, Bunda bisa lebih waspada lagi ya kalau gejala-gejala seperti itu terjadi pada si buah hati. Tapi, Bunda jangan lupa juga untuk mencegahnya dengan menghentikan siklus kembang biak jentik nyamuk Aedes Aegypti menjadi nyamuk dewasa.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, sebagai upaya pencegahan DBD, Bunda bisa melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M Plus, yaitu menguras dan menutup rapat penampungan air, serta mendaur ulang kembali barang bekas, yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti.

"Jangan lupa juga, Plus sebagai upaya pencegahan DBD lainnya seperti menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat pengusir nyamuk, , pakai kelambu saat tidur, pelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah." tutup dr Siti.

(muf/muf)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi