sign up SIGN UP search


menyusui

Ibu Menyusui Minum Obat Bisa Memengaruhi Bayi, Benar Enggak Sih?

Annisa Karnesyia Jumat, 03 Jul 2020 05:42 WIB
containers with pills, flowers in vase and mother breastfeeding baby behind at home caption
Jakarta -

Kesehatan ibu begitu penting saat menyusui buah hatinya. Tak sedikit ibu menyusui akhirnya mengonsumsi obat-obatan untuk tetap sehat atau sembuh dari sakit yang diidapnya.

Namun, sebagian ibu memilih tidak mengonsumsi obat karena takut memberikan efek ke si kecil. Lalu benarkah obat-obatan bisa memengaruhi kesehatan ibu dan bayinya?

Mengutip Mayo Clinic, hampir semua obat yang ada di dalam darah ibu akan ditransfer ke ASI sampai batas tertentu. Sebagian besar obat tidak menimbulkan risiko yang berbahaya pada bayi.


Tetapi, ada pengecualian di mana obat dapat terkonsentrasi dalam ASI. Itulah mengapa konsumsi obat pada ibu menyusui harus dipertimbangkan lagi.

Paparan obat dalam ASI menimbulkan risiko besar bagi bayi prematur, bayi baru lahir, dan bayi yang secara medis tidak stabil atau memiliki ginjal yang fungsinya buruk.

Sebaliknya, risiko terendah yaitu pada bayi sehat berusia 6 bulan dan lebih. Bayi di usia ini sudah dapat memindahkan obat melalui tubuh mereka secara efisien.

Sedangkan pada wanita yang menyusui lebih dari satu tahun usai melahirkan, lebih sering menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif lebih sedikit. Ini bisa mengurangi jumlah atau paparan obat yang ditransfer ke ASI. Sama halnya dengan obat-obatan yang digunakan dua hari usai melahirkan karena terbatasnya produksi ASI yang dihasilkan selama masa ini.

Ilustrasi ibu menyusuiIlustrasi ibu menyusui/ Foto: Getty Images/iStockphoto/tatyana_tomsickova

Dalam laman American Academy of Pediatrics (AAP) dijelaskan, penting bagi ibu menyusui untuk memberi tahu dokter anak tentang semua obat yang mereka minum, termasuk produk herbal. Tidak semua obat terkandung dalam jumlah yang signifikan dalam ASI atau menimbulkan risiko pada bayi.

"Kelas obat tertentu dapat menimbulkan masalah, baik karena akumulasi dalam ASI atau karena efeknya pada bayi atau ibu menyusui. Produk yang paling umum menjadi perhatian adalah obat penghilang rasa sakit, antidepresan, dan obat untuk mengatasi penyalahgunaan zat/alkohol atau menghentikan kebiasaan merokok," demikian kata AAP.

Menurut dokter anak Vincent Iannelli, MD, saat menyusui, paling baik Bunda memiliki dokter pribadi yang terpercaya. Jika nantinya kita perlu minum obat, dokter bisa memilihkan yang aman untuk ibu dan bayinya.

"Jika dokter Anda mengatakan bahwa obat tersebut tidak aman untuk dikonsumsi saat sedang menyusui, maka mintalah alternatifnya," ujar Iannelli, dilansir Very Well Family.

Pada kondisi kronis, minum obat bisa bermanfaat bagi ibu yang menyusui. Namun, ada beberapa obat yang berbahaya dikonsumsi saat menyusui, Bunda.

Selain mencari alternatif pengobatan, dokter mungkin merekomendasikan ibu untuk menyusui ketika obatnya berada pada tingkat rendah di ASI. Terkadang tenaga kesehatan menyarankan ibu berhenti menyusui sementara waktu atau secara permanen, tergantung berapa lama harus minum obat.

Jika Bunda berhenti menyusui hanya sementara, gunakan pompa payudara listrik ganda untuk menjaga persediaan ASI sampai bisa menyusui lagi. Jangan gunakan ASI yang dipompa saat sedang minum obat.

Nah, kalau harus berhenti menyusui secara permanen, tanyakan pada dokter tentang cara menyapih dan membantu memilihkan nutrisi lain untuk si kecil.

A young mom of Asian ethnicity breastfeeds her baby, while working at a table covered in baby diapers, bottles and toys.Ilustrasi Ibu Menyusui/ Foto: iStock

Jenis obat

Antibiotik adalah salah satu obat yang paling umum diresepkan untuk ibu menyusui. Jenis obat ini bisa masuk ke ASI dalam kadar tertentu, Bunda.

Secara umum, jika antibiotik diberikan langsung ke bayi prematur atau neonatus, maka aman bagi ibu untuk minum selama menyusui. Sedangkan obat sulfa, tidak boleh diberikan selama laktasi pada bayi kuning kurang dari 1 bulan. Sebab, jumlah bilirubin yang tersedia untuk ke otak tidak dapat diukur.

Dr. Eveline P.N. Sp.A dalam laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, selama ibu menyusui minum obat, ada hal-hal penting yang harus diperhatikan. Salah satunya, reaksi obat pada bayi yang disusui.

"Hal-hal yang perlu diperhatikan apakah ada reaksi yang kurang baik terjadi ada bayi, misalnya reaksiĀ alergi berupa ruam-ruam kemerahan di pipi atau badan, diare, mengantuk, perubahan pola menyusu, perubahan pola tidur, tingkat kesadaran, dan lain-lain," tutur Eveline.

Berikut lima contoh efek beberapa obat terhadap bayi menyusu, berdasarkan keterangan di Drugs and Lactation Database (LactMed):

1. Parasetamol (asetaminofen): dilaporkan menyebabkan bercak kemerahan di tungkai atas dan di muka bayi.

2. Difenhidramin: dilaporkan menyebabkan 10 persen bayi kolik dan satu dari enam bayi mengantuk.

3. Kodein: menyebabkan bayi bradikardi dan mengantuk. Pada ASI bisa meningkatkan kadar prolaktin, namun tidak berefek pada kemampuanĀ menyusui jika ibu sudah menyusui dengan baik.

4. Pseudoefedrin: membuat bayi rewel. Selain itu, menurunkan produksi ASI setelah 24 jam pemberian pseudoefedrin 60 miligram (mg) oral.

5. Ibuprofen: tidak memberikan efek samping pada bayi atau ASI.

Simak juga tips memperbanyak ASI saat menstruasi, di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi