sign up SIGN UP search


menyusui

Ciri-ciri Alergi Susu Sapi pada Bayi, Beda dengan Intoleransi Laktosa

Annisa Afani Rabu, 19 Aug 2020 17:03 WIB
Close Up Of Loving Mother Feeding Newborn Baby Son With Bottle At Home caption
Jakarta -

Alergi susu sapi menjadi salah satu alergi makanan yang paling umum ditemui pada beberapa bayi, Bunda. Itu karena molekul protein dalam produk susu dapat memicu sensitivitas.

Alergi susu sapi diperkirakan mempengaruhi sekitar 7 persen bayi berusia di bawah 1 tahun. Namun jumlah bayi yang mengalami alergi susu sapi hanya sedikit, Bunda.

Alergi susu sapi biasanya berkembang ketika susu sapi pertama kali dimasukkan dalam makanan bayi, baik dalam susu formula atau saat bayi mulai makan makanan padat pendamping (MPASI). Ini juga dapat memengaruhi bayi yang mendapat ASI eksklusif karena susu sapi yang dikonsumsi Bunda diteruskan ke bayi melalui ASI.


Ciri-ciri alergi susu sapi

Mengutip NHS, terdapat dua jenis alergi susu sapi anak yang perlu Bunda ketahui, di antaranya:

1. Alergi susu sapi langsung

Gejala biasanya dimulai dan timbul dalam beberapa menit setelah mengonsumsi susu sapi.

2. Alergi tertunda

Gejala biasanya dimulai dan timbul dalam beberapa jam, atau bahkan berhari-hari setelah minum susu sapi.

Nah, ciri-ciri bayi mengalami alergi susu sapi bisa dilihat dari kulit, pencernaan, hingga demam.

  • Reaksi kulit

Reaksi yang terlihat dari kulit jika bayi alergi susu sapi, seperti ruam merah yang gatal atau pembengkakan pada bibir, wajah, dan sekitar mata.

Selain itu, pada kulit juga akan terjadi eksim yang tidak bisa membaik meski telah melalui pengobatan.

  • Masalah pencernaan

Masalah yang dialami, seperti sakit perut, muntah, kolik, diare atau sembelit.

  • Hay fever

Peradangan yang terjadi pada rongga akibat reaksi alergi. Demam ini disertai dengan pilek atau hidung tersumbat.

Terkadang, alergi susu sapi juga bisa menyebabkan gejala parah yang datang tiba-tiba, Bunda. Seperti halnya pembengkakan di mulut atau tenggorokan, mengi, batuk, sesak napas, dan kesulitan bernapas.

Jika reaksi alergi yang terjadi semakin parah, maka Bunda perlu untuk segera membawa anak ke pelayanan medis atau rumah sakit untuk mendapat perawatan yang tepat.

Young mother holding her baby boy who is crying.Ilustrasi bayi rewel karena alergi / Foto: Getty Images/iStockphoto/skynesher

Perawatan untuk alergi susu sapi

Jika bayi didiagnosis menderita alergi susu sapi, maka Bunda akan mendapat beberapa saran hingga masukan dari dokter umum atau spesialis alergi tentang cara mengatasi alerginya. Tidak dapat dipungkiri, Bunda mungkin juga akan dirujuk ke ahli diet atau gizi agar bisa menentukan makanan apa saja yang perlu dihindari dan diberikan pada si kecil.

Jika si kecil diberi susu formula, biasanya dokter umum akan meresepkan susu formula khusus sebagai pengganti. Perlu untuk diingat, Bunda harus memberi tahu dokter saat akan memilih susu sebelum memberikannya pada anak, ya.

Namun bila si kecil masih mendapat ASI eksklusif, maka Bunda akan disarankan untuk membatasi, diet, atau bahkan menghindari makanan dengan semua yang diproduksi dari susu sapi.

Memang, kebanyakan ibu menyusui bisa makan apapun yang disukai selagi tak ada masalah yang terjadi. Namun ternyata pada beberapa hal, partikel makanan tersebut bisa 'bocor' ke ASI dan bereaksi pada bayi yang menyusu, Bunda. Meski begitu, hal ini jarang terjadi kok, sehingga Bunda tidak perlu begitu mengkhawatirkannya.

"Ada beberapa kondisi medis yang sangat langka yang dapat menyebabkan alergi ASI, tetapi ini jarang terjadi, sehingga hal ini tidak perlu dikhawatirkan oleh para ibu menyusui," kata Molly Petersen, Certified Lactation Counselor (CLC) di Lansinoh, dikutip dari Parents.

Selain itu, si kecil juga harus diperiksa setiap 6 - 12 bulan ya, Bunda. Hal ini bertujuan untuk melihat sejauh apa perkembangan alerginya, apakah sudah sembuh, atau justru kian memburuk.

Alergi susu sapi jarang terjadi

Dikutip dari laman Harvard Health, menurut jurnal khusus yang diterbitkan di JAMA Pediatrics, meskipun 14 persen bayi dilaporkan memiliki alergi susu sapi, namun hanya sekitar 1 persen saja yang benar-benar mengalaminya, Bunda.

Mengenai pembatasan serta diet yang perlu dilakukan untuk ibu menyusui, penulis melaporkan bahwa hal itu kemungkinan tidak diperlukan. Karena jika hal tersebut terjadi, tentu akan banyak nutrisi yang harus dipertaruhkan, seperti berhenti menyusui tanpa alasan yang jelas.

Jika Bunda menemukan si kecil menjadi rewel dan memiliki masalah dengan makan atau buang air besar, maka pastikan untuk mengajukan banyak pertanyaan terkait masalah tersebut pada dokter ya, Bunda.

"Pastikan juga hal tersebut menjadi diagnosis yang tepat untuk, terutama sebelum melakukan perubahan apapun. Ingat bahwa rewel dan gangguan makan atau buang air sangat umum terjadi pada bayi dan sebagian besar bisa sembuh seiring waktu," kata dokter anak di Rumah Sakit Anak Boston, Claire McCarthy, MD.

Jika bayi bisa alergi terhadap susu sapi, mungkin ada Bunda yang bertanya-tanya apakah buah hati juga bisa alergi terhadap ASI? Soal ini, Petersen menegaskan bahwa jawabannya secara umum adalah tidak.

"Ada beberapa kondisi medis yang sangat langka yang dapat menyebabkan alergi ASI, tetapi hal itu sangat jarang terjadi, sehingga ibu tidak perlu mengkhawatirkannya," ujar dia.

Petersen juga menegaskan bahwa alergi susu sapi berbeda dengan intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa adalah jenis reaksi lain terhadap susu, ketika tubuh tidak bisa mencerna laktosa dalam susu. Namun ini bukan alergi.

Intoleransi laktosa bersifat sementara. Misalnya, bisa muncul selama beberapa hari atau minggu setelah sakit perut. Adapun ciri-ciri atau gejala intoleransi laktosa, meliputi:

  • Diare
  • Muntah
  • Perut sakit dan nyeri
  • Perut kembung
  • Ruam kulit dan sering masuk angin.

Pengobatan intoleransi laktosa tergantung sejauh mana kondisi yang dialami si kecil. Beberapa anak mungkin masih dapat mengonsumsi produk olahan susu tanpa gejala, namun ada yang perlu dirujuk ke ahli diet untuk mendapat saran spesialis.

Bunda, simak juga cara Alyssa soebandono atasi anak alergi susu sapi dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi