Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Curhat Kartika Putri Alami Hiperlaktasi Menyusui Anak Ketiga hingga Kesulitan DBF

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Jumat, 09 Jan 2026 09:10 WIB

Kartika Putri Jago Bikin Jus Detoks hingga Makan di Resto Salt Bae
Curhat Kartika Putri Alami Hiperlaktasi Menyusui Anak Ketiga hingga Kesulitan DBF/Foto: Instagram @kartikaputriworld
Daftar Isi
Jakarta -

Artis Kartika Putri baru-baru ini membagikan pengalaman direct breastfeeding anak ketiganya di media sosial. Ia mengungkap bahwa dirinya mengalami hiperlaktaksi, suatu kondisi dengan produksi ASI sangat berlebih.

Direct breastfeeding atau DBF adalah metode menyusui bayi secara langsung dari payudara ibu tanpa menggunakan alat bantu seperti botol ataupun dot. Metode ini dipercaya membuat bayi akan mendapatkan nutrisi yang lebih optimal serta jalinan kasih antara ibu dan anak semakin kuat.

Ia mengaku bahwa menyusui sang anak secara langsung dengan kondisi hiperlaktasi tidaklah mudah. Terkadang ia merasakan payudaranya membengkak, nyeri, hingga membuatnya demam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri, ia pun sering kali harus melakukan pump secara bergantian hingga dirasa jauh lebih baik. Bahkan, saat demam pun ia harus tetap menyusui walaupun tubuhnya menggigil.

Meski begitu, kondisi hiperlaktasi ini juga menguntungkan baginya. Diketahui berat badan sang anak, Baby Ali, bisa meningkat hingga 2 kilogram dalam 1 bulan. Inilah yang membuat Kartika harus tetap menyusui bagaimanapun kondisinya.

Kartika pun tentu harus menjaga kesehatan dengan mengonsumsi vitamin hingga makan makanan sehat. Bila rasa nyeri dan demam kembali datang, maka satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah meminum paracetamol untuk meredakannya.

Ia pun berpesan kepada seluruh Bunda yang sedang menyusui agar tetap bersyukur, seberat apa pun kondisi yang dihadapinya.

Kartika pun menambahkan, bagi Bunda dengan produksi ASI yang terbatas, tak perlu berkecil hati, sebab kondisi tersebut umumnya membuat Bunda lebih jarang mengalami nyeri payudara maupun demam.

Mengenal hiperlaktasi

Saat awal menyusui, apakah Bunda merasa ASI yang diproduksi begitu berlebih? Nah, kondisi inilah yang dinamakan hiperlaktasi, Bunda. Terkadang, kondisi ini membuat Bunda tidak nyaman karena payudara terus penuh dengan ASI.

Dikutip dari Mayo Clinic, hiperlaktasi biasanya terjadi pada Bunda yang berada dalam masa-masa awal mengASIhi. Hiperlaktasi bisa menyebabkan Bunda merasa nyeri di payudara, pembengkakan parah, dan pengeluaran ASI yang menyakitkan.

Jumlah ASI yang berlebih ini terkadang membuat proses menyusui Si Kecil menjadi sulit, ya Bunda. Semburan ASI yang terlalu kuat saat menyusu kerap menyebabkan Si Kecil tersedak dan batuk.

Menilik dari UK Health Care, kelebihan pasokan ASI ini dapat membuat berat badan Si Kecil bertambah banyak. Hal ini dikarenakan Si Kecil terlalu banyak mengonsumsi foremilk yang kaya karbohidrat dan tidak mendapatkan cukup hindmilk yang kaya lemak.

Penyebab hiperlaktasi

Payudara secara alami memang membuat banyak susu menjelang akhir minggu pertama menyusui. Namun, ada beberapa penyebab lain yang bisa mempengaruhi kondisi hiperlaktasi. Berikut adalah beberapa penyebab hiperlaktasi yang bisa Bunda ketahui:

  • Terlalu banyak memompa ASI saat sebelum atau sesudah menyusui.
  • Beralih sisi (kiri dan kanan) terlalu sering.
  • Memiliki sejumlah besar alveoli (kantong susu). Hal ini dapat mempengaruhi seberapa cepat Bunda membuat susu.
  • Obat yang meningkatkan produksi ASI

Cara mengatasi hiperlaktasi

Jika Bunda merasa sedang mengalami hiperlaktasi, maka sebaiknya segera temui dokter untuk melakukan konsultasi agar mendapatkan penanganan yang tepat. Umumnya dokter akan merekomendasikan Bunda untuk mengatur sesi dan jadwal menyusui.

Jadwal menyusui yang direkomendasikan adalah menyusui satu sisi per-sesi menyusui dan menawarkan payudara yang sama setidaknya selama dua jam. Jika payudara Bunda yang lain terasa penuh dan tidak nyaman, pompalah ASI selama beberapa saat.

Meskipun hiperlaktasi umumnya akan berhenti dalam beberapa minggu, tetapi gejala-gejala seperti nyeri dan demam tidak boleh disepelekan, Bunda. Tetap waspada dan segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan bila keluhan semakin memburuk.

Demikian informasi yang bisa disampaikan. Semoga dapat menambah wawasan para Bunda tentang pengalaman menyusui dengan kondisi hiperlaktasi, sehingga Bunda dapat lebih memahami dan menghadapinya dengan tenang.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda