Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Kenapa Semakin Banyak Ibu Hamil dan Menyusui yang Alami Kanker Payudara?

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 12 Mar 2026 07:30 WIB

Ibu dan bayi
Kenapa Semakin Banyak Ibu Hamil dan Menyusui yang Alami Kanker Payudara?/Foto: Getty Images/Edwin Tan
Jakarta -

Tantangan kehamilan dan menyusui semakin kompleks dengan risiko benjolan di payudara yang berujung risiko kanker payudara. Kenapa semakin banyak ibu hamil dan menyusui yang alami kanker payudara?

Menjadi ibu seharusnya menjadi hal yang membahagiakan terutama ketika menunggu kehadiran anak. Tetapi, hal itu berubah menjadi horor ketika tantangan menjelang persalinan justru harus berhadapan dengan penyakit serius.

Seperti yang dialami Laura Reitsma, yang saat itu berusia 36 tahun dan pertama kali merasakan benjolan di payudara kanannya. Bersamaan dengan hal itu, Reitsma juga berhadapan dengan depresi pasca persalinan, dan kesulitan bayinya dalam menyusui.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ketika Reitsma menyampaikan hal itu kepada bidannya beberapa minggu kemudian, ia diabaikan. Sehingga, ia memutuskan mendiskusikannya pada dokter yang mengatakan bahwa kemungkinannya itu hanya saluran susu yang tersumbat. Ia pun disarankan untuk melakukan senam payudara atau pemijatan payudara secara lembut, seperti dikutip dari laman Self.

Namun, kondisi itu tak berubah hingga tiga bulan pasca melahirkan. Baru setelah Reitsma mendesak dokternya untuk menyelidiki lebih lanjut, ia mendapatkan resep untuk mammogram. Tindakan perdana itu dijalaninya dan ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Teknisi mengatakan bahwa mereka membutuhkan lebih banyak gambar, kemudian dilakukan juga tindakan USG oleh ahli radiologi tersebut. Ia langsung menyatakan benjolan itu 100 persen kanker.

Diagnosis tersebut tampaknya bertentangan dengan pemikiran konvensional. Sebab, para ahli pernah berpikir bahwa kehamilan sepenuhnya melindungi dari kanker payudara, dan semakin banyak anak dan semakin lama menyusui justru semakin baik, kata Carmen Calfa, MD, seorang ahli onkologi medis payudara di Sylvester Comprehensive Cancer Center di University of Miami Health System.

Alasannya, kehamilan dapat membuat sel-sel payudara lebih matang dan tangguh, dan menghentikan siklus menstruasi, dan mengurangi paparan seumur hidup seseorang terhadap hormon seks yang dapat memicu kanker. 

Tetapi, ternyata yang perlu diperhatikan yakni manfaat ini tidak diterjemahkan ke dalam penurunan risiko kanker payudara hingga 10 tahun atau lebih setelah kehamilan, kata Dr. Calfa. Sebaliknya, dalam jangka pendek, serangkaian perubahan biologis yang menyertai proses melahirkan dapat meningkatkan kerentanan pada seseorang.

Kasus yang muncul dalam kondisi ini biasanya disebut kanker payudara terkait kehamilan atau pregnancy-associated breast cancer (PABC) jika terjadi selama atau dalam satu tahun setelah kehamilan, atau postpartum breast cancer (PPBC) jika terjadi antara 5 hingga 10 tahun setelah melahirkan.

Definisi ini dapat bervariasi tetapi yang jelas ialah tren peningkatan di seluruh spektrum. Satu analisis menunjukkan angka kejadian telah meningkat 44 persen sejak tahun 1969 dengan para ahli memperkirakan peningkatan yang berkelanjutan.

Meskipun sebagian besar kanker payudara masih terjadi di luar kehamilan atau pasca persalinan, penelitian menunjukkan bahwa pada perempuan di bawah usia 45 tahun (bagi mereka kanker payudara merupakan ancaman yang meningkat), setidaknya 7 persen kasus terkait kehamilan dan sebanyak 35 persen hingga 55 persen terjadi pasca persalinan.

Penyebab semakin banyak ibu hamil dan menyusui yang alami kanker payudara

Para peneliti menduga adanya peningkatan ini terkait dengan peningkatan usia rata-rata memiliki anak pertama bagi perempuan di US, di mana usia tersebut telah meningkat dari sekitar 21 tahun pada 1970 menjadi 27.5 tahun pada 2023, menurut data CDC.

Dan, hal itu didorong dengan meningkatnya angka kelahiran di kalangan perempuan berusia 30-an dan 40-an yang terus meningkat sejak 1990. Ketika semakin tua usia perempuan, maka semakin tinggi risiko terhadap kanker payudara hanya karena kerusakan sel yang terjadi seiring bertambahnya usia.

Selain itu, sejumlah fluktuasi selama dan setelah kehamilan dapat mempermudah munculnya dan berkembangnya kanker payudara, kata Eleonora Teplinsky, MD, kepala onkologi medis payudara dan ginekologi di Valley-Mount Sinai Comprehensive Cancer Care, di New Jersey.

Alasan pertama, ada lonjakan hormon seperti estrogen dan progesteron, yang dapat meningkatkan pertumbuhan tumor. Ada juga perubahan pada sistem kekebalan tubuh yang membantu tubuh mentolerir janin yang sedang tumbuh tetapi juga dapat menurunkan kemampuan untuk melawan sel kanker," jelas Dr. Teplinsky.

Pada saat yang sama, sel-sel payudara berkembang biak dengan cepat selama kehamilan, kata Dr. Calfa, untuk mempersiapkan diri menyusui; dan setelah itu, sel-sel penghasil ASI mati. 

"Fase pertumbuhan dan penurunan ini kemudian menciptakan peluang bagi sel-sel payudara untuk keluar dari jalur normalnya dan memiliki kehidupan sendiri,” papar Dr. Calfa. 

Alasan berikutnya, penelitian juga menunjukkan bahwa usia yang lebih tua saat melahirkan membuat menghadapi perubahan kehamilan yang umum ini menjadi lebih berisiko.

Secara terpisah, para ahli menduga paparan lingkungan dan tren gaya hidup (seperti lebih banyak duduk) mendorong peningkatan kasus kanker payudara pada perempuan muda secara lebih luas, kata Dr. Teplinsky. Karena diagnosis semakin mencakup demografi yang lebih muda dan usia melahirkan bergeser ke usia yang lebih tua, masuk akal jika ada lebih banyak tumpang tindih antara keduanya.

Pengobatan kanker payudara selama kehamilan

Diagnosis kanker payudara saat kehamilan menambah masalah semakin kompleks terutama ketika harus menentukan pengobatan yang tepat dengan tetap mempertimbangkan kesehatan janin.

Meskipun dulunya seseorang dianggap tidak dapat menjalani pengobatan dan membawa kehamilan hingga cukup bulan, sesungguhnya ada kemoterapi spesifik yang diketahui aman selama trimester kedua dan ketiga kehamilan, dan menghasilkan bayi yang sehat dan hasil yang baik, kata Elizabeth Comen, MD, seorang ahli onkologi medis yang mengkhususkan diri dalam kanker payudara dan profesor kedokteran di NYU Langone.

Dr Comen menambahkan bahwa mengelola pengobatan selama kehamilan masih merupakan “kejadian yang unik dan luar biasa. Memang, berbagai faktor dapat membuatnya rumit jika tidak memungkinkan, termasuk kapan kanker ditemukan dan stadium, tingkat, dan agresivitasnya. 

Pada trimester pertama, misalnya, satu-satunya pilihan yang layak adalah operasi. Selain berpotensi menjadi solusi yang tidak memadai, operasi menimbulkan beberapa risiko bagi janin dan dapat berarti kehilangan payudara dan kesempatan untuk menyusui.

Meskipun kemoterapi tradisional dimungkinkan di akhir kehamilan, perawatan paling efektif untuk jenis kanker payudara yang umum dan agresif seperti terapi hormon dan obat-obatan yang ditargetkan baik dapat mengancam keselamatan janin secara serius atau membawa risiko yang tidak diketahui.

Lebih buruk lagi, kanker payudara yang terkait dengan kehamilan secara tidak proporsional termasuk dalam kategori agresif ini dan lebih sering ditemukan pada stadium dan tingkat lanjut, kata Dr. Teplinsky, sehingga menunda perawatan dapat memiliki dampak besar.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda