HaiBunda

MENYUSUI

Puasa saat Menyusui Bayi di Bawah 6 Bulan, Amankah?

Melly Febrida   |   HaiBunda

Kamis, 26 Feb 2026 07:30 WIB
Puasa saat Menyusui Bayi di Bawah 6 Bulan, Amankah?/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Pornpimon Rodchua
Jakarta -

Puasa saat menyusui bayi di bawah 6 bulan itu bikin sejumlah ibu dilema. Satu sisi tetap ingin menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan. Di sisi lain, muncul kekhawatiran produksi Air Susu Ibu (ASI) terpengaruh dengan berpuasa. Amankah puasa saat menyusui bayi di bawah 6 bulan?

Sebenarnya, ibu menyusui diperbolehkan untuk tidak berpuasa karena alasan kesehatan. Tetapi, Bunda wajib membayar fidyah dan/atau melaksanakan puasa qadha sebagai ganti puasa.

"Ibu hamil atau menyusui haram berpuasa jika terbukti bahwa puasanya dapat menyebabkan gangguan/bahaya terhadap dirinya atau janin/bayi yang dikandungnya. Jika menyayangi janin dan anak yang sedang menyusu merupakan sesuatu yang wajib, sementara tak ada jalan lain untuk hal tersebut kecuali dengan cara tidak berpuas, tidak berpuasa dalam kasus seperti itu juga merupakan sesuatu kewajiban," tulis Abu Firly Bassam Taqiy dikutip dari buku 500 Tanya Jawab Fikih Wanita Kekinian.


Apakah puasa saat menyusui bayi di bawah 6 bulan aman?

Bayi di bawah 6 bulan idealnya mendapat ASI eksklusif. Ini artinya semua kebutuhan cairan dan nutrisi bayi masih bergantung pada ASI. Karena itu, kondisi ibu sangat berpengaruh pada kualitas dan kuantitas ASI.

International Baby Foods Action Network (IBFAN) sebenarnya tidak menganjurkan ibu menyusui berpuasa jika sedang menyusui eksklusif bayinya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tetap berpuasa meski masih menyusui bayi di bawah 6 bulan tidak secara signifikan mengubah komposisi makronutrien ASI. Termasuk protein, lemak, dan karbohidrat, tetap sangat stabil selama puasa Ramadan. Tubuh memprioritaskan produksi ASI dan menggunakan cadangannya sendiri untuk mempertahankan nutrisi penting ini untuk bayi.

Namun, berdasarkan laman Jhah.com, puasa dapat mempengaruhi kandungan mikronutrien ASI. Penelitian menunjukkan bahwa kadar seng, kalium, dan magnesium dapat menurun dalam ASI ketika asupan nutrisi pada ibu berkurang selama jam puasa. Hubungan ini menyoroti pentingnya makanan kaya nutrisi selama sahur dan buka puasa untuk mengisi kembali mineral-mineral penting ini.

Volume produksi ASI juga dapat dipengaruhi oleh dehidrasi dan pengurangan asupan kalori. Meskipun ASI tetap sekitar 87% air, dehidrasi parah tetap dapat mengurangi produksi ASI secara keseluruhan.

Asupan cairan yang cukup antara buka puasa dan sahur menjadi sangat penting untuk menjaga produksi ASI sepanjang hari.

Sementara itu, American Academy of Pediatrics menegaskan bahwa kebutuhan cairan ibu menyusui meningkat dibandingkan perempuan biasa.

Ini artinya, puasa saat menyusui bayi di bawah 6 bulan bisa saja aman pada ibu yang sehat, tetapi ibu menyusui tidak boleh memaksakan diri jika muncul tanda-tanda kekurangan cairan atau produksi ASI menurun drastis.

Ibu menyusui muslim/ Foto: Getty Images/FatCamera

Kapan ibu menyusui tidak boleh berpuasa

Pada situasi tertentu, ibu menyusui tidak dianjurkan berpuasa. Ibu menyusui sebaiknya menghindari puasa jika:

Berdasarkan usia bayi 

  • Bayi berusia di bawah 6 bulan dan hanya menyusu ASI eksklusif dengan ketergantungan penuh pada ASI.
  • Bayi lahir prematur atau memiliki kebutuhan medis khusus yang membutuhkan nutrisi yang konsisten.
  • Bayi menunjukkan tanda-tanda kekurangan makan (penambahan berat badan yang buruk, popok basah lebih sedikit, rewel berlebihan)

Berdasarkan kesehatan ibu

  • Ibu dengan diabetes atau kondisi kronis lainnya yang membutuhkan makanan dan obat-obatan secara teratur.
  • Mengalami komplikasi pasca persalinan atau sedang dalam masa pemulihan dari operasi caesar.
  • Memiliki riwayat produksi ASI yang rendah atau kesulitan dalam menyusui
    Kekurangan berat badan atau kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri.
  • Ibu merasa terus-menerus lemah, pusing, atau tidak enak badan.

Jika bayi berusia lebih dari satu tahun, makan makanan padat secara teratur, dan menyusui terutama untuk kenyamanan atau sebelum tidur, puasa mungkin lebih mudah dilakukan. Namun, bahkan dalam kasus ini, pemantauan ketat terhadap kesehatan ibu dan kesejahteraan bayi tetap penting.

Strategi untuk aman berpuasa saat menyusui

Jika Anda telah berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan Anda dan memutuskan untuk berpuasa saat menyusui, strategi berbasis bukti ini dapat membantu melindungi pasokan ASI dan menjaga kesehatan:

  • Optimalkan sahur (makan sebelum subuh).
  • Prioritaskan karbohidrat kompleks seperti oatmeal, roti gandum utuh, dan beras merah untuk energi yang berkelanjutan.
  • Sertakan protein berkualitas tinggi seperti telur, yogurt Yunani, daging tanpa lemak, atau kacang-kacangan.
  • Makan buah dan sayuran yang kaya air (mentimun, semangka, jeruk, beri).
  • Minum vitamin prenatal untuk memastikan asupan mikronutrien yang cukup.
  • Minum setidaknya 3 gelas air, dengan jeda waktu sebelum subuh.
  • Manfaatkan Iftar sebaik-baiknya.
  • Berbuka puasa dengan kurma dan air untuk energi dan hidrasi cepat.
  • Makan makanan seimbang dengan protein tanpa lemak, lemak sehat, dan karbohidrat kaya serat.
  • Sertakan makanan yang mendukung laktasi, seperti oat, fenugreek, sayuran hijau, dan kacang-kacangan.
  • Teruslah minum air sepanjang malam, usahakan setidaknya 2-3 liter Jumlah total antara iftar dan sahur.
  • Hindari kafein berlebihan, yang dapat menyebabkan dehidrasi.
  • Pertahankan jadwal menyusui.
  • Jangan melewatkan atau menunda sesi menyusui, ini sangat penting untuk menjaga pasokan ASI.
  • Menyusui lebih sering selama jam-jam di luar puasa untuk mengimbangi.
  • Jika Bunda memompa ASI, pertahankan jadwal memompa ASI secara teratur di siang hari.
  • Pertimbangkan untuk menyusui bayi segera sebelum memulai puasa dan segera setelah berbuka puasa.
  • Pantau dan sesuaikan.
  • Perhatikan isyarat menyusui bayi dan jumlah popok yang dikeluarkan.
  • Pantau berat badan bayi setiap minggu untuk memastikan pertumbuhan yang memadai
    Perhatikan tanda-tanda dehidrasi pada diri Bunda (urine gelap, pusing, sakit kepala parah).
  • Pertimbangkan untuk berpuasa selang sehari jika puasa penuh terbukti terlalu sulit.

Demikian penjelasan mengenai puasa saat menyusui bayi di bawah 6 bulan. Tetap semangat mengASIhi ya Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Puasa Anak SD, Ini 7 Hal yang Wajib Diketahui agar Tidak Batal

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Kehidupan Rini Yulianti Kini Tinggal di Australia, Urus Rumah & Temani Mertua Korea

Mom's Life Amira Salsabila

Kenali Perbedaan Otak Janin Perempuan dan Laki-laki dalam Kandungan

Kehamilan Annisa Karnesyia

7 Inspirasi Nama Anak di Bulan Puasa Selain Ramadhan dan Fitri

Nama Bayi Angella Delvie Mayninentha & Muhammad Prima Fadhilah

Doa Memakai dan Melepaskan Pakaian Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Parenting Kinan

Diet 30-30-30, Disebut Ampuh Menurunkan Berat Badan

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dekorasi Ramadhan Rumah Tasyi Athasyia Curi Perhatian Netizen, Intip 5 Potretnya

Kenali Perbedaan Otak Janin Perempuan dan Laki-laki dalam Kandungan

5 Rekomendasi Alat Pel Persiapan Ditinggal ART, Harga Terjangkau

7 Inspirasi Nama Anak di Bulan Puasa Selain Ramadhan dan Fitri

Potret Kehidupan Rini Yulianti Kini Tinggal di Australia, Urus Rumah & Temani Mertua Korea

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK