MENYUSUI
Benarkah Menyusui Eksklusif Bantu Cegah Autisme pada Bayi? Simak Penjelasannya
Dwi Indah Nurcahyani | HaiBunda
Kamis, 02 Apr 2026 09:10 WIBBerbagai manfaat baik ditawarkan dari ASI untuk Si Kecil. Lantas, benarkah menyusui eksklusif bantu cegah autisme pada bayi? Simak penjelasannya! Risiko autisme bisa terjadi pada bayi mana pun ya, Bunda. Dan, menyusui dikabarkan bisa membantu mencegah risiko tersebut pada anak.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menyusui mungkin memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan gangguan spektrum autisme serta memberikan manfaat perlindungan secara potensial.
Mengutip dari laman Science Direct bahwa bukti saat ini menunjukkan jika status gizi pada bayi baru lahir terutama durasi menyusui memainkan peran kunci dalam patogenesis gangguan spektrum autisme.
Penelitian kaitan autisme dan menyusui
Penelitian secara sistematis meninjau dan menganalisis meta-analisis studi yang relevan dengan temuan hubungan antara gangguan spektrum autisme dan pola menyusui. Kemudian, diperlukan adanya analisis dosis-respons yang ekstensif untuk menafsirkan hasilnya dengan lebih akurat.
Sepuluh database elektronik dan pencarian manual daftar referensi digunakan untuk mengidentifikasi studi yang relevan pada September 2018. Dosis-respons dan meta-analisis konvensional pun dilakukan oleh model efek acak.
Dalam studi tersebut, tujuh studi kasus-kontrol ditemukan di mana hubungan antara menyusui dan risiko gangguan spektrum autisme diselidiki. Para peneliti menemukan penurunan 58 persen dalam risiko gangguan spektrum autisme dengan menyusui dan penurunan risiko 76 persen dengan menyusui eksklusif.
Menurut meta-analisis dosis-respons, menyusui selama 6 bulan dikaitkan dengan pengurangan risiko sebesar 54 persen. Dalam meta-analisis konvensional, menyusui selama 12-24 bulan dikaitkan dengan pengurangan risiko gangguan spektrum autisme yang paling signifikan. Hasil yang didapatkan menyoroti pentingnya menyusui guna mengurangi risiko gangguan spektrum autisme.
Autisme dan menyusui
Gangguan spektrum autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan defisit dalam komunikasi dan interaksi sosial, dan pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang.
Hal ini kemudian memengaruhi kompetensi dan fungsi psikososial pada bayi dan anak-anak. Beberapa tanda bahaya dalam tonggak perkembangan anak dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai keberadaan gangguan perkembangan saraf mulai sejak 2-6 bulan, ketika bayi mungkin menunjukkan kontak mata yang tidak normal.
Pada usia 10 bulan, perubahan perhatian bersama, perilaku makan, vokalisasi timbal balik, dan saling menatap dapat diamati, Banyak anak dengan interaksi sosial yang tertunda atau tidak normal selama tahun pertama kehidupan kemudian didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme. Pada prevalensi global menyoroti kesenjangan dalam penelitian autisme. Misalnya, di AS satu dari 68 anak telah didiagnosis dengan autism spectrum disorder (ASD).
Meskipun menjadi perhatian global untuk perawatan anak, etiologi dan faktor risikonya tetap sulit dipahami. Dalam beberapa penelitian, korelasi telah dilaporkan antara ASD dan faktor risiko utama. Namun, mekanisme yang mendasarinya masih belum jelas.
Dalam konteks ini ada bukti dari penelitian sebelumnya tentang konkordansi yang tinggi meskipun tidak lengkap antara kembar monozigot dibandingkan dengan kembar fraternal, yang menunjukkan etiologi poligenetik dan estatik, dan juga mencontohkan pentingnya faktor lingkungan yang dapat berinteraksi dengan mutasi genetik.
Di satu sisi, menyusui sendiri sangatlah penting dalam gangguan perkembangan saraf di antara bayi baru lahir. Menyusui menjadi sarana alami untuk menyediakan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan sistem kekebalan tubuh yang sehat bagi bayi baru lahir.
Menurut WHO, kolostrum atau cairan kuning yang diproduksi pada akhir kehamilan, sangat direkomendasikan diberikan dalam satu jam pertama setelah anak lahir. Kemudian, pemberian ASI dilanjutkan dengan menyusui eksklusif yakni pemberian makanan hanya ASI saja tanpa cairan atau makanan lainnya bahkan air putih sekalipun. Masa menyusui eksklusif ini dianjurkan selama enam bulan pertama setelah kelahiran, menurut rekomendasi WHO.
Menurut satu uji coba terkontrol secara acak dan beberapa studi observasional, menyusui terutama selama enam bulan pertama kehidupan, secara signifikan menyusui dapat mendukung perkembangan neurokognitif.
Efek ini mungkin merupakan hasil dari kandungan nutrisi atau hormonal ASI, atau kontak kulit ke kulit serta bonding antara ibu dan anak selama menyusu. Pengaruh positif menyusui pada perkembangan neurokognitif telah dikuatkan dalam penelitian terbaru, di mana bukti dilaporkan mendukung hubungan antara durasi menyusui dan fungsi kognitif anak-anak secara independen dari faktor orang tua dan sosial lingkungan.
Dampak faktor yang membingungkan seperti kecerdasan ibu (IQ), pendidikan orang tua, dan faktor sosial ekonomi pada hubungan antara menyusui dan ASD juga telah dinilai dalam penelitian yang berbeda, dengan bukti yang bertentangan.
Beberapa studi observasional melaporkan bahwa keuntungan kognitif menyusui tetap ada bahkan setelah penyesuaian untuk kovariat yang disebutkan di atas. Namun, hubungan antara menyusui dan perkembangan saraf pada anak dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang membingungkan, termasuk pendidikan orang tua dan faktor sosial ekonomi.
Perbedaan antara bukti yang dilaporkan hingga saat ini dapat dikaitkan dengan perbedaan metode yang digunakan untuk menilai kecerdasan anak-anak, serta dalam durasi dan intensitas menyusui.
Di luar apapun itu, menyusui menjadi aktivitas baik yang direkomendasikan untuk diberikan sejak bayi lahir ya, Bunda. Dengan segala nutrisi terbaik yang ada di dalamnya, harapannya tumbuh kembang Si Kecil dapat tumbuh optimal dan terhindar dari berbagai risiko penyakit.
Tetap semangat mengASIhi, Bun.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
Simak video di bawah ini, Bun:
Hari Peduli Autisme Sedunia 2 April: Sejarah, Tema, dan Cara Merayakannya
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Gangguan Autisme pada Anak Bisa Dideteksi saat Menyusui? Kenali Ciri-Cirinya Bun
Benarkah Menyusui Mampu Kurangi Risiko ASD pada Bayi? Ini Penjelasannya
4 Hal Sepele yang Sering Dilewatkan Ibu Saat Menyusui si Kecil
Yoga Sambil Menyusui Anak, Yes or No?
TERPOPULER
Anggun Pulang Kampung, Ajak Suami Bule Kumpul Lebaran Bareng Keluarga Besar
7 Nama Anak Perempuan Cantik dengan Filosofi Mendalam
Cerita Lucu AHY Antar Annisa Pohan Konsul Kandungan, Datang Agak Nunduk karena Merasa Pasangan 'Senior'
ART Tidak Kembali Bekerja Setelah Libur Lebaran? Ini yang Bisa Bunda Lakukan
Imbauan Terbaru Menaker: Karyawan Swasta hingga BUMN WFH 1 Kali Seminggu
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kompor Listrik yang Awet dan Cocok untuk Dapur Modern
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Berminyak, Sudah Coba Bunda?
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Obat Lambung untuk Ibu Hamil yang Aman Tersedia di Apotek
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
26 Rekomendasi Merek Sepatu Terkenal Branded Asal Indonesia & Luar Negeri, Bagus & Awet
Natasha ArdiahREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sikat Gigi Anak 1 Tahun ke Atas, Bisa Jadi Pilihan Bunda
Nadhifa FitrinaTERBARU DARI HAIBUNDA
Cerita Lucu AHY Antar Annisa Pohan Konsul Kandungan, Datang Agak Nunduk karena Merasa Pasangan 'Senior'
5 Rekomendasi Kompor Listrik yang Awet dan Cocok untuk Dapur Modern
ART Tidak Kembali Bekerja Setelah Libur Lebaran? Ini yang Bisa Bunda Lakukan
7 Nama Anak Perempuan Cantik dengan Filosofi Mendalam
Anggun Pulang Kampung, Ajak Suami Bule Kumpul Lebaran Bareng Keluarga Besar
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Isu Nikah Diam-Diam Makin Kencang, Zendaya Akhirnya Blak-blakan soal Tom Holland
-
Beautynesia
4 Rekomendasi Tempat Wisata di Bogor untuk Libur Long Weekend bareng Keluarga
-
Female Daily
Tren Scarf 2026: Cara Simpel untuk Elevate Gaya Sehari-hari!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Tren Suplemen Patch, Vitamin & Mineral Tak Lagi Ditelan Tapi Ditempel di Kulit
-
Mommies Daily
6 Tempat Makan Enak dan Murah di Jabodetabek, Ada yang Viral & Selalu Antre!