MENYUSUI
Ternyata Menyusui Bisa Turunkan Risiko Hipertensi pada Bunda, Simak Studinya
Indah Ramadhani | HaiBunda
Senin, 04 May 2026 08:30 WIBHipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami oleh perempuan. Bahkan, kondisi tersebut dapat menyerang ibu hamil dalam bentuk gangguan hipertensi pada kehamilan atau HDP.
HDP atau hipertensi saat kehamilan umumnya meliputi hipertensi kronis, hipertensi gestasional, preeklampsia, dan eklampsia. Di Amerika Serikat, hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi.
Namun, hipertensi ini tidak hanya berdampak dalam jangka pendek, Bunda. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko jangka panjang terhadap penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke.
Tak hanya saat hamil, risiko hipertensi juga dapat berlanjut hingga beberapa waktu setelah melahirkan. Menurut sejumlah penelitian, risiko ini cenderung lebih tinggi pada ibu dengan fase menyusui yang sebentar atau bahkan tidak menyusui sama sekali.
Sejalan dengan temuan tersebut, para ahli percaya bahwa menyusui menjadi salah satu cara untuk menurunkan risiko hipertensi. Yuk, simak penjelasan menurut ahlinya berikut ini.
Temuan kaitan hipertensi dengan pemberian ASI
Salah satu penelitian datang dari Universitas Yale. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open ini, mengungkap bagaimana gangguan hipertensi berkaitan dengan rendahnya kegiatan menyusui ibu.
“Kami meneliti inisiasi menyusui, atau apakah ibu pernah memulai menyusui. Kami juga melihat durasi menyusui. Jika ibu memulai, berapa lama ia bertahan?” kata penulis utama studi sekaligus instruktur pediatri di Yale School of Medicine, Deanna Nardella.
“Hasilnya menunjukkan bahwa gangguan hipertensi selama kehamilan berkaitan dengan hasil yang lebih buruk pada kedua aspek tersebut,” tambahnya.
Jadi, dapat kita pahami bahwa ibu yang memiliki riwayat hipertensi kemungkinan besar memiliki pengalaman menyusui yang sebentar dan tidak optimal, Bunda. Meski begitu, terdapat beberapa alasan mengapa sebagian ibu mengalami situasi tersebut.
“Sebagian besar ibu sebenarnya ingin menyusui. Namun, kendala seperti nyeri, kesulitan pelekatan, masalah produksi ASI, kebijakan cuti melahirkan yang kurang memadai, hingga minimnya dukungan dari keluarga membuat sebagian ibu kehilangan motivasi menyusui,” jelas Nardella.
Dampak menyusui terhadap hipertensi dan jangka panjang
Pada tahun 2017 hingga 2019, terdapat 16 persen kehamilan di Amerika mengalami komplikasi berupa hipertensi, dengan angka yang lebih tinggi pada perempuan etnis tertentu. Sementara itu di AS sendiri, ada 83 persen perempuan yang memulai menyusui, tetapi hanya 25 persen yang bertahan.
Berdasarkan data tersebut, menyusui sangat berpengaruh pada kesehatan ibu. Meski tidak secara langsung mencegah hipertensi, menyusui dapat membantu mengurangi risiko kesehatan jangka panjang yang berkaitan dengan kondisi tersebut, Bunda.
Jika Bunda mulai mengerti bagaimana hipertensi memengaruhi kesehatan setiap perempuan di masa mendatang, maka kita dapat menyusun strategi yang lebih tepat agar Bunda dapat memulai dan mempertahankan pemberian ASI secara optimal. Para ahli menyarankan agar pemberian ASI eksklusif dilakukan minimal 6 bulan.
Agar memaksimalkan temuan tersebut, para ahli tetap membutuhkan studi lanjutan untuk memahami mekanisme yang mendasari hubungan antara hipertensi dan pemberian ASI. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan menyusui pada ibu dengan hipertensi.
“Strategi tersebut dapat mencakup adanya konsultasi laktasi prenatal standar dan khusus bagi individu yang ingin mencoba menyusui dan memiliki faktor risiko mengalami hasil menyusui yang lebih buruk, seperti hipertensi,” imbuh Nardella.
Demikian bagaimana menyusui memiliki kaitan dengan hipertensi. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Bawang Putih Bikin ASI Makin Enak?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
3 Cara agar Si Kakak Tetap Anteng saat Bunda Menyusui Si Kecil
Menyusui Lebih dari 12 Bulan Kurangi Risiko Hipertensi dan Diabetes
Menyusui Bisa Menghemat Rp 37 Juta dalam 6 Bulan Lho
Ibu Menyusui Makan Pedas Bisa Picu Bayi Diare?
TERPOPULER
Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi
7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja
5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama
Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat
200 Pertanyaan Lomba Cerdas Cermat seputar Kemerdekaan 17 Agustus 2026, Soal Tingkat SD-SMP
REKOMENDASI PRODUK
5 Wajan & Panci untuk Kompor Listrik Induksi, Awet & Anti Lengket
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Susu UHT untuk Ibu Hamil
Amrikh PalupiREKOMENDASI PRODUK
7 Aksesori Anak untuk Karnaval Kemerdekaan 17 Agustus, Bikin Makin Gemas
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci MPASI yang Bagus & Aman untuk Bayi
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Antena TV Digital Terbaik untuk Daerah Susah Sinyal, Mulai dari Rp80 Ribuan!
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi
Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat
5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama
7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja
5 Kebiasaan Ini Bisa Melatih Kecerdasan EQ di Tempat Kerja
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Cabin Hotel di Pulau Payung Kepulauan Seribu, Tawarkan Aktrasi Wisata Seru
-
Beautynesia
4 Tanda Kalau Otak Butuh Istirahat
-
Female Daily
Boleh Nggak Pakai Retinol Saat Sedang Jerawatan? Ini Jawabannya!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Meghan Markle Pakai Anting Putri Diana Saat Momen Langka dengan Pangeran Harry
-
Mommies Daily
10 Kreasi dari Sedotan untuk Anak SD, Murah, Seru, dan Edukatif