MENYUSUI
Nyeri saat Menyusui Dikira Keluhan Biasa, Ternyata Bunda Ini Idap Kanker Stadium 4
Dwi Indah Nurcahyani | HaiBunda
Minggu, 07 Jun 2026 10:30 WIBNyeri menyusui merupakan gangguan umum pada busui terutama di awal-awal masa menyusui. Namun, hal berbeda dialami pada seorang ibu satu ini. Ia merasakan nyeri saat menyusui dikira keluhan biasa, ternyata Bunda ini idap kanker stadium 4.
Adalah perempuan bernama Gini Harrison yang mengidap diagnosis tersebut. Seperti halnya para perempuan pada umumnya usai melahirkan yang merasakan sakit, ia pun mengalami hal yang sama. Namun, rasa sakit itu terbatas pada bahunya sehingga ia mengira hanya mengalami cedera otot karena menggendong bayinya dan menyusui.
Kenyataannya, ibu dua anak ini justru harus menelan pil pahit karena diagnosis kanker paru-paru yang harus diterimanya. Dokter umum awalnya meresepkan obat penghilang rasa sakit dan mengatakan bahwa ketidaknyamanannya akan hilang dalam beberapa minggu.
Berselang 10 bulan kemudian, penderitaan Gini justru malah bertambah buruk. Ia didiagnosis menderita kanker baru-baru. Mendengar hal tersebut, ia kemudian terdiam. Ia merasa kaget karena ia merupakan perempuan sehat yang tidak merokok dan tidak memiliki gejala khas, seperti sesak napas dan batuk.
“Satu-satunya gejala yang saya alami adalah nyeri bahu yang semakin parah dan tidak kunjung hilang,” kata ibu dua anak ini kepada The Sun.
Diagnosis awal hanya kesalahan posisi menyusui
Dipaparkannya mengenai diagnosis tersebut yakni berawal ketika dokter mengira gangguan itu adalah masalah muskuloskeletal karena posisi menyusui yang buruk atau posisi ibu baru mengingat saya baru saja melahirkan putra pada akhir Februari 2021.
"Ketika tidak kunjung membaik, mereka mengatakan mungkin karena saya tidak bisa mengistirahatkan tubuh saya sebagai seorang ibu dengan bayi yang selalu saya gendong," ungkapnya.
Saat itu, kondisinya sedang pandemi COVID-19 dan semua janji temu medis dilakukan melalui telepon. Sehingga, tidak ada yang benar-benar bisa melihat seberapa parah kondisi sebenarnya.
Gini tidak bertemu langsung dengan siapa pun selama sembilan bulan, dan saat itu ia sudah 'sangat frustrasi'. Akhirnya ia menemui dokter spesialis di Klinik Saxon pada Oktober 2021 yang langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres padanya.
“Mereka menyuruh saya untuk melakukan MRI, yang hasilnya menunjukkan tumor di paru-paru kanan atas dan satu lagi di tulang belikat saya. Itu adalah hal terakhir yang saya duga akan terjadi pada saya saat cuti melahirkan,” kata Gini, ibu dari Emily dan Michael.
Tak lama sebelum Natal tahun itu, ia mengetahui kanker yang dideritanya sudah stadium 4, artinya telah menyebar dari paru-paru.
Dalam kondisi yang dialami seperti Gini, hanya lima persen penderita kanker paru-paru yang bertahan hidup selama lima tahun atau lebih setelah didiagnosis. Studi menunjukkan bahwa waktu bertahan hidup rata-rata adalah 17 bulan.
Gini, seorang profesor psikologi di Open University, mengatakan, “Saya adalah seseorang yang tidak pernah merokok, dan secara umum relatif sehat. Saya tidak memiliki gejala yang biasanya dikaitkan dengan kanker paru-paru. Saya tidak mengalami sesak napas, batuk, atau gejala paru-paru lainnya. Saya benar-benar tidak percaya. Saya sangat terkejut. Rasanya seperti seluruh dunia saya tiba-tiba runtuh dan tidak ada yang masuk akal," katanya.
Terkait kondisi yang dialami Gini, dokter kemudian mengungkapkan bahwa Gini mengidap penyakit yang dipicu oleh mutasi genetik langka, yang disebut kanker paru-paru non-sel kecil EGFR Exon 20 (NCSLC).
EGFR, atau reseptor faktor pertumbuhan epidermal, adalah protein yang terlibat dalam pertumbuhan dan pembelahan sel-sel sehat. Pada beberapa orang dengan NCSLC, terdapat mutasi pada gen pengkode, yang dapat menyebabkan sel tumbuh di luar kendali dan menyebabkan kanker.
Ada sekitar 10-15 persen kanker paru-paru di Inggris memiliki mutasi EGFR. Mutasi ini lebih umum terjadi pada perempuan, dan orang yang telah merokok kurang dari 100 batang rokok sepanjang hidup mereka.
"Saya belum pernah mendengar tentang kanker paru-paru non-perokok sebelum diagnosis saya. Saya tahu secara logis bahwa siapa pun dapat terkena kanker di bagian tubuh mana pun, tetapi saya tidak pernah benar-benar memikirkannya sebelumnya. Saya selalu berasumsi faktor risiko saya sangat rendah. Saya selalu mengaitkan kanker paru-paru dengan merokok. Saya sama sekali tidak pernah berpikir itu adalah sesuatu yang bisa terjadi pada saya, apalagi di usia semuda ini."
Kabar itu tentu cukup sulit untuk dihadapinya sendiri, tetapi ia pun takut untuk memberitahukan kepada kedua anaknya terkait kondisinya. "Anak laki-laki saya masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi, tetapi anak perempuan saya berusia lima tahun saat saya didiagnosis, jadi kami memutuskan untuk sejujur mungkin dengannya. Kami tidak pernah duduk dan melakukan percakapan serius dengannya karena saya khawatir itu mungkin akan membuatnya sedikit takut," bebernya.
"Sebagai gantinya, kami memberinya informasi sedikit demi sedikit tentang fakta bahwa saya tidak begitu sehat dan harus melakukan banyak tes. Kami memberi tahu dia bahwa saya akan dirawat di rumah sakit untuk kemoterapi dan itu mungkin membuat saya sakit.”
Gini menambahkan bahwa anak-anaknya bisa sangat tangguh dan itu sungguh menakjubkan. Sebagai seorang psikolog, ia percaya bahwa kebenaran yang sesuai usia adalah cara terbaik.
“Anak-anak cukup intuitif, jadi jika ingin mencoba menyembunyikan sesuatu dari mereka, imajinasi mereka bisa menjadi liar karena mereka menyadari sesuatu yang besar sedang terjadi. Emily tahu saya hanya kurang beruntung. Saya memastikan dia tahu bahwa itu bukan kesalahannya atau kesalahan orang lain, dan itu bukan sesuatu yang bisa menular. Karena saya didiagnosis selama COVID-19, itu adalah sesuatu yang sangat ingin saya jelaskan, karena saya tidak ingin dia takut mendekati saya. Saya sangat bangga dengan cara Emily menangani semuanya, dengan sangat tenang," kata Gini.
Faktor risiko ibu menyusui terkena kanker
Dikatakannya bahwa jika kalian belum pernah merokok, peluang untuk terhindar dari penyakit ini jauh lebih besar. Namun, risiko masih mungkin terjadi untuk mengembangkan kanker paru-paru meskipun telah berhenti merokok. Faktanya, hingga 14 persen orang dengan kanker paru-paru di Inggris belum pernah merokok, menurut Cancer Research UK.
“Untuk memberikan perspektif, jika kanker paru-paru pada orang yang belum pernah merokok adalah penyakit terpisah, itu akan menjadi penyebab kematian terkait kanker kedelapan yang paling umum,” demikian peringatan badan amal tersebut. Dalam data terpisah dari Ruth Strauss Foundation menunjukkan bahwa dari 50 ribu orang yang didiagnosis menderita kanker paru-paru setiap tahun di Inggris, sekitar 7.000 di antaranya bukanlah perokok.
Seiring waktu, jumlah dari kasusnya terus meningkat. Para ahli menyalahkan polusi udara, serta asap masakan, radon, asap rokok pasif, kompor kayu atau batu bara, dan mutasi genetik seperti EGFR.
Dalam hal ini, perempuan paling banyak terkena dampaknya, dengan hampir 7 dari 10 kasus. Sayangnya, sekitar 90 persen pasien didiagnosis pada stadium lanjut penyakit, ketika penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan lagi. Memang, kanker paru-paru stadium 4 tidak dapat disembuhkan, tetapi pengobatan dapat membantu memperpanjang hidup seseorang.
Pada kasus yang dialami Gini, karena tumornya terlokalisasi, Gini menjalani kemoterapi dan radioterapi di Guy’s and St Thomas’ Hospital di London, yang berhasil sebaik mungkin.
Sekarang ia tidak memiliki penyakit yang terukur dan menjalani pemindaian setiap tiga bulan sebagai tindakan pencegahan. Dokternya percaya sel kanker masih ada tetapi belum terlihat pada pemindaian dan sayangnya itu bisa berubah kapan saja.
Dengan kondisi yang ia alami, Gini merasa sangat beruntung karena banyak pihak yang memberikan support untuknya. Dikatakannya bahwa sebagian besar orang sangat baik. Mereka semua terkejut, tetapi sebagian besar dari mereka telah membantu dan sangat mendukung.
“Suami saya, Andy, sangat luar biasa saat saya mulai menjalani perawatan, begitu pula keluarga saya. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa melewatinya tanpa mereka.”
Penting diketahui bahwa kanker paru-paru adalah kanker paling mematikan yang umum terjadi di Inggris. Kanker ini dianggap umum bersamaan dengan kanker prostat, payudara, dan usus, yang bersama-sama mencakup lebih dari setengah dari semua kasus baru.
Sekitar 49 ribu orang didiagnosis menderita kanker paru-paru setiap tahun dan 35 ribu meninggal karenanya. Hanya satu dari 10 pasien yang bertahan hidup selama satu dekade atau lebih setelah didiagnosis dan tumor paru-paru menyumbang 21 persen dari kematian akibat kanker di Inggris.
Kanker ini sangatlah mematikan karena gejalanya tidak jelas pada tahap awal. Di tahap awal, gejalanya mungkin meliputi sebagai berikut:
1. Batuk yang berlangsung tiga minggu atau lebih, dan mungkin terasa sakit
2. Infeksi dada berulang
3. Batuk berdarah
4. Sesak napas
5. Kelelahan yang tidak biasa
The National Health Service tidak secara rutin melakukan skrining kanker paru-paru tetapi sedang meluncurkan lebih banyak tes untuk perokok dan mantan perokok yang berisiko tinggi, dalam upaya untuk mendeteksinya lebih awal. Pengujian sendiri dalam hal ini dapat melibatkan rontgen dan CT scan dada.
Terkait penyebab dari kanker paru-paru, dari sekian penyebab yang ada, perokok adalah faktor risiko nomor satu dan menyumbang sekitar 70 persen kasus. Risikonya juga mungkin lebih tinggi bagi orang yang menghirup asap atau zat beracun lainnya di tempat kerja, seperti asbes, asap batu bara, atau silika.
Gini yang menjalani hari-harinya dengan diagnosa tersebut telah kembali bekerja setelah menunjukkan respons yang baik terhadap pengobatan yang dijalaninya. Dengan kasus yang dialaminya, ia ingin lebih banyak orang menyadari bahwa kanker paru-paru pada non-perokok, dan tanda-tanda utama yang perlu diperhatikan.
“Kanker paru-paru dapat terjadi pada siapa saja. Yang kalian butuhkan hanyalah paru-paru,” katanya.
Ditambahkannya bahwa kita tahu bahwa jumlah perempuan yang terkena kanker paru-paru yang tidak terkait dengan merokok dua kali lipat lebih banyak daripada pria, dan jumlahnya meningkat pada orang di bawah 55 tahun.
“Hal utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa citra stereotip pasien kanker paru-paru terjadi pada pria tua yang merupakan perokok seumur hidup itu salah. Faktanya, siapa pun bisa terkena. Jadi, jika ada sesuatu yang terasa tidak beres dengan kesehatan diri sendiri, segeralah memeriksakan diri karena diagnosis dini sangat penting.”
Selain itu, ia juga ingin mendesak siapa pun yang didiagnosis menderita penyakit ini untuk tidak berasumsi yang terburuk.
“Pertama-tama, jangan panik. Saya tahu ketika seseorang pertama kali didiagnosis menderita kanker, rasanya seperti akhir sudah dekat, tetapi itu tidak selalu demikian,"katanya.
Beruntung, banyaknya penelitian yang dilakukan membuat banyaknya pula pilihan pengobatan yang tersedia.
“Ketika saya pertama kali didiagnosis menderita NSCLC EGFR Exon 20, tidak ada pengobatan yang tersedia di Inggris untuk jenis mutasi genetik spesifik saya. Sekarang ada dua dan beberapa lagi sedang dalam pengembangan. Intinya, luangkan waktu untuk mendapatkan semua informasi yang kalian bisa. Bicaralah dengan ahli onkologi untuk mengetahui mutasi genetik apa yang menyebabkan kanker tersebut, dan selidiki berbagai pilihan pengobatan yang tersedia untuk itu. Imunoterapi dan terapi target telah membuat terobosan besar dalam kanker paru-paru dalam dekade terakhir.”
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
ASI Seret Bisa Jadi Karena Kurang 'Me Time'
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
6 Tips Anti Nyeri Saat Menyusui Bayi Tumbuh Gigi
Pecahkan Rekor, Ibu Menyusui Ini Sumbangkan 300 Liter ASI untuk Bayi Prematur dan Kritis
7 Persiapan Puasa Ibu Menyusui, Boleh Persiapkan Suplemen Bun
3 Cara agar Si Kakak Tetap Anteng saat Bunda Menyusui Si Kecil
TERPOPULER
Mitos atau Fakta, Ibu Hamil Anak Laki-laki Jadi Suka Makanan Asin?
Dahlia Poland Sempat Pindah di Kos usai Cerai, Intip Tempat Tinggal Barunya yang Sederhana
15 Nama Anak Artis Indonesia Berawalan J dan Artinya, Bagus Penuh Makna
Nyeri saat Menyusui Dikira Keluhan Biasa, Ternyata Bunda Ini Idap Kanker Stadium 4
Cara Mengenali Tanda Anak Cerdas dari Gambar yang Dibuatnya
REKOMENDASI PRODUK
9 Bantal Hamil Terbaik yang Bagus & Nyaman
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
9 Kimono dan Jubah Melahirkan Terbaik yang Nyaman untuk Dipakai selama Persalinan
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Meja Belajar Anak Lengkap dari Minimalis, Lipat, Kayu hingga Plastik
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Vitamin Program Hamil untuk Suami & Istri agar Bantu Cepat Diberi Momongan
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Koper Kabin yang Awet dan Cocok untuk Liburan
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
7 Penyebab Anak Susah Makan saat MPASI
Mitos atau Fakta, Ibu Hamil Anak Laki-laki Jadi Suka Makanan Asin?
Potret Kedekatan Kiesha Alvaro dengan Kedua Adik Perempuannya, Akur Terus
15 Nama Anak Artis Indonesia Berawalan J dan Artinya, Bagus Penuh Makna
Nyeri saat Menyusui Dikira Keluhan Biasa, Ternyata Bunda Ini Idap Kanker Stadium 4
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Warga Palermo Protes Jalanan Ditutup 3 Hari untuk Nikahan Dua Lipa-Callum Turner
-
Beautynesia
5 Kampus dengan Jurusan Unik di Indonesia, Tertarik?
-
Female Daily
3 Rekomendasi Makeup Brush Lokal yang Bisa Jadi Game Changer
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Ramai Klinik Kecantikan Korea di Indonesia, Dokter Ungkap Hal yang Wajib Dicek
-
Mommies Daily
7 Acara Seru di Jakarta 8–14 Juni 2026: Konser, Festival, dan Pameran