menyusui

Dampak Memberikan ASI Perah pada Bayi dengan Dot

Yuni Ayu Amida Senin, 29 Okt 2018 - 09.08 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Sebagian Bunda apalagi yang bekerja, mungkin sering memberikan susu atau ASI perah pada bayi dengan menggunakan dot. Ternyata hal ini ada dampaknya lho. Simak penjelasan ahli ini, yuk.

Menurut konselor laktasi, dr Ameetha Drupadi CIMI, memberikan susu atau ASI perah pada bayi dengan dot kurang baik, karena bisa membuat bayi bingung puting, dan malah terbiasa dengan dot nantinya. Efek jangka panjangnya dapat merusak menyusui, bahkan ASI bisa tidak keluar, karena anak tidak mau menyedot dari puting ibunya.

"Penggunaan dot itu merusak menyusui, karena akhirnya dia nyaman sama botol, bukan sama ibunya. Padahal seharusnya kan sama Ibunya," kata dr Ameetha di The Hermitage Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.



Dr Ameetha juga menyarankan, agar media dot ini diganti dengan media lain seperti gelas, sloki, atau sendok. Untuk ibu yang tidak bekerja sebaiknya langsung menyusui saja tanpa melakukan ASI perah.

Pernyataan dr Ameetha ini sama seperti dr Asti Praborini, SpA, IBCLC, dari RS Permata, Depok yang juga Ketua Asosiasi Konsultan Laktasi Internasional Indonesia (AKLII). Menurutnya, pemberian ASI perah memang tidak boleh menggunakan dot. Hal ini, karena dapat menyebabkan masalah menyusui, masalah pada Ibu, maupun masalah pada bayi.

"Penggunaan dot atau empeng dapat menimbulkan bingung puting, yaitu bayi tidak mau menyusu lagi ke payudara ibu karena mekanisme hisapan yang berbeda antara mengisap dot dan memerah payudara. Hal ini juga yang menyebabkan produksi ASI ibu lambat laun akan menurun akibat tidak efektifnya isapan bayi ke payudara setelah bayi mengenal dot," kata dr Asti seperti dikutip detikcom.

Lebih lanjut, dr Asti menjelaskan bahwa dot juga sangat rentan akan kontaminasi. Karet pada dot, bisa menjadi media tumbuhnya kuman, selain itu banyak zat merugikan hasil reaksi plastik yang dipanaskan setiap hari. Jika hal ini terakumulasi dalam tubuh bayi, maka dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh bayi dan bayi rentan terkena infeksi penyakit, walaupun dot berisi ASI.



Selain itu, dot juga dapat menimbulkan masalah gigi dan maloklusi rahang, serta lebih tinggi risiko tersedak dibandingkan pemberian dengan gelas atau sendok. Anak yang terlanjur mengenal dot juga akan sulit disapih dari dot saat beranjak besar, sehingga akan memengaruhi sisi psikologisnya bila tidak berhasil dipisahkan dari dot saat berusia 2 tahun, terlebih jika sampai melewati batas 3 tahun. Hal tersebut akan memengaruhi kemandirian dan pengambilan keputusan sang anak di masa depan.

Untuk itu dr Asti menyarankan, khususnya untuk ibu yang bekerja, pergilah ke klinik laktasi untuk diajarkan manajemen laktasi. Di antaranya mengenai perah ASI, penyimpanan dan penyajian ASI perah, ASI perah segar, pemberian dengan gelas, dan semua tips agar tetap lancar menyusui walaupun ibu bekerja. Pengasuh pun akan diajarkan untuk melakukan pemberian ASI perah pada bayi dengan gelas.

(nwy/nwy)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi