MOM'S LIFE

Nggak Seharusnya Lahiran Normal atau Caesar Jadi Bahan Nyinyiran

Radian Nyi Sukmasari 19 Sep 2017
Ilustrasi melahirkan/ Foto: Thinkstock Ilustrasi melahirkan/ Foto: Thinkstock
Jakarta - "Kamu (melahirkan) normal atau caesar?"" Pertanyaan itu sering banget didengar sama ibu yang baru melahirkan. Sayangnya, pertanyaan bagaimana proses kita bersalin kadang nggak sekadar karena ingin tahu tapi juga jadi bahan nyinyiran.

Seperti dialami sahabat HaiBunda, Pipi. Kebetulan, anak pertama dan keduanya lahir lewat operasi caesar. Saat melahirkan anak pertama, sang kakak sempat berkomentar kalau Pipi bukanlah ibu sejati. Padahal, saat itu Pipi tengah kepayahan dan setengah sadar nggak sadar akibat efek bius yang mulai habis.

"Waktu itu, antara sadar nggak sadar saya dengar kakak saya ngomong gitu. Saya bukan ibu sejati karena nggak ngerasain ngeden (ngejan). Entah bercanda atau nggak tapi waktu itu kesal juga. Soalnya, saya pengennya kan lahiran normal. Tapi sampai akhirnya dokter nyaranin caesar. Lagian saya juga ngerasain sakit kok," kata Pipi.

Dalam keseharian, memang ada aja nih Bun orang yang menjadikan bagaimana proses kita melahirkan sebagai bahan nyinyiran. Terutama kalau operasi caesar, anggapan nggak ingin vagina kendur, malas ngejan, atau malas gerak saat hamil misalnya, bisa jadi tambahan 'amunisi' untuk menyinyiri kita. Duh, kalau mendengar nyinyiran kayak gitu sedih banget ya, Bun.

Nah, sebetulnya, kenapa ya proses melahirkan lewat persalinan normal atau caesar malah dijadikan bahan nyinyiran? Menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani M.Psi., Psikolog, mungkin ada persepsi yang berbeda antara melahirkan normal dan caesar. Kalau melahirkan caesar bisa jadi dianggap bayi keluar dari perut, tidak keluar dari vagina terus butuh bantuan dari beberapa profesional kemudian ada efek bahwa proses itu mahal banget, jadi kadang melahirkan caesar dianggap cara melahirkan yang mahal.

"Terus bisa semacam mengatur kapan anak ini dilahirkan. Padahal, nggak selalu kayak gitu. Terus kalau melahirkan normal dipersepsi sebagai begitulah cara perempuan melahirkan. Biayanya pun lebih murah," tutur wanita yang akrab disapa Nina ini waktu ngobrol sama HaiBunda.

Baca juga: Melahirkan Normal ataupun Caesar Itu Sama-sama Butuh Perjuangan

Sehingga, kadang kalau ibu melahirkan normal, kata Nina anggapannya inilah ibu sejati. Apalagi, kalau persalinan caesar ibu kan dibius dan dianggap nggak merasakan sakit. Padahal, melahirkan caesar atau normal tetap aja kita merasakan sakit ya, Bun. Nah, Nina beranggapan kesalahkaprahan persepsi-persepsi tersebutlah kadang orang jadi judgemental terhadap proses melahirkan.

Selain judgemental, kesalahkaprahan persepsi tersebut juga nggak menutup kemungkinan membuat seseorang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain. Kita perlu tahu nih, Bun, menjudge orang lain berarti kita menganggap orang lain lebih rendah. Nah, ketika seseorang sampai harus merendahkan orang lain, bisa aja jangan-jangan dia merasa 'kecil' sampai harus merendahkan orang lain.

"Jadi dia kurang percaya diri. Pada dasarnya dia begitu, sampai harus merendahkan orang lain demi dia terangkat. Kalau percaya diri kan kesannya yang di atas. Padalah belum tentu. Justru, bisa aja saat seseorang nggak percaya sama kemampuannya, dia merasa kecil, dia cari orang lain di bawah dia," tambah Nina yang praktik di Tiga Generasi ini.

Menurut Nina, kalau seseorang betul-betul percaya diri, dia malah merasa setara sama orang lain, Bun. Nggak merasa lebih hebat tanpa perlu merendahkan orang lain. Terus, apa bisa dikatakan pertanyaan soal proses melahirkan sebagai bentuk perhatian? Kata Nina, tidak selalu pertanyaan kayak gitu bentuk ketidakpercayaan diri, tapi bisa aja bentuk perhatian yang salah kaprah.

"Artinya dia nggak tau akan nanya apalagi, jadilah yang ditanyakan itu. Tapi memang bisa juga cuma sekadar pengen bertanya. Ada yang cuma basa basi karena nggak tau apa yang mau ditanyakan, atau memang ada yang pengen cari bahan nyinyiran," kata Nina.

Baca juga: Tolong Ya, Jangan Ucapkan Hal Ini ke Ibu yang Melahirkan Caesar (rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi