MOM'S LIFE

Curhat Ibu yang Merasa Sendiri karena Suami Sibuk Kerja

Melly Febrida 11 Feb 2018
Curhat Ibu yang Merasa Sendiri karena Suami Sibuk Kerja/ Foto: Thinkstock Curhat Ibu yang Merasa Sendiri karena Suami Sibuk Kerja/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Menjadi ibu bekerja yang juga harus mengurus rumah dan anak memang bukan perkara mudah. Apalagi suami tidak bisa diandalkan karena sibuk bekerja. Yuk kita simak, Bun, curhat bunda yang merasa mengerjakan semua sendiri karena sang suami sibuk bekerja.

Bunda bernama Caitlyn Doenges ini sehari-hari bekerja kantoran. Sesampainya di rumah, segala hal harus dikerjakannya sendiri karena sang suami belum pulang dari bekerja.

"Saya suka bertanya bagaimana teman-teman saya yang juga ibu-ibu bisa bermain Instagram ketika harus memberikan makanan untuk anak-anaknya, memandikan, serta menidurkan anak-anaknya," kata Caitlyn seperti dilansir Popsugar.

Namun ia kemudian sadar, teman-temannya bisa 'cukup santai' mengurus rumah dan anak yang seolah tiada hentinya karena ada bantuan dari suami. Tapi Caitlyn juga nggak mau mengeluh dan menyamakan kehidupannya dengan kehidupan teman-temannya. Apalagi dia sadar, bukan dirinya satu-satunya yang punya pasangan dengan jam kerja nggak menentu.

"Ada ibu yang jauh lebih sulit dibanding saya, sehingga semua orang memanggilnya orang tua tunggal," imbuh Caitlyn.



Menurut Caitlyn, pekerjaan shift yang dijalani suaminya membuat waktu kerjanya nggak jelas. Kebanyakan keluarga tentu tahu betapa sulitnya mengatur waktu dengan pekerjaan di rumah jika suami jam kerjanya shift. Contohnya saja perawat, dokter, pengacara, petugas keamanan, atau pekerjaan lainnya.

Biasanya, kata Cathlyn, pekerjaan tersebut nggak hanya 8 jam kerja lagi melainkan bisa 17 jam. "Saya bekerja secara reguler, dan saya pulang untuk makan malam setiap malam. Dia bekerja jam 8 pagi sampai jam 4 sore dalam satu minggu, lalu jam 4 sore sampai tengah malam di minggu depannya, dan itu belum termasuk lembur," paparnya.

Saking sibuknya sang suami, Cathlyn malah jarang bertemu suami setiap minggunya. Ketika suami pulang ke rumah, Cathlyn malah sudah tidur. Dan ketika ia pergi kerja, suaminya belum bangun.

Belum lagi waktu libur yang nggak sama Bun. Kalau Cathlyn libur di akhir pekan yakni Sabtu Minggu, sementara suaminya bisa libur di hari kerja.

"Saya makan malam sendiri setiap malam. Ada saatnya pada malam hari teman-teman saya ingin pergi keluar, dan saya akan pergi sendiri atau tidak sama sekali karena suami masih di tempat kerja. Semua orang terbiasa dengan saya yang datang ke acara-acara dan perayaan sendiri saja," sambungnya.



Suaminya nggak cuma sulit bertemu dengan Cathlyn Bun. Sama anaknya saja jarang bertemu. Suaminya sering kangen dengan putrinya karena tak bertemu lebih dari dua hari. Sang suami baru pulang rumah saat anaknya sekolah. Lalu tertidur atau kembali bekerja saat dia pulang.

Meski begitu Caitlyn menghargai usaha suaminya untuk ada pada saat momen penting seperti ulang tahun anak atau saat anak hendak liburan, dengan cara bertukar waktu kerja dengan temannya. "Dia melakukan yang terbaik yang dia bisa, dan aku juga," ucapnya.

Cathlyn sadar ia dan teman-temannya yang senasib tak bisa melakukan kegiatan rutin untuk makan malam, atau menidurkan anak-anaknya bersama, juga menikmati akhir pekan bersama keluarga.

"Saya selalu bersyukur dia bekerja sangat keras untuk keluarga kami, dan saya telah menerima waktu versi keluarga kami," lanjutnya.

Menerima semua yang terjadi, kata Cathlyn, membuat mereka berhasil menghabiskan waktu bersama yang jauh lebih bermakna, meskipun hanya sebentar.

Trik Ayah Sibuk Agar Dekat Anak

Kesibukan ayah bisa membuat anak jarang bertemu dan berkomunikasi. Kondisi tersebut bisa membuat hubungan ayah dan anak menjadi jauh. Tapi ada triknya agar ayah tetap dekat dengan anak meski sibuk bekerja.

"Bisa pakai media gambar. Ayah pulang anak sudah tidur, buatlah gambar yang sederhana terus tempel di kulkas. Besok paginya anak bangun, ayah sudah berangkat kerja misalnya, dibalas tuh gambarnya sama anak. Kan sudah bentuk komunikasi itu," kata Anne Gracia, konsultan neurosains terapan, dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Jika waktu bertemu ayah dan anak sudah sangat sulit, tidak ada salahnya juga memanfaatkan alat komunikasi yang ada, Bun. Jadi jangan biarkan anak menggunakan perkembangan teknologi dan informasi untuk menjalin kedekatan dengan orang lain dan malah menjadi asing dengan ayahnya. Padahal seharusnya komunikasi anak lebih banyak dilakukan dengan orang tua sehingga fungsi pengawasan dan bimbingan tidak terabaikan.

"Ayah bisa mengirim SMS atau email ke anak untuk secara tidak langsung memantau perkembangan anaknya. Kan lewat SMS atau email anak juga bisa cerita ke ayahnya apa yang dia lakukan," kata Anne. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi