MOM'S LIFE

5 Fase Berduka Saat Pasangan Jadi Korban Pesawat Jatuh

Amelia Sewaka Selasa, 30 Okt 2018 - 14.00 WIB
5 Fase Berduka Saat Pasangan Jadi Korban Pesawat Jatuh /Foto: Deny Prastyo Utomo 5 Fase Berduka Saat Pasangan Jadi Korban Pesawat Jatuh /Foto: Deny Prastyo Utomo
Jakarta - Sepanjang hidup, kita pasti mengalami yang namanya kesedihan. Kesedihan bisa disebabkan oleh berbagai macam, salah satunya kepergian mendadak pasangan yang kita cintai. Seperti kisah pria bernama Deryl Fida Febrianto yang menjadi korban pesawat Lion Air JT 610. Padahal Deryl baru menikah 2 minggu sebelum kepergiannya.

Deryl (22) merupakan warga Simo Pomahan Baru 67, Simomulyo Baru, Sukomanunggal, Surabaya. Ayah Deryl, Didik Setiawan (44) tak bisa menyembunyikan kesedihan peristiwa yang dialami putra pertamanya tersebut.

"Pertama kali saya mendengar info dari radio sekitar 09.00 WIB. Jika ada penerbangan yang loss contact, saya dengar kok nomor penerbangannya Lion Air JT 610. Waduh itukan nomor penerbangan anak saya," kata Didik Setiawan kepada wartawan di rumahnya, Senin (29/10/2018) seperti dilansir detikcom.

Didik menceritakan Deryl baru menikah dengan Lutfiyani Eka Putri (23) pada 15 Oktober 2018. Dua hari setelah menikah, Deryl ditugaskan bekerja di bidang pelayaran di Pangkal Pinang. Namun siapa sangka, itulah saat terakhir Deryl besama keluarga.

Dari peristiwa ini, bisa terbayang ya, Bun, gimana perasaan Lutfiyani. Kehilangan pasangan, apalagi bagi pengantim baru pasti berat banget. Nah, ketika seseorang berkabung karena kehilangan pasangannya, berikut 5 fase yang dialami. Fase ini disebut DABDA (Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance) yang dikenalkan pertama kali oleh psikiater Swiss, Kubler-Ross seperti dilansir Psycom.



1. Denial (Penyangkalan)

Tahap ini adalah tahap awal yang dirasakan orang-orang yang kaget kehilangan pasangan secara tiba-tiba. Kita mungkin merasa hidup tak masuk akal, tak adil dan tak ada artinya. Kita juga merasa menyangkal semua berita dan mulai mati rasa mendengan kabar yang ada.

Dalam tahap ini biasanya seseorang masih menyangkal dan berpegang teguh pada keyakina bahwa berita tersebut salah dan orang yang dicintai jadi korban pesawat jatuh misalnya, salah. Sebenarnya, penolakan dari terguncangnya jiwa, dapat membantu kita mengatasi dan bertahan dari kesedihan yang ada.

Setelah penolakan dan guncangan memudar, mulai terjadi proses penyembuhan. Pada titik ini, perasaan yang pernah kita tekan akan muncul ke permukaan.

2. Anger (Marah)
5 Fase Berduka Saat Pasangan Jadi Korban Pesawat Jatuh Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Begitu kita mulai hidup dengan realita dan menerima kebenaran meninggalnya pasangan, rasa marah itupun muncul. Ini adalah tahap yang umum untuk berpikir 'mengapa saya?', merasa tak adil, dan malah menyalahkan orang lain atau keadaan atas kesedihan yang dirasa.

Kita juga akan mulai mempertanyakan keimanan seperti,'Apakah Tuhan ada? Di mana Tuhan' dan sebagainya. Sebenarnya sangat penting untuk bisa merasakan kemarahan karena semakin kita merasa marah, makin cepat hilangnya kemarahan tersebut dan mempercepat proses 'kesembuhan'. Tidak sehat untuk menekan perasaan marah kita, karena ini adalah respons alami dan mungkin bisa dibilang perlu untuk merasa marah.

Ketika mengalami peristiwa duka, kita mungkin merasa putus asa, hancur harapan hidup dan merasa sendirian. Namun, sebenarnya ini adalah hal yang patut dipahami dan langkah alami dalam penyembuhan diri.

3. Bargaining (Tawar-menawar)

Ketika terjadi sesuatu yang buruk, pernahkah Bunda 'berkompromi' pada Tuhan seperti, 'Ya Tuhan, jika suami atau istri saya hidup saya akan berusaha jadi pasangan yang baik' dan sebagainya. Ini adalah salah satu contoh tawar-menawar terhadap Tuhan.

Kita begitu putus asa agar pasangan bisa kembali hingga bersedia membuat perubahan besar dalam upaya menormalkan kehidupan. Di tahap ini kita akan selalu membayangkan dan mengeluarkan pernyataan 'bagaimana jika', 'kalau saja', 'andai saja saya melarang suami atau istri saya pergi, pasti kecelakaan itu nggak akan terjadi' dan pernyataan berandai-andai lain yang membuat kita menyesal.



4. Depression (Depresi)
5 Fase Berduka Saat Pasangan Jadi Korban Pesawat Jatuh Foto: iStock
Depresi adalah bentuk kesedihan yang umum diterima saat seseorang berkabung misalnya saat pasangan meninggal karena jadi korban pesawat jatuh. Ini mewakili kekosongan yang kita rasakan ketika hidup dalam kenyataan dan menyadari orang atau situasinya berakhir.

Pada tahap ini, seseorang mungkin menarik diri dari kehidupan, mati rasa, hidup dalam kabut, dan tidak ingin bangun dari tempat tidur. Kita tidak ingin ada di sekitar orang lain, bicara, dan merasa putus asa.

5. Acceptance (Penerimaan)
5 Fase Berduka Saat Pasangan Jadi Korban Pesawat Jatuh Foto: iStock
Tahap terakhir kesedihan yang diidentifikasi oleh Kubler-Ross adalah penerimaan. Bukan dalam arti bahwa 'tidak apa-apa suami saya mati' atau 'suami saya meninggal, tetapi saya akan baik-baik saja.

Pada tahap ini, emosi mungkin mulai stabil dan kita masuk kembali ke realitas. Lalu memahami kenyataan bahwa realitas 'baru' adalah pasangan tidak akan pernah kembali dan kita akan baik-baik saja.

Pada tahap ini, kita mulai membuka diri, melakukan rutinitas seperti sebelumnya bahkan menjalin hubungan baru dengan orang lain. Di tahap ini kita memahami pasangan nggak akan pernah tergantikan walaupun secara fisik mereka memang tidak ada.

Menurut psikolog klinis, Christina Tedja MPsi, memang ada 5 tahap umum yang dirasakan oleh seseorang yang baru kehilangan sosok tercinta untuk selamanya. Pada praktiknya, psikolog yang akrab disapa Tina ini memang selalu menemukan semua fase tersebut pasti akan dilewati oleh keluarga atau pasangan yang ditinggalkan.

"Tapi tidak menutup kemungkinan, ada orang yang stuck pada salah satu fase sehingga hidupnya tak lagi produktif. Kematian keluarga secara mendadak dan bertahap (misal sakit, dirawat lalu meninggal) biasanya membawa kesan yang berbeda. Meninggal dadakan seperti insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 kemarin tentunya menjadi sebuah hal yang mengejutkan bagi pihak keluarga terutama pasangan," papar Tina saat ngobrol dengan HaiBunda.

[Gambas:Video 20detik]


(aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi