mom-life

Hiks! Cerita Pilu Seorang Bunda Lahirkan Bayinya dalam Keadaan Mati

Radian Nyi Sukmasari Jumat, 17 Nov 2017 14:03 WIB
Hiks! Cerita Pilu Seorang Bunda Lahirkan Bayinya dalam Keadaan Mati
Jakarta - Bahagia rasanya ketika kita bisa merasakan tendangan dan gerakan si kecil di dalam perut ya, Bun. Seperti nggak tahan ingin segera bertemu dengannya. Tapi, takdir bisa berkata lain. Calon bayi tiba-tiba nggak terasa gerakannya di perut dan itu bisa jadi tanda bahwa dia sudah tiada. Ya, hal inilah yang dialami seorang bunda bernama Emily Mueller.

Kalau Bunda ingat, beberapa waktu lalu Emily sempat jadi perhatian karena dia melakukan maternity photoshoot dengan banyak lebah di perutnya. Maklum, Emily seorang peternak lebah dan kesehariannya amat dekat dengan lebah. Tapi, beberapa waktu lalu kebahagiaan Emily menantikan kehadiran sang buah hati perlahan berubah menjadi kekhawatiran ketika dia nggak lagi merasakan gerakan sang bayi di perutnya.

"Hari itu saya ada acara sehingga nggak terlalu memperhatikan gerakan bayi saya. Memang tidak terlalu terasa tapi saya kira dia sedang tidur. Sampai malam harinya saya mengecek kondisi dia dengan USG doppler. Tapi, saya malah kontraksi yang memang sudah sering saya rasakan. Dini hari, sekitar jam 02.30 saya meras tidak nyaman di siku dan lutu, lantas saya membangunkan Ryan kemudian memeriksa kondisi janin kami dengan USG doppler. Tapi kami ragu," kaat Emily di halaman Facebook-nya.


Untuk memastikan keadaan bayinya, Emily pergi ke RS. Ia ingat betul bagaimana dirinya berbaring di tempat tidur dengan ditemani suami dan salah satu anaknya di sisinya. Pemeriksaan USG dilakukan lebih dulu oleh bidan. Emily bilang, terpatri banget di ingatannya ketika bidan mengoleskan gel ke perutnya lalu menggerakkan alat USG. Suasana hening. Kekhawatiran Emily makin memuncak.

"Apa Anda nggak menemukan detak jantung bayi saya?". Pertanyaan itu terlontar dari mulut Emily. Namun, sang perawat hanya tersenyum mencoba menenangkan Emily. Sebagai ibu, Emily punya feeling ada yang tak beres pada bayinya. Sampai perawat menghubungi dokter yang kemudian melakukan sendiri USG tersebut.

"Saya ingat betul langkah dr Sutter saat menghampiri saya. Kemudian dia mengambil alih gel dan alat USG. Tak beberapa lama, dia bilang kalau bayi kami sudah meninggal. Perasaan saya hancur. Saya berharap nggak mengingat memori ini. Rainbow baby kami berubah menjadi badai yang membawa kesedihan di hidup kami," tutur Emily.

Sempat pulang ke rumah, Emily tahu kalau jenis kelamin bayinya laki-laki. Ia dan Ryan pun sepakat memberi nama bayi mereka yang telah tiada itu Emersyn Jacob. Kata EMily, Emersyn adalah beekeper kecilnya, Bun. Hiks, bisa dibayangkan gimana sedihnya Emily saat itu ya? Hingga dia kembali lagi ke RS, masuk ke ruang operasi dan melahirkan bayinya. Ya, bayinya yang sudah tidak bernyawa.

Namun, Emily merasa bersyukur karena dia diampingi oleh tenaga medis yang tahu bagaimana membuatnya tetap nyaman dan tegar menghadapi kenyataan pahit itu. Bahkan, setelah Emersyn lahir, perawat sempat membuat cap kakinya dan beberapa foto. Kata Emily, cap kaki dan foto itu bisa jadi kenangan Emersyn dan Emily merasa senang dia masih diberi kesempatan satu hari bertemu sang buah hati.

"Saya banyak berterima kasih untuk semua orang yang sudah memberi perhatian ke kami. Kami senang karena banyak orang menyayangi Emersyn. Kini, kami sudah melepas kepergian Emersyn yang jiwanya akan selalu ada dalam hidup kami. Terima kasih semua atas support yang diberikan. Untuk orang tua yang merasakan hal serupa jangan sungkan berbagi dengan kami," kata Emily.

Ia menduga, kematian Emersyn dipengaruhi oleh masalah pembekuan darah. Soalnya, kerabat dekat Emily ada yang keguguran karena mengalami pembekuan darah. Meski penyebab pasti meninggalnya Emersyn masih menunggu hasil pemeriksaan plasentanya, sebagai seorang ibu Emily memakai insting-nya untuk menduga apa yang membuat ia kehilangan bayinya.

Dikutip dari The Sun, bayi lahir mati atau stillbirth bisa terjadi pada janin hanya beberapa saat menjelang saat dilahirkan. Tapi, definisi stillbirth sebenarnya lebih luas, Bun, yaitu mencakup kematian janin yang udah memasuki usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Kondisi yang meningkatkan risiko mengalami stillbirth di antaranya kehamilan kembar 2 atau lebih, hamil di atas usia lebih dari 35 tahun, dan ibu hamil yang kelebihan berat badan.

Untuk mengantisipasi risiko bayi lahir mati, dr Daghni Rajasingam dari Royal College Of Obstetricians And Gynaecologists di Inggris bilang beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan antara lain rutin memeriksa pergerakan janin, menurunkan berat badan, mempertimbangkan usia sebelum hamil, melakukan USG, dan waspadai nyeri dan perdarahan.

(rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi