mom-life

Bunda, Yuk, Evaluasi Keuangan Sebelum Tutup Tahun

Amelia Sewaka Senin, 25 Dec 2017 10:09 WIB
Bunda, Yuk, Evaluasi Keuangan Sebelum Tutup Tahun
Jakarta - Wah, kita sudah berada di penghujung tahun 2017 nih. Bunda dan suami pasti punya resolusi dong, termasuk soal keuangan rumah tangga.

Mungkin banyak dari kita yang saat ini sudah bersiap-siap menikmati libur akhir tahun. Atau, justru malah semakin sibuk bekerja karena dikejar target?

Apapun kesibukan kita jelang akhir tahun seperti ini, jangan lupa menyisihkan waktu sejenak untuk melihat sedikit ke belakang. Apa saja, sih, yang sudah kita capai dan lalui sepanjang tahun ini?


Khusus perihal keuangan, ada banyak hal yang bisa kita lihat lagi. Bagaimana kondisi keuangan kita sepanjang tahun 2017 ini? Apakah semakin membaik atau makin terpuruk dibandingkan tahun sebelumnya? Apa saja rencana keuangan yang sudah tercapai?

Menurut Ruisa Khoiriyah, yang merupakan Certified Financial Planner dalam kuliah What's App-nya bersama Birthclub January 2016 mengatakan akhir tahun seperti ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi kondisi keuangan sepanjang tahun yang telah berjalan.


"Dengan mengevaluasi, kita bisa tahu wajah keuangan pribadi kita seperti apa? Masih sering jebolkah keuangan hanya karena terlalu 'rajin' berbelanja online. Atau, jangan-jangan kita sebenarnya masih bisa menabung lebih banyak untuk kebutuhan dana sekolah anak," papar wanita yang akrab disapa Rui ini.

Bun, Rui memberikan beberapa tips dari mana sebaiknya evaluasi keuangan yang perlu kita lakukan. Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Cek Catatan Keuangan Pribadi

Bila kita selama ini rajin mencatat keuangan pribadi, langkah ini akan mudah. Kita cukup mengecek ke laporan arus kas (berisi arus pendapatan dan pengeluaran rutin), lalu memperbarui informasi laporan neraca (berisi daftar aset dan daftar kewajiban).

Terus gimana kalau selama ini kita belum punya catatan keuangan apapun? Kita bisa coba melihatnya paling tidak dalam 3 bulan terakhir. Cek mutasi rekening dan perhatikan arus masuk dan arus keluar uang kita. Sedang untuk neraca keuangan, kita bisa langsung mendaftar apa saja aset yang kita miliki dan beban kewajiban.

Daftar aset antara lain: aset likuid seperti tabungan, deposito, emas, reksadana pasar uang, dan lain sebagainya. Lalu, isi juga informasi aset investasi bila kita memilikinya, seperti reksadana, properti, saham, obligasi, sukuk, dan lain-lain.

Juga, aset guna antara lain, rumah dan mobil yang kita gunakan, perhiasan yang kita kenakan, dan lain sebagainya. "Setelah semua aset terdaftar, jangan lupa mencatat pula daftar beban kewajiban (kewajiban jangka panjang dan jangka pendek/menengah), mulai dari sisa cicilan mobil, cicilan rumah, utang kartu kredit, juga utang-utang lain yang kita tanggung," ungkap wanita yang pernah menjadi jurnalis finance ini.

Dari dua sisi informasi tersebut, kita bisa mendapatkan informasi, apakah ada penambahan aset selama 2017? Atau, malah lebih banyak penambahan utang yang membebani keuangan keluarga.

Dari sini, kita bisa melihat, Bun, apa aja sih langkah yang salah dan bagaimana solusinya.

2. Evaluasi Arus Kas
Bunda, Yuk, Evaluasi Keuangan Sebelum Tutup TahunEvaluasi keuangan keluarga di penghujung tahun. (Foto: Ilustrasi Thinkstock)


Untuk mengevaluasi arus kas masuk dan keluar, kita perlu memiliki catatan laporan arus kas yang berisi daftar pendapatan bulanan atau tahunan dan daftar pengeluaran bulanan atau tahunan.

Bila kita selama ini belum memiliki data yang lengkap, coba deh lihat paling tidak dalam 3 bulan terakhir. Nah, dari data itu, kita bisa cek, apakah terjadi surplus atau defisit.

"Kalau defisit, cari sebabnya. Apabila surplus, kita manfaatkan untuk apa surplus tersebut? Untuk menambah aset atau malah untuk belanja konsumtif," tutur perempuan yang sekarang menjadi Financial Advisor and Content Digital Specialist di perusahaan financial technology ini.

3. Evaluasi Target Keuangan

Apa saja target keuangan kita selama tahun 2017? Mungkin ada di antara kita yang memiliki rencana membeli rumah tahun ini melalui pengumpulan uang muka, apakah sudah tercapai?

Bila gagal, cari tahu sebabnya. Atau, ada rencana melunasi utang kartu kredit yang sudah lama menumpuk, apakah sudah berhasil direalisasikan sehingga kita bisa memasuki 2018 bebas utang kartu kredit.


4. Evaluasi Beban Utang

Beban cicilan utang per bulan yang ideal adalah tidak boleh lebih dari 30 persen dari nilai penghasilan rutin bulanan. Bila jenis utang produktif, batasannya bisa dinaikkan jadi maksimal 35 persen. Mengapa evaluasi beban utang ini penting.

"Utang bila sampai melampaui kemampuan bayar bisa sangat berbahaya bagi keuangan kita. Biaya hidup sehari-hari bisa tersabotase beban utang, belum lagi rencana keuangan masa depan," ungkap Ruisa yang juga aktif menjadi finance blogger.

Padahal, supaya kondisi finansial kita terjaga kesehatannya, idealnya kita wajib menyisihkan penghasilan saat ini untuk kebutuhan masa depan. Minimal 10 persen penghasilan kita sisihkan untuk tabungan masa depan. Belum lagi kecukupan dana darurat.

5. Hitung Indikator Kesehatan Dompet
Bunda, Yuk, Evaluasi Keuangan Sebelum Tutup TahunEvaluasi keuangan sebelum tutup tahun. (Foto: Thinkstock)


Ukur kesehatan keuangan dengan memakai beberapa rasio. Antara lain, rasio likuiditas (jumlah aset berupa kas atau setara kas dibagi jumlah pengeluaran bulanan), rasio tabungan (nilai tabungan tahunan dibagi dengan jumlah pendapatan tahunan, angka ideal 10 persen).

Juga rasio kemampuan pelunasan utang (beban cicilan utang per tahun atau per bulan dibagi nilai pendapatan per tahun atau per bulan, angka ideal di bawah 35 persen), rasio solvabilitas (nilai total kekayaan bersih dibagi total aset, angka ideal minimal 50 persen).

Dengan mengevaluasi keuangan sepanjang tahun, kita bisa tahu wajah keuangan kita di tahun 2017 ini, Bun. Dari situ, kita baru bisa melangkah untuk menyusun resolusi keuangan tahun 2018. Yuk, kita mulai segera atur keuangan demi resolusi yang baik. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi