moms-life

Dunia Seakan Runtuh Saat Kutahu si Kecil Punya Kelainan Jantung

Amelia Sewaka & Amelia Sewaka Kamis, 08 Mar 2018 20:00 WIB
Dunia Seakan Runtuh Saat Kutahu si Kecil Punya Kelainan Jantung
Jakarta - Kelahiran harusnya jadi hal yang penuh kebahagiaan dan haru. Akhirnya penantian selama 9 bulan terbayarkan dan si kecil pun lahir ke dunia. Namun, situasi bisa berubah ketika kita mendengar kalau buah hati kita punya kelainan jantung. Hiks.

Sahabat HaiBunda bernama Vera ini adalah salah satu dari sekian banyak orang tua yang buah hatinya terkena PJB atau penyakit jantung bawaan, Bun. Vera punya tiga anak yaitu Hana (8), Arkan (4) dan Salma (5 bulan). Nah, yang terkena PJB adalah si bungsu Salma.

"Waktu tahu (anak) kena PJB sedihnya buka main. Apalagi waktu itu dokternnya saklek banget kasih tahunya nggak pakai prolog, nggak lihat mental kami seperti apa, langsung dibilang, 'Pak, anak Bapak dan Ibu ini jantungnya bocor'," tutur Vera saat ngobrol dengan HaiBunda.



Diibaratkan bunda yang bekerja sekaligus sedang tugas belajar di IPB ini jantungnya ikut berhenti ketika diberi tahu hal itu oleh dokter.

"Saya tabah-tabahin dengar penjelasan dokter walaupun rasanya waktu itu ingin sekali nangis kencang apalagi saya orangnya cengeng, bayi saya disinar aja saya udah mewek apalagi pas tahu jantung anak bocor," kata Vera.

Vera bercerita awalnya setelah melahirkan, bilirubin Salma tinggi dan dokter menyarankan untuk fototerapi. Malamnya, napas Salma cepat dan kata dokter harus masuk NICU untuk dipasangkan alat bantu pernapasan. Waktu itu si kecil Salma pakai bubble cpap. Nah, setelah tes darah dan rontgen baru diketahui Salma mengalami infeksi paru (pneumonia).

Vera melanjutkan, hari ke-6 setelah lahir dokter di NICU mendiagnosis bayinya dengan PJB.

"Suami saya juga nggak kalah sedihnya, apalagi dia orangnya mellow cuma belum sampai nangis memang," ungkap Vera.

Vera menjelaskan kalau kata dokter jantung, penyebab Salma kena PJB 90 persen tidak diketahui dan 10 persen bisa jadi karena keturunan, polusi asap rokok atau asap kendaraan, konsumsi obat-obatan yang tidak disarankan selama hamil atau terkena virus semacam rubella atau toksoplasma.

"Saya juga nggak ada bayangan kalau anak akan terlahir PJB karena kalau dirunut pas hamil saya nggak pernah minum obat-obatan yang tidak sesuai saran dokter. Saya aja kalau pilek doang nggak minum obat takut ngaruh ke janin," ungkap Vera.

Terlebih, tiga kehamilan dirasakan Vera hanya berbeda di keluhan mual. Di kehamilan pertama Vera mabuk berat sampai muntah-muntah. Saat hamil kedua mual dialami Vera di trimester awal aja tapi nggak sampai muntah. Nah, saat hamil ketiga justru Vera nggak mengeluh muntah. Selama hamil Vera juga menjaga asupannya juga minum vitamin.

Dunia Seakan Runtuh Saat Kutahu si Kecil Punya Kelainan JantungVera bersama salma/ Foto: dok pribadi

Setelah mengetahui penyakit anaknya, Vera pun mulai bergabung dengan komunitas LHC atau Little Heart Community. LHC adalah suatu komunitas yang para orang tuanya memiliki anak PJB. Komunitas ini juga saling membantu dan mendukung juga saling berbagi info dan mengadalan seminar mengenai PJB.

"Dari LHC saya jadi banyak tahu info-info soal PJB, tahu gimana kalau anak lagi sakit dan yang pasti ada teman saling menghargai. Saya juga jadi merasa nggak sendirian dengan punya anak yang PJB," tutur Vera.

Vera pun memberi pesan, agar orang tua yang mengalami hal sama dengannya tetap semangat, tetap ikhtiar dan yakin akan kesembuhan anak.. "Harapan itu selalu ada, kalian ada orang tua spesial yang anaknya spesial," tutur Vera.

Kalau menurut Prof Dr dr Mulyadi M Djer SpA(K) yang ditemui pada acara 'The Day I Became a Heart Parent' di Warunk Upnormal, Tebet, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, PJB merupakan kelainan kongenital atau cacat bawaan yang terbanyak. Iya, karena kondisi ini dialami 8 hingga 10 bayi di tiap 1.000 kelahiran hidup.

"Indonesia memasuki 50 ribu kasus per tahun untuk kasus penyakit jantung bawaan. 30 persen menunjukkan gejala klinis pada minggu pertama lahir dan 30 persen PJB justru tidak terdeteksi saat lahir," papar staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM Jakarta ini.

Pria yang akrab disapa Prof Mul ini menjelaskan neonatus adalah bayi baru lahir sampai usia 28 hari. Nah, penanganan penyakit untuk neonatus tentu beda dengan anak yang lebih besar. Perlu penerapan yang holisitik sehingga kita bisa mengenal tanda atau gejala penyakit jantung bawaan (https://www.haibunda.com/kesehatan/d-3878507/ada-riwayat-keluarga-bagaimana-risiko-anak-kena-penyakit-jantung-bawaan) pada anak.


"Proses diagnosisnya juga nggak sebentar, harus dari mulai anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang seperti analisis gas darah, EKG (elektrokardiogram), foto rontgen dada, ekokardiografi, kateterisasi dan lainnya seperti CT-Scan, MRI," ungkap profesor lulusan Universitas Indonesia ini.

Hal yang perlu Bunda ketahui adalah pemeriksaan normal tidak selalu membuat bayi terhindar dari penyakit jantung bawaan lho. Misalnya, bayi dengan jantung bising saat lahir atau setelah berusia 6 minggu harus dirujuk untuk dievaluasi jantungnya.

Namun Tuhan lebih sayang Salma. Salma telah kembali ke pangkuan-Nya pada 26 Februari 2018 di usia 5 bulan 22 hari.
Tetap sabar ya Bunda Vera dan tetap semangat, semoga Salma ditempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan... (rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi