mom-life

Ungkapan Rindu Widyawati pada Mendiang Suami

Yuni Ayu Amida Kamis, 13 Dec 2018 11:01 WIB
Ungkapan Rindu Widyawati pada Mendiang Suami
Jakarta - Duka menyelimuti aktris senior Widyawati pada 17 Mei 2008. Sang suami, Sophan Sophiaan, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan motor saat touring. Dan kini, Widyawati merasakan rindu pada suami yang juga pasangan mainnya di sejumlah judul layar lebar.


Widyawati menuangkan kerinduannya melalui Instagram. Aktris 68 tahun ini mengunggah foto masa lalunya bersama Sophan Sophiaan, disertai ungkapan kerinduan yang begitu dalam.

"Love this moment... #deeplymissingyou," tulis Widyawati.


[Gambas:Instagram]


Dalam posting-an tersebut, Widyawati dan Sophan Sophiaan beserta kedua anak mereka sedang santai di atas tempat tidur. Mereka kompak melihat ke arah kamera tanpa ekspresi.

Kehilangan pasangan, seperti yang dialami Widyawati, tentu menjadi saat yang berat bagi yang ditinggalkan. Apalagi jika hal itu terjadi secara tiba-tiba ya, Bun. Secara psikologis, ada lima fase yang dilalui seseorang saat kehilangan orang yang dicintai.

Mengutip teori milik Dr Kubler Ross, psikolog klinis Untung Subroto Dharmawan, M.Psi, memaparkan fase-fase yang dilalui seseorang saat kehilangan orang yang dicintai.

1. Fase shock atau terkejut

Fase ini terjadi karena rasa tidak percaya akan kabar menyedihkan tentang hilangnya anggota keluarga. Terlebih jika kehilangan terjadi secara mendadak.

Tentu lain rasanya jika keluarga yang dicintai meninggal karena sakit atau karena usianya sudah lanjut. Biasanya, anggota keluarga sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi kehilangan tersebut.

"Reaksi normal yang biasanya timbul pada fase ini tak lain ialah menangis dan melamun," kata Untung, dikutip dari detikcom.

2. Fase penyangkalan

Mereka yang kehilangan orang yang dicintai terkadang menyangkal atau menentang. Mereka berharap peristiwa sedih itu hanya mimpi dan waktu bisa berputar kembali.

Dalam fase ini, mereka yang sedang berduka menganggap kabar yang menyedihkan tersebut salah. Maka itu, adanya berita-berita yang tak pasti hanya akan memperburuk kondisi keluarga yang sedang berduka.

3. Fase kemarahan

Kemarahan bisa terjadi karena minimnya informasi yang dibutuhkan anggota keluarga. Kepastian informasi adalah hal penting yang dibutuhkan oleh mereka yang sedang berduka.

"Kemarahan biasanya bisa ditujukan ke berbagai pihak, marah pada diri sendiri, terlebih marah kepada Tuhan. Mereka yang berduka kerap mempertanyakan alasan kenapa hal tersebut harus menimpa mereka," lanjut Untung.

4. Masa berkabung

Fase ini bisa terjadi selama beberapa bulan hingga tahunan. Diiringi dengan perasaan marah, kesepian, kecewa, hingga berdampak depresi. Karena itu, dukungan dari anggota keluarga sangat dibutuhkan. Tak hanya itu, pada fase ini mungkin penanganan profesional oleh psikolog atau psikiater juga dibutuhkan.


5. Fase pemulihan

Memang pada hakikatnya setiap orang punya kemampuan untuk memulihkan dirinya. Tapi, dengan adanya dukungan keluarga yang bersedia untuk menjadi teman curhat, tentunya akan mempercepat proses pemulihan.

Individu pada tahap ini sudah mulai mampu kembali ke aktivitas semula. Misalnya, yang biasanya bekerja dapat kembali bekerja seperti biasa. Lalu, mereka biasanya sudah mampu mengambil makna dari peristiwa kehilangan tersebut. (yun)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi