mom-life

Mengenang Kesedihan Sandiaga Uno di Balik Kelahiran Putri Pertamanya

Yuni Ayu Amida Senin, 18 Mar 2019 07:00 WIB
Mengenang Kesedihan Sandiaga Uno di Balik Kelahiran Putri Pertamanya
Jakarta - Tak banyak yang tahu mengenai kisah cawapres Sandiaga Uno dalam menata kariernya. Pria 49 tahun ini ternyata pernah merasakan jatuh bangun dalam membangun usaha.

Salah satu yang tak akan terlupa yakni saat kelahiran putri pertamanya, Anneesha Atheera Uno. Peristiwa yang terjadi 21 tahun silam itu, masih membekas hingga kini di hati Sandiaga dan sang istri, Nur Asia.


Sandiaga menikahi Nur Asia pada 1996 di Singapura. Selang setahun kemudian, Anneesha lahir di Rumah Sakit Hoag, Newport Beach, California, pada 25 Juli 1997. Namun siapa sangka, pada momen kelahiran Anneesha mereka justru bersimbah air mata, Bun. Tak hanya tangis bahagia, ada getir yang harus dirasakan Sandia dan Nur Asia kala itu.


Dikutip dari detikX, dalam buku Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas, Sandiaga memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang sudah mapan. Sandi menerima ajakan temannya untuk membuka usaha sendiri, Bun. Namun sayangnya, perusahan yang baru dirintis itu ambruk dan dia dipecat dari pekerjaannya.

Sandi yang saat itu baru berusia 28 tahun jatuh ke titik bawah dalam kariernya. Tabungannya tak tersisa untuk membayar biaya persalinan sang istri. Bahkan, rumah mertuanya ikut terkena imbas karena ikut bangkrut akibat krisis moneter.

"Saat itu krisis ekonomi di Asia sudah dimulai dan perusahaan tempat saya bekerja mulai kena dampaknya.....Sejak pertengahan tahun itu saya tidak lagi menerima gaji," ungkap Sandi.

Untungnya, sang istri, Nur Asia tetap setia walaupun suaminya tak lagi bekerja. Nur Asia bahkan sampai menjual perhiasan, untuk menyambung hidup beberapa pekan saja di negeri orang. Hingga akhirnya, Sandi memutuskan untuk membawa pulang Nur dan anak pertama mereka pulang ke rumah orang tuanya.

"Nur terpaksa mulai menjual perhiasannya," kata Sandi.

Apa yang dialami Sandiaga ini merupakan situasi yang cukup berat ya, Bun. Tak ada orang yang menginginkan kebangkrutan dalam hidup. Menurut psikolog klinis di Hawaii, Bradley Klontz, kebangkrutan dapat memengaruhi kesehatan mental.

"Kebangkrutan adalah tekanan finansial dan psikologis yang sangat besar. Stres keuangan dapat menyebabkan hilangnya kontrol pribadi, depresi, kecemasan, rasa malu dan masalah hubungan." kata Klontz dilansir Empowher.


Klontz juga mengatakan bahwa laki-laki mungkin lebih menderita karena mereka dianggap sebagai penyedia utama keuangan. Sedangkan perempuan umumnya dapat menghadapi tekanan dengan lebih baik.

"Wanita sering memiliki perasaan diri yang lebih seimbang, karena mereka cenderung memiliki ikatan emosional dan sosial yang lebih dekat dengan keluarga dan teman," jelas Klontz.

[Gambas:Video 20detik]

(yun)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi