moms-life

5 Cara Anti Drama Mengatasi Konflik dengan Mertua dan Ipar

Yuni Ayu Amida Jumat, 11 Oct 2019 19:30 WIB
5 Cara Anti Drama Mengatasi Konflik dengan Mertua dan Ipar
Jakarta - Membentuk hubungan harmonis dengan mertua maupun saudara ipar itu memang tidak mudah, Bunda. Hal ini karena nilai-nilai dalam keluarga kita belum tentu sama dengan keluarga pasangan.

Menurut profesor di Universitas Cornell yang mempelajari pernikahan dan keluarga, Karl Pillemer, Ph.D., bukan kebetulan bahwa budaya populer sangat fokus pada hubungan dengan mertua. Ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam tentang keseimbangan kesetiaan pasangan dengan ikatan seumur hidupnya akan kewajiban kepada orang tua, saudara kandung, dan kerabat lainnya.

"Ini bukan kekhawatiran irasional. Penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan mertua adalah penentu utama kebahagiaan perkawinan," jelas Karl Pillemer, Ph.D. dikutip dari Psychology Today.


Itu sebabnya, ada hal-hal yang mesti kita lakukan, untuk bisa mengatasi konflik yang mungkin saja terjadi, baik antara kita dan mertua, maupun dengan saudara ipar. Berikut ini, melansir dari Family Education, 5 cara mengatasi konflik dengan mertua dan ipar.

1. Bekerjasama dengan pasangan

5 Cara Mengatasi Konflik dengan Mertua dan IparFoto: iStock


Ingat, jangan pernah menempatkan pasangan dalam situasi di mana ia harus memilih antara kita dan kerabatnya. Jika kita melakukannya, kita menempatkan pasangan dalam ikatan yang sulit. Sebaiknya, cobalah memahami kondisi pasangan serta hubungannya dengan orang tuanya, saudara kandungnya, dan kakek-neneknya. Jika memungkinkan, cobalah dukung hubungan tersebut, bahkan jika pasangan memiliki orang tua seperti 'neraka', mereka tetaplah orang tuanya.

"Anda mungkin perlu memulai dengan menjelaskan secara lembut, karena segala sesuatu tidak mungkin berubah dalam semalam. Ini dapat dilakukan dengan penuh kasih, tetapi juga tegas," kata psikolog dr.Yvonne K. Fulbright.

2. Tetapkan batas

Bicaralah dengan pasangan untuk memutuskan sesuatu yang dianggap penting dan tidak. Serta tetapkan nilai-nilai keluarga kita, kemudian komunikasikan nilai tersebut pada mertua maupun orang tua kita.

Misalnya, jika mertua ingin berkunjung ke rumah, namun kita benar-benar tidak bisa, maka jelaskan saja via sambungan telepon, sebelum dia benar-benar muncul di depan pintu rumah. Atau ketika kita tidak membolehkan anak untuk makan es krim sebelum makan nasi, namun mertua malah mengizinkannya, jelaskan saja alasan yang logis, kenapa kita tidak suka dengan hal tersebut.

"Secara keseluruhan, pendekatan Anda harus ketat dalam menegakkan batas-batas yang telah Anda buat secara konsisten. Jika situasinya memungkinkan, cobalah bersikap ramah, bijaksana, terus terang dan hormat. Pikirkan bagaimana Anda menangani situasi yang tidak menyenangkan dengan rekan kerja," jelas Fulbright.

3. Berkomunikasi langsung

Kapan pun memungkinkan, hindari berkomunikasi melalui pihak ketiga. Jangan meminta pasangan untuk berbicara dengan saudara perempuannya tentang sesuatu yang dia lakukan yang menyakiti perasaan kita. Bicaralah dengan kakak ipar secara langsung. Jika sesuatu mengganggu, atasi sesegera mungkin. Terkadang itu menjadi masalah, yang sebenarnya mungkin hanya kesalahpahaman.

Seperti sebuah kasus, sebut saja Tori, dia menikah dengan seseorang yang anggota keluarganya lahir di Jerman. Setiap kali, ipar atau mertuanya ke dapur, mereka selalu menutup pintu, dan meninggalkan Tori sendiri di ruang keluarga. Selama bertahun-tahun, ini membuat Tori kesal, dia pun akhirnya bertanya pada ibu mertuanya, mengapa selalu menutup pintu dapur. Rupanya, menutup pintu dapur adalah budaya di Jerman, dan tidak ada hubungannya dengan perasaan tidak suka atau semacamnya.

Nah, kesalahpahaman ini tentunya menyebabkan penderitaan yang tidak disadari oleh Tori maupun mertuanya. Jadi, sebaiknya, jika ada dirasa tidak enak, segera bicarakan saja.

4. Bersikap baik

Bahkan jika kita harus mengertakkan gigi, cobalah mengatakan sesuatu yang baik. Dan jika kita benar-benar tidak bisa mengatakan sesuatu yang baik, tutup mulut dan tersenyum.

5. Menjadi dewasa

Terima fakta bahwa mertua bukanlah seperti orang tua kita. Cobalah berpikir 'berbeda' bukan tentang lebih baik atau lebih buruk. Belajarlah untuk melihat situasi dari sudut pandang mertua. Dan bahkan ketika kita tidak setuju, bersikaplah dewasa, dengan tidak mudah marah dan terpancing emosi.

Simak pula tayangan soal dinamika hubungan mertua dan menantu ini, Bunda.

[Gambas:Video 20detik]

(yun/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi