Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Tren Diet "Makan Plastik" Demi Langsing Viral di China, Pakar Peringatkan Bahaya

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Senin, 02 Mar 2026 12:05 WIB

Egg and cress sandwich on a shelf in plastic wrap
Ilustrasi makanan dibungkus plastik / Foto: Getty Images/iStockphoto/Thomas Faull
Daftar Isi

Bunda sedang diet? Jangan coba yang ekstrem ya, seperti perempuan di China rela makan plastik saat diet. Kisah berikut ini bukan untuk ditiru ya, Bunda.

Tren diet ekstrem kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, warganet di China diramaikan dengan fenomena yang disebut sebagai tren “makan plastik”, yakni aksi mengunyah makanan yang dibungkus plastik tanpa benar-benar menelannya.

Bukan dikonsumsi, makanan tersebut kemudian dimuntahkan kembali demi menghindari asupan kalori. Video-video yang menampilkan praktik ini telah ditonton jutaan kali di berbagai platform media sosial.

Dalam cuplikan yang beredar, para peserta terlihat memasukkan lembaran plastik pembungkus makanan (plastic wrap) ke dalam mulut, lalu menambahkan makanan di atasnya. Mereka mengunyah dengan ekspresi seolah menikmati hidangan, sebelum akhirnya memuntahkan semuanya tanpa menelan sedikit pun.

Fenomena ini memicu kekhawatiran luas, baik dari masyarakat maupun kalangan ahli kesehatan. Banyak pihak menilai tren tersebut bukan hanya tidak efektif, tapi juga berpotensi membahayakan kesehatan fisik dan mental, terutama bagi generasi muda yang mudah terpengaruh tantangan viral.

Tren diet “makan plastik” demi langsing viral di China

Mengutip India Times, berikut tren makan plastik yang viral di China.

Menipu otak agar terasa kenyang

Pendukung tren ini mengklaim bahwa sensasi mengunyah dan merasakan cita rasa makanan dapat 'mengelabui' otak sehingga merasa kenyang, meski tidak ada kalori yang masuk ke tubuh. Konsepnya disebut-sebut mirip dengan kebiasaan mengunyah permen karet untuk menekan nafsu makan, hanya saja dilakukan dalam bentuk yang jauh lebih ekstrem.

Dalam sejumlah video, peserta bahkan menyiapkan hidangan lengkap layaknya makan besar. Namun setelah ritual mengunyah selesai, makanan tersebut langsung dibuang.

Metode ini disebut membantu mereka bertahan selama fase diet ketat tanpa tergoda untuk makan berlebihan. Meski demikian, para ahli gizi menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.

Regulasi nafsu makan melibatkan proses kompleks yang berkaitan dengan hormon, sistem pencernaan, serta asupan nutrisi nyata. Tubuh membutuhkan energi dan zat gizi untuk berfungsi optimal.

Jadi, hanya sekadar meniru gerakan makan tanpa benar-benar menelan makanan tidak akan memberikan rasa kenyang yang berkelanjutan. Bahkan sebagian pakar memperingatkan bahwa praktik tersebut justru dapat memperburuk keinginan makan di kemudian hari.

Ketika tubuh tidak menerima asupan energi yang cukup, rasa lapar bisa datang lebih kuat dan berpotensi memicu makan berlebihan.

Risiko kesehatan dan bahaya mikroplastik

Kritik paling keras terhadap tren ini berkaitan dengan potensi dampak kesehatan. Plastik pembungkus makanan berisiko melepaskan partikel kecil saat dikunyah yang dikenal sebagai mikroplastik.

Meski penelitian mengenai dampak jangka panjang paparan mikroplastik masih terus berkembang, sejumlah temuan awal menunjukkan kemungkinan kaitannya dengan peradangan dan gangguan hormonal. Selain risiko tertelan partikel plastik, tindakan mengunyah benda non-pangan juga dapat melukai mulut dan tenggorokan.

Gesekan plastik yang tidak dirancang untuk dikunyah berulang kali berpotensi menimbulkan iritasi atau luka kecil pada jaringan lunak. Tak hanya itu, persoalan kebersihan turut menjadi sorotan.

Plastik pembungkus makanan tidak dibuat untuk masuk ke dalam rongga mulut dalam waktu lama, terutama dikunyah. Risiko kontaminasi bakteri pun tidak bisa diabaikan.

Mendorong pola makan tidak sehat

Di luar risiko fisik, para pengamat menilai tren ini berpotensi mendorong hubungan yang tidak sehat dengan makanan. Praktik tersebut dianggap mengaburkan batas antara pengendalian pola makan yang wajar dan perilaku makan menyimpang.

Beberapa warganet menyebut tren ini sebagai bentuk misinformasi yang berbahaya karena dipromosikan sebagai solusi cepat menurunkan berat badan tanpa bukti ilmiah. Kekhawatiran juga muncul terhadap remaja yang mungkin meniru aksi tersebut tanpa memahami konsekuensinya.

Fenomena ini sekaligus menyoroti bagaimana ide-ide yang belum teruji bisa dengan cepat menyebar luas ketika dikemas sebagai 'jalan pintas' menuju tubuh langsing. Di era media sosial, tantangan viral kerap mengabaikan aspek keamanan demi sensasi dan jumlah penonton.

Pakar: jangan korbankan kesehatan demi tren

Para ahli sepakat bahwa tidak ada tren viral yang sepadan dengan risiko kesehatan jangka panjang. Penurunan berat badan yang sehat seharusnya dilakukan melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, serta pendampingan profesional jika diperlukan.

Mengandalkan cara instan tanpa dasar ilmiah bukan hanya tidak efektif, tapi juga bisa menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dibanding mengejar hasil cepat, Bunda diimbau untuk lebih kritis terhadap tren kesehatan di media sosial dan memprioritaskan metode yang telah terbukti aman.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda