MOM'S LIFE
Fenomena 'Great Stay': Banyak Pekerja Pilih Bertahan Meski Tidak Bahagia
Arina Yulistara | HaiBunda
Jumat, 03 Apr 2026 17:10 WIBKerabat pilih bertahan di tempat kerja sekarang walau tidak bahagia? Mungkin mengalami yang namanya fenomena great stay. Pahami lebih lanjut yuk, Bunda.
Fenomena pasar tenaga kerja global tengah mengalami pergeseran yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya dunia kerja diwarnai gelombang pengunduran diri massal atau great resignation, kini muncul tren baru yang disebut sebagai 'great stay', yakni kondisi di mana banyak pekerja memilih bertahan tidak resign walaupun tak sepenuhnya merasa puas atau bahagia.
Mengutip CNBC International, perubahan ini mencerminkan dinamika baru di dunia kerja, di mana stabilitas pekerjaan menjadi prioritas utama dibandingkan pencarian peluang baru. Meski terlihat positif dari sisi keamanan kerja, fenomena ini juga menyimpan tantangan tersendiri, terutama bagi pekerja yang merasa terjebak dalam kondisi stagnan.
Mari bahas lebih lanjut mengenai fenomena great stay yang mungkin dialami sahabat, kerabat, keluarga, bahkan Bunda sendiri.
Dari 'Great Resignation' ke 'Great Stay'
Pada periode 2021 hingga 2022, pasar tenaga kerja, khususnya di Amerika Serikat, mengalami lonjakan besar dalam tingkat pengunduran diri. Lebih dari 50 juta pekerja meninggalkan pekerjaan demi mencari peluang yang lebih baik.
Hal ini didorong oleh banyaknya lowongan kerja dan kenaikan upah yang signifikan. Namun kondisi tersebut kini berubah.
Pasar tenaga kerja mulai mendingin, ditandai dengan penurunan tingkat perekrutan dan berkurangnya jumlah lowongan kerja. Tingkat pengunduran diri pun kini bahkan lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi.
Ekonom mencatat bahwa kondisi ini menunjukkan adanya stabilisasi pasar tenaga kerja, di mana perusahaan cenderung mempertahankan karyawan yang ada. Sementara pekerja juga enggan mengambil risiko untuk pindah kerja.
Penyebab fenomena 'Great Stay'
Salah satu faktor utama yang mendorong fenomena ini pengalaman masa lalu perusahaan saat kesulitan merekrut tenaga kerja selama pandemi. Trauma tersebut membuat banyak perusahaan kini lebih berhati-hati dan enggan melakukan pemutusan hubungan kerja.
Di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan bank sentral Amerika Serikat turut berperan besar. Kenaikan suku bunga membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal sehingga perusahaan menahan ekspansi bisnis dan mengurangi perekrutan karyawan baru.
Akibatnya, peluang kerja menjadi lebih terbatas. Kondisi ini menurunkan kepercayaan diri pekerja untuk mencari pekerjaan baru sehingga mereka memilih bertahan meski tidak sepenuhnya puas.
Hal yang terjadi saat mengalami fenomena Great Stay
Fenomena 'Great Stay' menciptakan kondisi unik, yakni tingkat pengangguran tetap rendah dan pemutusan hubungan kerja relatif minim. Namun uniknya, mobilitas tenaga kerja juga ikut menurun.
Bagi Bunda yang sudah memiliki pekerjaan, situasi ini memberikan rasa aman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun bagi pencari kerja, termasuk lulusan baru, tantangan justru semakin besar karena peluang yang tersedia kian sempit.
Pekerja yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya pun menghadapi dilema. Di satu sisi mereka ingin mencari perubahan, namun di sisi lain kondisi pasar membuat langkah tersebut terasa berisiko.
Dampak psikologis
Meski terlihat stabil, fenomena ini tidak selalu berdampak positif bagi kesehatan mental pekerja. Banyak dari Bunda yang memilih bertahan namun justru mengalami penurunan motivasi, kejenuhan, hingga stres berkepanjangan.
Ahli perilaku kerja menilai bahwa tekanan dari kondisi global, ketidakpastian ekonomi, serta pengalaman masa pandemi masih membekas pada banyak pekerja. Hal ini membuat mereka lebih memilih “aman” dibandingkan mengambil risiko, meski harus mengorbankan kepuasan kerja.
Cara menghadapi fenomena Great Stay
Dalam menghadapi kondisi ini, perusahaan dan manajer memiliki peran penting untuk menjaga kesejahteraan karyawan. Pendekatan berbasis empati menjadi kunci dalam mempertahankan produktivitas sekaligus kesehatan mental tim.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Lebih peka terhadap kondisi karyawan
Manajer perlu mengurangi asumsi dan lebih banyak mengamati kondisi nyata karyawan tanpa harus memaksa mereka untuk berbagi secara mendalam.
2. Memahami energi sosial karyawan
Tidak semua karyawan memiliki kapasitas emosional yang sama setiap hari. Perusahaan perlu memahami batas energi ini, bukan hanya menilai dari hasil kerja.
3. Fokus pada seseorang, bukan hanya situasi global
Pendekatan personal dinilai lebih efektif dibandingkan pernyataan umum yang bersifat formalitas.
4. Gunakan rasa ingin tahu, bukan interogasi
Pertanyaan terbuka, seperti “Apa yang bisa saya bantu hari ini?” dapat menciptakan ruang komunikasi lebih sehat.
5. Ciptakan rutinitas kecil yang peduli
Bunda bisa menciptakan rutinitas keci. Misalnya saja, check-in ringan sebelum rapat atau memberikan fleksibilitas kerja seperti hari tenang dan kerja asinkron.
Selain itu, menyederhanakan proses kerja, mengurangi tekanan yang tidak perlu, serta memberikan ruang bagi karyawan untuk mengatur ritme kerja juga dapat membantu menurunkan beban emosional.
Bagi Bunda yang merasa terjebak dalam situasi 'great stay”, para ahli menyarankan untuk tetap proaktif. Salah satu langkah penting dengan memperluas keterampilan dan membuka diri terhadap peluang baru, meskipun tidak langsung berpindah pekerjaan.
Meningkatkan kompetensi dapat menjadi bekal penting ketika kondisi pasar tenaga kerja kembali membaik di masa depan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)Simak video di bawah ini, Bun:
Mengenal Fenomena Job-pocalypse yang Mengancam Dunia Kerja Gen Z
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
10 Cara Bisa Bahagia di Tempat Kerja, Biar Pulang ke Rumah Enggak Ngomel Bun
5 Tips Agar Tak Didiskriminasi saat Jadi Perempuan Satu-satunya di Tempat Kerja
Prediksi Zodiak Hari Ini, Wah Ada Tawaran Proyek Menarik Nih Buat Aries
Catat Bun, Ini 5 Pertanyaan yang Bisa Diajukan ke HRD saat Wawancara Kerja
TERPOPULER
7 Ciri Perempuan dengan Kecerdasan Emosional Tinggi, Bikin Nyaman di Sekitarnya
Anak Balita Disarankan Batasi Screen Time 1 Jam per Hari, Ini Alasannya
7 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Deep Talk, Punya Empati Tinggi
Perubahan Otak Ibu Hamil Ternyata Bermanfaat untuk Merawat Bayi Baru Lahir
Alasan Bunda Wajib Ajak Si Kecil Nonton Na Willa
REKOMENDASI PRODUK
3 Rekomendasi Baju Anak Perempuan yang Terinspirasi dari Para Pemeran Na Willa
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kompor Listrik yang Awet dan Cocok untuk Dapur Modern
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Berminyak, Sudah Coba Bunda?
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Obat Lambung untuk Ibu Hamil yang Aman Tersedia di Apotek
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
26 Rekomendasi Merek Sepatu Terkenal Branded Asal Indonesia & Luar Negeri, Bagus & Awet
Natasha ArdiahTERBARU DARI HAIBUNDA
Momen Ultah ke-14 King Faaz Anak Fairuz A Rafiq, Sang Bunda Bikin Kue Spesial
Doa Buka Puasa Senin Kamis Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
7 Ciri Perempuan dengan Kecerdasan Emosional Tinggi, Bikin Nyaman di Sekitarnya
Anak Balita Disarankan Batasi Screen Time 1 Jam per Hari, Ini Alasannya
Perubahan Otak Ibu Hamil Ternyata Bermanfaat untuk Merawat Bayi Baru Lahir
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
8 Drakor Terbaru dengan Episode Paling Banyak
-
Beautynesia
7 Rekomendasi Film Inspiratif yang Memotivasi untuk Bangkit, Siap Jadi Tontonan Long Weekend!
-
Female Daily
Ju Ji Hoon dan Ha Ji Won Terjebak Intrik Politik di Dunia Hiburan dalam ‘Climax’!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Potret Olla Ramlan Olahraga Aerial Hoop, Pakai Busana Backless Serba Hitam
-
Mommies Daily
10 Rekomendasi Suplemen Ibu Menyusui, Lengkap dengan Manfaat dan Harganya