moms-life
Johatsu, Fenomena Menghilang Tanpa Jejak yang Diam-diam Terjadi di Jepang
HaiBunda
Rabu, 08 Apr 2026 17:40 WIB
Daftar Isi
- Johatsu adalah fenomena menghilang tanpa jejak di Jepang
- Asal-usul istilah Johatsu dan sejarah kemunculannya di Jepang
- Alasan banyak orang memilih menjadi Johatsu
- Peran “Night Movers” dalam fenomena Johatsu
- Kehidupan baru para Johatsu setelah menghilang
- Dampak fenomena Johatsu bagi keluarga yang ditinggalkan
Fenomena Johatsu mungkin masih terdengar sangat asing di telinga Bunda. Namun di Jepang, istilah ini merujuk pada fenomena orang-orang yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya tanpa kabar sama sekali.
Sekilas, Johatsu terdengar seperti cerita misteri yang hanya ada di film atau novel. Padahal, fenomena ini benar-benar ada dan menjadi salah satu sisi kehidupan di Jepang yang jarang disorot.
Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Johatsu dan bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut, Bunda.
Johatsu adalah fenomena menghilang tanpa jejak di Jepang
Dilansir dari laman Times of India, fenomena Johatsu merujuk pada orang-orang di Jepang yang secara sengaja menghilang dari kehidupan mereka tanpa memberi kabar kepada keluarga atau teman. Kata 'Johatsu' sendiri berasal dari Bahasa Jepang yang berarti 'menguap'. Hal tersebut menggambarkan seseorang yang seolah lenyap begitu saja dari kehidupan sosialnya.
Dalam fenomena Johatsu, seseorang biasanya meninggalkan pekerjaan, rumah, bahkan identitas lamanya untuk memulai hidup baru di tempat lain. Mereka memilih untuk menghilang secara diam-diam demi memutus hubungan dengan masa lalu yang dianggap menyakitkan atau menakutkan.
Dalam laporan kepolisian yang dikutip oleh situs TIME, terdapat sekitar 82.000 orang yang dilaporkan hilang pada tahun 2015, meski sebagian besar akhirnya ditemukan kembali. Namun, organisasi nirlaba Missing Persons Search Support Association, menyebutkan angka sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi dari laporan resmi. Mereka memperkirakan jumlah orang yang menghilang bisa mencapai ratusan ribu jika termasuk kasus yang tidak dilaporkan.
Fenomena Johatsu akhirnya menjadi topik yang menarik perhatian media dan peneliti sosial. Kisah orang yang menghilang secara sukarela ini menunjukkan sisi lain kehidupan modern Jepang yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Asal-usul istilah Johatsu dan sejarah kemunculannya di Jepang
Istilah Johatsu mulai dikenal luas di Jepang sejak sekitar tahun 1960-an. Kata ini digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang memilih menghilang dari kehidupan lama mereka tanpa meninggalkan jejak.
Fenomena Johatsu kemudian semakin sering dibicarakan pada tahun 1990-an, terutama ketika Jepang mengalami krisis ekonomi dan banyak orang menghadapi tekanan finansial. Situasi tersebut membuat sebagian orang merasa lebih mudah untuk menghilang daripada menghadapi kegagalan secara terang-terangan.
Dalam laporan TIME, seorang jurnalis asal Prancis, Lena Mauger, meneliti fenomena Johatsu dan menyebutnya sebagai “evaporated people” atau orang yang menguap dari kehidupan sosial. Ia menulis bahwa banyak orang yang meninggalkan pekerjaan, alamat, dan keluarga untuk memulai kehidupan baru tanpa identitas lama.
Penelitian tentang Johatsu juga menunjukkan bahwa fenomena ini berkaitan dengan budaya rasa malu yang cukup kuat dalam masyarakat Jepang. Dalam budaya tersebut, kegagalan pribadi seseorang sering dianggap memalukan sehingga sebagian orang memilih untuk menghilang.
Oleh karena itu, fenomena Johatsu tidak hanya dilihat sebagai kasus orang hilang biasa. Banyak peneliti menganggapnya sebagai cerminan kondisi sosial dan tekanan budaya yang ada dalam masyarakat Jepang modern.
Alasan banyak orang memilih menjadi Johatsu
Ada berbagai alasan mengapa seseorang memilih menjadi Johatsu dan menghilang dari kehidupannya. Banyak di antaranya berkaitan dengan tekanan sosial, masalah karier yang gagal, hingga masalah keuangan yang sulit dihadapi secara terbuka.
Dalam sumber yang sama, seorang profesor sosiologi dari Oxford University's Nissan Institute, Takehiko Kariya, menjelaskan bahwa budaya kerja Jepang yang sangat menuntut dapat mendorong seseorang merasa terjebak. Ia mengatakan bahwa semua orang di Jepang saling mengawasi satu sama lain.
"Semua orang saling mengawasi sepanjang waktu. Tidak ada jalan keluar, tidak ada pelarian,” kata Takehiko Kariya.
Selain tekanan pekerjaan, masalah seperti utang, kecanduan judi, atau konflik keluarga juga sering menjadi pemicu seseorang menjadi Johatsu. Beberapa orang merasa bahwa menghilang adalah cara paling mudah untuk memulai hidup baru tanpa beban masa lalu.
Seorang jurnalis lainnya yang berbasis di Jepang, Jake Adelstein, bahkan mengatakan bahwa bagi sebagian orang, menghilang bisa terasa seperti pilihan yang lebih baik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fenomena Johatsu sering kali lahir dari tekanan psikologis seseorang yang sangat besar. Ketika seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar, menghilang bisa tampak seperti satu-satunya pilihan.
Peran “Night Movers” dalam fenomena Johatsu
Fenomena Johatsu juga didukung oleh keberadaan perusahaan khusus yang dikenal sebagai night movers atau yonige-ya. Perusahaan ini membantu orang menghilang secara diam-diam dari rumah atau lingkungan mereka.
Salah satu tokoh yang sering disebut adalah Miho Saita, CEO Yonigeya TS Corporation, perusahaan yang membantu orang memulai kehidupan baru secara rahasia. Ia menjelaskan bahwa banyak klien yang datang karena ingin melarikan diri dari utang, kekerasan rumah tangga, atau tekanan hidup.
Menurut Saita, perusahaan seperti miliknya menerima sekitar 5-10 permintaan setiap hari dari orang yang ingin menghilang. Namun tidak semua permintaan dipenuhi karena sebagian orang hanya membutuhkan konseling atau bantuan secara hukum.
Jika proses penghilangan dilakukan, tim biasanya memindahkan barang klien secara diam-diam pada malam hari agar tidak menarik perhatian. Biaya layanan ini berkisar antara Rp5,3 juta hingga Rp32 juta, tergantung jarak dan jumlah barang yang dibawa.
Kehidupan baru para Johatsu setelah menghilang
Setelah menghilang, kehidupan seorang Johatsu biasanya berlangsung secara anonim dan penuh kehati-hatian. Mereka sering berpindah ke kota lain dan hidup dengan identitas baru agar tidak ditemukan.
Beberapa orang yang menjadi Johatsu memilih tinggal di tempat-tempat murah seperti hotel kecil, warnet, atau kawasan pekerja harian. Tempat-tempat ini memungkinkan mereka untuk hidup tanpa banyak pertanyaan tentang identitas pribadi.
Dalam penyelidikan yang dilakukan oleh seorang detektif swasta asal Jepang, Masashi Kikuchi, banyak orang yang menghilang ditemukan di lokasi-lokasi seperti stadion, sekolah lama, atau tempat yang memiliki kenangan bagi mereka.
Meski terlihat seperti awal yang baru, kehidupan Johatsu sering dipenuhi rasa kesepian dan ketakutan akan ditemukan. Mereka harus menjaga jarak dari keluarga dan masa lalu demi mempertahankan identitas baru.
Fenomena ini menunjukkan bahwa menjadi Johatsu bukan berarti bebas dari masalah. Banyak orang justru harus hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui mereka.
Dampak fenomena Johatsu bagi keluarga yang ditinggalkan
Fenomena Johatsu tidak hanya berdampak pada orang yang menghilang, tetapi juga pada keluarga yang ditinggalkan. Ketika seseorang tiba-tiba menghilang, keluarga sering kali tidak mengetahui apakah orang tersebut masih hidup atau tidak.
Banyak keluarga kemudian menyewa detektif swasta untuk mencari anggota keluarga yang hilang. Di Jepang sendiri terdapat ribuan agen detektif yang sebagian pekerjaannya berkaitan dengan kasus orang menghilang.
Namun pencarian tersebut tidak selalu berhasil. Dalam beberapa kasus, detektif hanya menemukan jejak terakhir seperti mobil yang ditinggalkan atau lokasi terakhir yang dikunjungi orang tersebut.
Ketidakpastian ini sering membuat keluarga mengalami tekanan emosional yang sangat berat. Mereka harus hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab tentang keberadaan orang yang mereka cintai.
Bunda, itulah penjelasan mengenai fenomena Johatsu. Fenomena Johatsu sering dianggap sebagai tragedi sosial. Bukan hanya orang yang menghilang yang harus memulai hidup baru, tetapi juga keluarga yang harus menerima kehilangan tanpa penjelasan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Fenomena Jouhatsu di Jepang, Menghilang dan Ganti Identitas untuk Kehidupan Baru
Mom's Life
Mengenal Prinsip Orang Jepang yang Bisa Bikin Panjang Umur
Mom's Life
Cerita Istri Jepang Pilih Tinggal di Indonesia, Takjub Lihat Motor Bonceng 4
Mom's Life
5 Kebiasaan Baik yang Dilakukan Orang Jepang, Bisa Dicontoh Nih Bun
Mom's Life
Tanaman Hias Bola Lumut, Unik dan Kaya Manfaat
7 Foto
Mom's Life
Mudik ke Jepang, Ini 7 Potret Yuki Kato Liburan Bareng Keluarga Lihat Bunga Sakura
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Unik Bun! di Jepang ada Jasa Pria Tampan Hapus Air Mata
Fenomena Unik di Korea, Orang Kaya Ramai-ramai Mau jadi 'Miskin'
10 Fenomena Langit Februari 2026 Padat Agenda, dari Snow Moon-Gerhana Matahari Cincin