Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Middle Manager Jadi Pekerja Paling Rentan Burnout, Ini Dampaknya bagi Otak

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Jumat, 29 May 2026 19:10 WIB

Young adult businesswoman screaming in frustration, feeling overwhelmed and stressed from a large stack of paperwork and long working hours
Ilustrasi middle manager jadi pekerja paling rentan burnout / Foto: Getty Images/parichat wongyai
Daftar Isi

Bunda kini di level middle manager? Tak heran jika sering burnout. Pahami dampaknya bagi otak Bunda.

Posisi middle manager atau manajer menengah kini disebut sebagai salah satu pekerjaan yang paling rentan mengalami burnout. Tekanan dari atasan yang menuntut hasil cepat, ditambah kebutuhan tim yang memerlukan dukungan emosional dan arahan membuat kelompok pekerja ini berada di titik paling rawan stres berkepanjangan.

Seorang eksekutif perusahaan besar bahkan mengaku mengalami mimpi buruk karena tekanan pekerjaan yang tak kunjung berhenti. Ia merasa tidak bisa mengungkapkan kelelahan yang dialami karena seorang pemimpin dianggap tidak boleh terlihat rapuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Fenomena ini disebut sebagai krisis burnout middle manager. Dampaknya bukan hanya pada performa kerja, melainkan juga pada kesehatan otak dan sistem saraf. Mengutip Forbes, mari bahas mengenai dampak kesehatan otak jika Bunda sering mengalami burnout di tempat kerja. 

Middle manager terjebak di tengah tekanan

Middle manager berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, pimpinan perusahaan meminta hasil, efisiensi, hingga transformasi bisnis dalam waktu cepat.

Sementara di sisi lain, karyawan membutuhkan dukungan, perhatian, dan waktu untuk beradaptasi terhadap berbagai perubahan. Kondisi tersebut membuat para manajer menengah harus menanggung dua tekanan sekaligus.

Data menunjukkan sebanyak 53 persen middle manager merasa kewalahan hampir sepanjang waktu. Bahkan 40 persen mengaku stres mental meningkat setelah mendapatkan promosi jabatan.

Banyak perusahaan dinilai belum memberikan pelatihan kepemimpinan yang memadai setelah promosi. Hal ini menyebabkan pekerja yang sebelumnya unggul secara teknis langsung dituntut mampu memimpin tim tanpa bekal cukup.

Tekanan semakin besar ketika perusahaan mulai memangkas struktur organisasi dan menerapkan efisiensi berbasis kecerdasan buatan atau AI. Banyak posisi manajerial dikurangi, sementara tugas yang tersisa dibebankan kepada manajer yang masih bertahan.

Situasi ini membuat middle manager terus mendengar tuntutan 'melakukan lebih banyak dengan sumber daya lebih sedikit'.

Dampak burnout terhadap otak

Burnout pada middle manager ternyata bukan sekadar masalah kelelahan kerja biasa. Kondisi ini juga memengaruhi cara kerja otak.

Di dalam otak terdapat bagian bernama amigdala yang berfungsi mendeteksi ancaman. Dalam kondisi normal, amigdala membantu seseorang bereaksi terhadap bahaya lalu kembali tenang setelah ancaman berlalu.

Pada middle manager, tekanan pekerjaan terjadi hampir tanpa jeda. E-mail, rapat, hingga panggilan dari atasan maupun bawahan bisa terasa seperti ancaman yang terus menerus datang.

Akibatnya, amigdala terus berada dalam kondisi siaga tinggi dan memicu produksi hormon stres kortisol secara berlebihan. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat mengganggu fungsi prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, berpikir logis, dan mengendalikan emosi.

Inilah yang membuat banyak manajer sulit tidur, mudah cemas, cepat marah, hingga kesulitan fokus. Para ahli menyebut kondisi tersebut sebagai survival mode, yaitu keadaan ketika otak merasa terus berada dalam ancaman sehingga tidak pernah benar-benar beristirahat.

'Menular' di lingkungan kerja

Tekanan mental yang dialami middle manager tidak berhenti pada diri mereka sendiri. Stres yang terus menumpuk dapat memengaruhi suasana kerja satu tim.

Pemimpin yang dipenuhi kecemasan cenderung menciptakan budaya kerja yang penuh tekanan. Karyawan bisa merasakan emosi tersebut meski tidak diucapkan secara langsung.

Untuk itu, burnout middle manager kini dianggap sebagai masalah perusahaan, bukan sekadar persoalan individu.

Pelatihan kepemimpinan dinilai belum efektif

Banyak perusahaan sebenarnya sudah menyediakan pelatihan kepemimpinan. Namun program tersebut dinilai belum menyentuh akar masalah.

Sebagian besar pelatihan hanya fokus pada strategi, delegasi tugas, dan target bisnis. Padahal kondisi mental para manajer sering kali sudah terlalu lelah untuk menerima materi baru.

Hanya 37 persen middle manager yang mendapatkan pelatihan saat promosi pertama. Setelah itu, sekitar 74 persen mengaku jarang, bahkan tidak pernah lagi menerima pengembangan kemampuan kepemimpinan.

Hal ini membuat banyak manajer datang ke sesi pelatihan dalam kondisi kelelahan berat. Mereka mungkin mendengarkan materi dan mencatat, tapi sulit menerapkannya karena otak berada dalam mode bertahan hidup.

Solusi

Berikut solusi yang bisa Bunda lakukan.

1. Berikan pekerja waktu istirahat yang cukup

Para pakar menilai perusahaan perlu mulai memperhatikan kondisi sistem saraf dan kesehatan mental middle manager sebelum menuntut produktivitas lebih tinggi. Dukungan yang dibutuhkan bukan hanya cuti formal, melainkan waktu pemulihan yang benar-benar memungkinkan pekerja beristirahat tanpa gangguan pekerjaan.

Beberapa perusahaan mulai mencoba pendekatan baru, seperti mengurangi jumlah rapat agar manajer punya waktu berpikir lebih tenang, membuka ruang diskusi soal beban kerja, hingga mendorong pimpinan perusahaan rutin memeriksa kondisi mental middle manager.

2. Latihan pernapasan

Latihan sederhana seperti teknik pernapasan dalam selama dua menit sebelum rapat penting atau percakapan sulit juga disebut dapat membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi stres. Selain itu, sejumlah organisasi mulai memperjelas tanggung jawab middle manager agar mereka tidak menjadi 'tempat pembuangan' semua masalah perusahaan.

Dengan tekanan kerja yang terus meningkat, perhatian terhadap kesehatan mental middle manager kini menjadi hal penting. Jika dibiarkan, burnout bukan hanya merugikan individu, namun bisa memengaruhi budaya kerja dan produktivitas perusahaan secara keseluruhan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda