parenting

Saat Anak Bicara Kasar, Jangan Langsung Marah Ya, Bun

Melly Febrida Selasa, 16 Jan 2018 18:08 WIB
Saat Anak Bicara Kasar, Jangan Langsung Marah Ya, Bun
Jakarta - Suka kaget saat mendapati anak-anak usia dua tahun berbicara kotor atau kasar. Memang, anak-anak bisa belajar dari mana saja. Saat mendengar si kecil mengucap kata kotor atau kasar, bagaimana Bunda meresponsnya?

Kata para ahli, anak-anak sebelum berusia 6 tahun memang kerap mengucapkan kata-kata kasar atau umpatan, Bun. Tapi anak-anak itu terkadang nggak tahu juga apa arti dari ucapannya. Kita sebagai orang tua jangan langsung murka dulu dan menyamaratakan artinya dengan yang diucapkan orang dewasa.

"Seringkali mereka hanya sekadar mengucapkan karena sering mendengar, padahal tidak paham arti sebenarnya," kata Michael Grose, parent educator dalam buku 'Parents Guide Growing Up Usia 2 Tahun'.


Seringnya Bun, kata Michael, anak-anak itu hanya ingin melihat reaksi orang yang mendengarnya. Apalagi kebanyakan reaksi yang muncul selain ekspresi kaget adalah tertawa geli yang bercampur heran. Justru tindakan itu yang membuat anak-anak senang sehingga sering mengucapkan kata kasar.

Kathy L Reschke, profesor spesialis tumbuh kembang anak dari Ohio State University mengatakan dalam usia belajar, terutama usia prasekolah, anak akan mudah menyerap berbagai macam frasa yang didengarnya dan menirunya.

Meniru lingkungan itu menjadi tahap imitasi yang memang dilalui usia prasekolah. Karena pada tahap ini, aspek sensomotorik anak diasah. Anak-anak akan mengandalkan pikirannya pada apa yang dilihat, diamati, dan dirasakan.



Jadi, kalau dalam keluarga atau kelompok bermainnya ada salah seorang yang cukup dominan dan sering berbicara kotor, maka akan cepat menular ke anak lain, Bun. Meskipun memang makna kata yang mereka lontarkan juga belum tentu dipahami.

Menyikapi anak yang bicara kasar/Menyikapi anak yang bicara kasar/ Foto: Thinkstock


Kalau Bunda mendapati si kecil berkata yang nggak sepantasnya, jangan langung panik atau marah, apalagi sampai menghukumnya. Michael dan Kathy punya tips agar kita bisa menyikapinya dengan bijak:

1. Jangan Ada Hukuman

Hindari menghukumnya, Bun, karena anak belum tahu artinya. Apalagi kalau sampai memukulnya, meski tujuannya agar anak jera. Tindakan kekerasan mungkin akan menghentikannya mengucapkan satu kata kasar atau kotor, tapi akan meninggalkan trauma.

2. Teladan

Tahap imitasi yang dilalui anak membuatnya meniru lingkungan. Jadi kita perlu banget nih memastikan diri untuk memberikan contoh yang santun dan berkata-kata dengan baik.

3. Lingkungan

Saat anak berkata kasar atau kotor, perlu juga mengamati lingkungan di sekitarnya Bun, termasuk saudara, pengasuh, atau teman bermain. Kalau anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh di rumah, luangkan waktu untuk mencari tahu apakah si pengasuh 'bersih' dari kata-kata kotor.

Kalau pengaruh buruknya dari teman main, sebaiknya menjauhkan si kecil dari si temannya itu. Tapi jangan lupa beri penjelasan tentang alasan kita memisahkan si kecil dari teman bermainnya. Menjauhkan akan lebih baik dalam melindungi buah hati ketimbang mengubah sikap anak orang lain.

4. Jangan Berlebihan

Anak terkadang berkata kotor agar mendapat perhatian. Kalau mendengar si kecil berkata kotor, tetap tenang ya, Bun. Jangan memperlihatkan reaksi berlebihan, sekalipun kita kaget bercampur geli dan ingin tertawa.

5. Penjelasan

Kita jangan hanya melarang mengucapkan kata kotor tapi juga menjelaskan bahwa kata tersebut maknanya tidak baik. Tentu saja menjelaskannya dengan bahasa yang membumi agar mudah dimengerti.

Misalnya saat mendapati si kecil mengumpat denga menyebut "monyet," maka kita bisa bilang, "Adik jangan ngomong seperti itu lagi ya. Monyet itu kan binatang, sedangkan kita manusia. Masa disamakan dengan binatang. Nanti kalau dia marah nggak mau temenan lagi, Adik kan sedih. Jangan diulangi lagi ya,".



Pengaruh Media dan Orang Tua

Kalau si kecil suka menonton televisi, ini yang sulit dibendung. Keseharian anak yang diisi dengan menonton televisi bisa menjadi gerbang menambah perbendaharaan kata yang kotor dan kasar dari mulut anak.

Apalagi sekarang marak tayangan langsung yang tanpa sensor. Kadang terselip lelucon pembawa acara yang spontan melontarkan lelucon yang kasar. Nggak cuma itu, Bun, tayangan untuk anak juga ada yang berisi celetukan kasar lho.

"Selain lebih selektif memilih tayangan acara televisi, dampingi selalu anak ketika menonton. Jika ada kosakata yang tidak pantas diucapkan, orang tua bisa langsung menjelaskan bahwa itu tidak baik," kata Michael.

Selain televisi, orang tua juga harus konsisten dan mengontrol diri. Kalau kita melarang anak berkata kasar, jangan sampai ketika menyetir dalam perjalanan yang panjang kita malah mengumpat. Kalau begini, larangan yang kita sampaikan jadi sia-sia deh.

Terapis wicara di RS Harapan Kita dan Rumah Terapi, Rita Rahmawati A.md. TW, S.Pd mengatakan anak-anak akan mencontoh apa kata-kata yang sering diucapkan orang di sekitarnya. "Makanya orang tua dan orang dewasa harus hati-hati banget deh ngomongnya. Kalau orang tua biasa ngomong kasar, anak ya bisa nyontoh orang tuanya bicara kasar," kata Rita saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu yang lalu. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi